Selasa, 15 Juli 2014

I Love You, Because My Little Cat Chapter 11 (End)

I love you, because my little cat

Story/Author : Hyuugazumaki

Chapter :11/11 (end)

Rate : M

Hinata membelai pipi merah Ryuki yang kini sudah tidur disampingnya, dengan nafas yang teratur makhluk kecil yang rupawan itu tampak tenang.

Sementara Hinata bisa sedikit lega melihat putranya akhirnya bisa tidur dengan nyenyak.

Tak seperti satu jam yang lalu, dimana ia harus menenangkan Ryuki dengan mati-matian.

Beruntung Hinata memiliki kakak seperti Neji, yang dengan tanggap mengerti apa yang harus dilakukanya.

Walau harus menanyai Hinata hal yang tidak sopan, Neji terpaksa melakukanya. Menanyai Hinata soal baju yang kemarin dikenakan Hinata saat bergumul dengan Naruto. Sungguh hal ini sangat tidak sopan dilakukan oleh seorang Hyuuga Neji, tapi itu terpaksa demi keponakan kecilnya. Yah walau akhirnya Hinata menjawab dengan pipi yang semerah kepiting rebus, setidaknya Neji bisa mengatasi masalah rewelnya Ryuki dengan menanyakan hal memalukan seperti itu.

Dugaan Neji benar, baju berwarna merah milik Hinata yang masih kotor itu masih ada aroma tubuh Naruto, yah walaupun sedikit.

Tapi semua tau, bayi itu sensitif, sampai penciumanya juga sensitif. Mungkin hanya Ryuki yang bisa mencium wangi Naruto dibaju merah Hinata yang kini ada disamping Ryuki, buktinya hanya dengan mendekatkan baju itu, Ryuki jauh lebih tenang.

Hinata tersenyum saat memandang Ryuki, rambut kuning makhluk menggemaskan itu mengingatkan pada ayah biologisnya. Lalu Hinata membelai baju berwarna merah itu, pipinya memerah mengingat Naruto. Mengingat saat wajah Naruto begitu dekat dengan wajahnya. Saat seperti itu adalah saat yang mendebarkan bagi Hinata.

Hinata bangun dari tidurnya, kemudian berjalan mendekati laci disamping tempat tidurnya dan mengambil sesuatu.

Tersenyum Hinata memandangi benda yang ternyata adalah sebuah foto, diusapnya permukaan kaca foto itu dengan lembut.

Dan Hinata membawa foto itu kembali ketempat tidurnya, masih dengan senyum yang mengembang diwajahnya, Hinata mengusap wajah pria tampan difoto itu. Foto yang memperlihatkan dirinya dengan baju pengantin, sedang dicium keningnya oleh pengantin pria.

"Sedang apa kau Naruto-kun?" Lirihnya pelan, memeluk bingkai berfoto itu, foto dirinya dan Naruto dipernikahan itu. lalu memejamkan matanya berlahan.

Sementara ditempat Naruto, Naruto juga memikirkan Hinata, foto yang sama dengan Hinata ia peluk.

"Oyasuminasai_," Naruto memejamkan matanya, dibenaknya terlintas senyum manis Hinata."_Hinata-chan." Dan terlelap berlahan dengan senyum diwajah tampanya.

.

.

.

"Dobe pinjam pulpenmu sebentar." Pinta Sasuke tanpa melihat Naruto yang tampak kusut, Sasuke terlihat sibuk dengan buku bacaanya.

Naruto yang sibuk melamun menopang dagunya dengan kedua tanganya melirik Sasuke malas, dan dengan malas pula Naruto memberikan pulpen yang sedari tadi ia gigit seperti sedang merokok.

Mereka duduk disebuah kafe menikmati hot capuchino sambil mengerjakan tugas kuliah.

Walau sebenarnya Naruto sedari tadi hanya melamun dengan wajah suram.

"Bisa ambilkan buku disampingmu itu Dobe?" Pinta Sasuke beberapa saat kemudian.

Dengan respon yang sama Naruto menyodorkan buku yang diminta Sasuke dan kembali dengan kegiatan melamunya.

"Dobe bisa kau pesankan aku seporsi frenchfries? Aku sedang tanggung." Lagi-lagi Sasuke memerintah.

"Brengsek! Kau menggangguku dari tadi Teme!" Naruto bangkit dari duduknya kesal.

Sasuke mendongak, memperhatikan wajah kesal Naruto. Dan melirik sekeliling, ternyata beberapa orang memperhatikan Naruto dan Sasuke.

"Ada apa? Kenapa kau marah? Aku hanya minta tolong." Tanya Sasuke malas.

"Jangan ganggu aku!" Jawab Naruto.

"Hn? Kau ini kenapa?" Tanya Sasuke lalu kembali membolak-balik bukunya. "Sensitif sekali, seperti gadis yang baru saja datang bulan." Lanjutnya, sembari menyesap capuchinonya yang mulai dingin. "Duduklah, kita terlihat seperti Yaoi yang sedang bertengkar, apa kau tidak malu?" Ucap Sasuke yang sibuk dengan bukunya.

"Brengsek! Kau tidak mengerti!" Naruto lalu mengambil tasnya dan pergi begitu saja meninggalkan Sasuke.

"Hn? Bodoh!" Ucap Sasuke menanggapi kepergian Naruto.

.

.

.

Langit kini sudah mulai berwarna jingga, dan burung-burung berterbangan untuk kembali kesarangnya.

Disana Naruto duduk tanpa alas diatas sebuah gedung tua, tempat biasa yang ia singgahi dengan Sasuke waktu sekolah dulu.

Rambut kuningnya acak-acakan tertiup angin sore, manik safirnya menatap matahari yang mulai menghilang.

"Sudah kuduga kau kemari." Sebuah suara yang sangat ia kenal tiba-tiba mendekat.

Naruto hanya memiringkan bibirnya sinis mendengarnya.

Pemuda berambut raven itu duduk disamping Naruto, dan membiarkan tas hitamnya tergeletak begitu saja.

"Aku tidak seperti melihat Naruto didalam dirimu_" Ucapnya, membetulkan duduknya. "Kau terlihat lebih bodoh dari sebelumnya." Lanjut Sasuke.

Namun Naruto masih tak bergeming, memilih tetap menatap matahari yang benar-benar akan tenggelam.

"Hei! Aku mengajakmu bicara!" Bentak Sasuke tak sabaran.

"Sejak kapan kau jadi banyak bicara, Uchiha Sasuke?!" Bentak Naruto kembali. "Jika kau hanya mengejeku, lebih baik kau pergi dari sini!"

"Kau bodoh Dobe! akui saja kau mencintai Hinata, dan bawa pulang dia kerumahmu, maka kau tidak akan seperti ini." Ucap Sasuke.

"Tch! Aku tidak sedang memikirkanya." Jawab Naruto.

"Lalu apa?, kau tidak punya bakat berbohong, dasar bodoh." Ejek Sasuke lagi.

"Eh..aku, aku sedang memikirkan Ryuki." Jawab Naruto lagi.

"Ryuki dan Ibunya_" Sasuke kini juga memandang matahari yang sudah mulai hilang, hanya tertinggal semburat warna jingga dilangit. "_Sebagai temanmu, aku hanya bisa menyarankan. Bawalah mereka pulang." Lanjut Sasuke.

"Kau tidak meng_"

"Kau takut pada Hiashi-san?" Sasuke memotong kalimat Naruto.

"Kalau aku jadi kau, aku akan membawa anak dan istriku pulang bersamaku, walau harus melawan harimau yang tak mungkin kukalahkan_" Sasuke mencoba menasehati Naruto "_Kurasa kalau masalah bersemangat kau ahlinya, kenapa kau sekarang jadi begini?"

"Iyaaa aku tau, kau cerewet sekali Teme! Kurasa porsi bicaramu sekarang bertambah." Lirik Naruto ke Sasuke.

"Hn, aku baru saja mengajak Sakura makan, dia banyak bicara. Mungkin aku tertular." Canda Sasuke.

"Ha? Kalian kencan?" Selidik Naruto,

"Tidak! Itachi meninggalkanya dipinggir jalan, dan aku mengantarnya membicarakanmu dengan Hinata."

"Eh? maksudmu?" Naruto tidak mengerti

"Sudahlah, kita bicarakan itu nanti, yang jelas Ryuki mencarimu sepanjang malam, kau tidak mau kan membuat Hinata dan Ryuki malam ini tidak tidur lagi?" Jelas Sasuke.

"Ryuki-chan..."

"Jemputlah mereka Naruto." Perintah Sasuke.

"Kau yakin Hinata mau?"

"Percayalah, Hinata berharap kau menjemputnya"

"Kalau begitu, aku akan kesana Teme!"

"Baik, semoga berhasil Dobe."

"Terima kasih."

Naruto berlari meninggalkan Sasuke, menuruni satu persatu anak tangga gedung tua yang sudah retak itu.

Tekadnya sudah bulat, membawa Hinata dan Ryuki pulang seperti kata Ayah dan sahabatnya, Naruto berjanji akan menjaga keluarga kecilnya, tidak akan membiarkan perceraian itu terjadi.

Naruto membuka pintu jaguar hitamnya dengan terburu-buru, dan masuk kedalam mobil mewah itu segera, lalu mobil-pun melesat.

Dari atas bangunan, Sasuke tersenyum melihat mobil Naruto bergerak meninggalkan area gedung tua itu.

"Kali ini aku percaya kau Naruto." Kata Sasuke yakin.

.

.

.

Tidak perlu waktu yang lama untuk Naruto sampai dirumah mewah bercat putih dan ungu itu, dengan plat mobil yang sudah terdaftar dilist tamu penting keluarga Hyuuga, Naruto dengan mudah mendapat ijin memasuki halaman rumah Hyuuga.

Setelah memarkir mobil jaguar hitamnya itu dan turun, Naruto disambut beberapa orang penjaga.

"Selamat malam tuan muda Namikaze." Sambut pria setengah baya bertubuh gempal.

"Iya selamat malam." Balas Naruto,

Agak aneh memang bagi Naruto, ini pertama kalinya ia datang ke rumah Hyuuga, tetapi sepertinya orang-orang sudah mengenalnya semua.

Tetapi memang bukan salah Naruto jika tidak tahu atau tidak ingat dengan orang-orang yang menyambutnya itu, yang ternyata dahulu hadir dalam acara pernikahan Naruto dan Hinata.

"Ada yang bisa kami bantu tuan?" Tanya laki-laki yang diketahui bernama Bee itu.

"Eh.." Naruto masih tampak bingung,

"Ingin bertemu nona muda Hinata, atau Hiashi-sama?" Lanjut Bee menyadari kebingungan Naruto.

"Aku ingin bertemu keduanya, tapi pertama aku ingin bertemu Hiashi-san." Jawab Naruto yakin.

"Baiklah silahkan masuk tuan." Bee mempersilahkan Naruto masuk, dan Naruto mengikutinya dari belakang.

Sesampainya didalam rumah, Bee mempersilahkan Naruto duduk.

"Silahkan duduk tuan muda, saya akan memanggilkan Hiashi-sama."

"Siapa itu Bee?" Belum sempat Bee memanggil Hiashi, ternyata Hiashi sedang berada diruang sebelah sedang memberi makan ikan hiasnya di aquarium besarnya.

'DEGH!' Dada Naruto sedikit berdegup mendengar suara baritone yang tegas, tampak sekali aura kekejaman yang membuat Naruto bergidik.

"Ini Hiashi-sama, ada tuan muda Namikaze." Jawab Bee.

Hiashi memicingkan matanya mendengar nama Namikaze, lalu meletakan wadah makanan ikanya disamping Aquarium.

Hiashi berjalan menuju ruang tamu disebelahnya dengan sedikit tergesa, dan beberapa detik kemudian...

"Kau?_" Gumam Hiashi saat bertemu muka dengan Naruto yang saat itu terlihat sedikit berantakan. Tapi bagi gadis-gadis seusianya itu terlihat sangat keren.

"Eh..Hiashi-san," Naruto sedikit terkejut, tapi ia sudah bertekat, ia berani menghadapi Hiashi.

Hiashi mendekat dan berdiri didepan Naruto, "Mau apa kau datang kemari?" Tanya Hiashi mensedekapkan kedua tanganya, dan dengan tatapan mengintimidasinya.

Bee yang melihat tuanya mengeluarkan aura terkutuk memilih pergi dan tidak ingin mengganggu.

Sedangkan Naruto dengan susah payah menelan ludahnya ngeri. Namun Naruto mencoba mengumpulkan keberanianya, demi Hinata, demi Ryuki.

"Aku ingin membawa Hinata dan Ryuki pulang." Ucap Naruto yakin.

"Hn!" Hiashi hanya tersenyum sinis meremehkan.

"Aku ingin meminta maaf pada Hinata dan membawanya pulang kerumahku, aku membatalkan perceraianku dengan Hinata." Lanjut Naruto, seakan rasa takutnya telah hilang.

"Memangnya siapa kau! datang kerumahku dan ingin mengambil anak dan cucuku?!" Bentak Hiashi, "Tidak sopan! Memalukan! tak kusangka Minato tidak becus mendidik anaknya menjadi anak yang santun!"

"Jangan bawa-bawa Tousanku!, beliau dengan baik mendidiku, jika semua hal yang aku timbulkan itu salah, itu semua memang salahku! bukan Tousan." Jawab Naruto membela ayahnya.

Hiashi diam tak bergeming, dan membuang wajahnya membelakangi Naruto.

"Apa aku salah ingin meminta maaf dan memperbaiki semuanya? apa aku salah jika ingin membawa Istri dan anaku kembali bersamaku?" Lanjut Naruto.

"Jangan terlalu percaya diri aku katakan padamu Namikaze muda, Hinata tidak akan sudi kembali kerumahmu."

"Setidaknya ijinkan aku bertemu dengan Hinata, meminta maaf, dan mengutarakan perasaanku padanya,"

"Perasaan macam apa ha?!"

"Perasaan bahwa aku benar-benar mencintai Hinata, aku ingin menjaga Hinata dan Ryuki, juga membatalkan perceraianku."

"Kau pikir hanya itu yang bisa membahagiakan putriku?"

"Aku akan bekerja untuk memenuhi semua kebutuhanya! Kumohon Hiashi-san. Ijinkan aku bertemu anak dan istriku!" Pinta Naruto sedikit tidak sabaran.

Hiashi diam membelakangi Naruto, masih ingat semalam saat Hinata memeluk dan membawa foto pernikahanya dengan Naruto, saat itu Hiashi berniat menengok Ryuki, tetapi malah yang didapatinya, Hinata sedang kasmaran.

Hinata putri satu-satunya yang Hishi miliki, tidak akan rela jika Hinata bersedih dan tidak bahagia. Maka dari itulah Hiashi mempercepat proses perceraian Hinata. Dengan harapan, jika Hinata dan Naruto berpisah, Hinata akan terbebas dan bahagia.

Namun seingat Hiashi, semalam Hinata sangat bahagia saat memandangi foto itu, dan terlihat bersedih saat Hinata meninggalkan pemuda itu. Bisa saja kebahagiaan Hinata adalah pemuda ini.

"Baiklah! kau boleh menemuinya! tapi cepat pergi jika Hinata menolakmu!" Akhirnya Hiashi memberi ijin kepada Naruto untuk bertemu Hinata. Menurutnya kebahagiaan Hinata adalah segalanya, lagipula Naruto juga anak dari sahabat lamanya. Walaupun awalnya pemuda itu membuatnya sangat marah.

"B-benarkah Hiashi-san?" Naruto sedikit tidak percaya.

"Aku tidak akan mengulangi pernyataanku!" Jawab Hiashi ketus dan masih membelakngi Naruto.

"B-baiklah...terimaksih Hiashi-san." Naruto tersenyum lebar dan berlalri kekamar Hinata.

.

.

.

Dada Naruto berdegup dengan keras saat tiba didepan kamar Hinata, bahagia akhirnya bisa bertemu kembali dengan orang yang ia cintai.

'Cklek' Tanpa mengetuk pintu, Naruto membuka pintu kamar Hinata, dan Hinata yang sedang bermain dengan Ryuki spontan menoleh.

'DEGH' Jantung keduanya serasa berhenti, Safir yang indah bertemu kembali dengan amethyst yang lembut.

Hinata berdiri dengan wajah heran dan kaget, sedetik kemudian..

'Brukh' "Hinata..." Naruto mendekap tubuh mungil Hinata.

"Naruto..." Hinata juga dengan spontan memeluk Naruto.

Keduanya berpelukan erat, tidak ada niatan keduanya untuk melepaskan pelukan kerinduan itu. Keduanya berpelukan bagai seribu tahun tidak berjumpa, menghirup dalam-dalam aroma khas masing-masing.

"Naruto..." Lirih Hinata, memejamkan matanya didada Naruto, merasakan hangat Naruto, rindu, Hinata merindukan sosok ini. Walau hanya satu hari, rasa rindu bagai seribu tahun.

"Hinata,.." Naruto-pun membelai, mencium sutera indigo Hinata dengan penuh perasaan.

"Au...uuuh! aaii..!" Suara Ryuki membuat kedua orang tuanya membuka mata, dan dengan berlahan melepaskan pelukan, dan menoleh kesumber suara.

"Ryuki-chan" Gumam Naruto.

Dan Naruto duduk ditepian ranjang Hinata mendekati Ryuki, "Ryuki-chan, kucing kecilku yang manis,"

"Aooh...aaaii...aaii"

"Sayang..." Naruto mengambil Ryuki dari tempat tidurnya, lalu mencium mulut mungil Ryuki yang terbuka karena menguap.

"Pangeran kecil kau mengantuk?" Kata Naruto menggoda Ryuki, lalu mendekap Ryuki dan mencium pipi Ryuki.

"Tousan merindukanmu Ryuki.." Ungkap Naruto.

Hinata yang berdiri disamping Naruto hanya tersenyum bahagia melihat keduanya melepas rindu.

Ryuki juga terlihat senang dengan Naruto, diraih-raihnya wajah Naruto dengan kedua tangan mungilnya.

Dan tertawa bergelak saat Naruto menggodanya dengan pura-pura menggigit jemarinya.

"Hahahaha... kau merindukanku, ha?" Goda Naruto lagi.

Senyum Hinata berlahan sirna saat melihat Naruto semakin dekat dengan Ryuki, dadanya tiba-tiba seperti dihantam benda keras. 'Kenapa Naruto kemari? Naruto akan membawa Ryuki'. Tidak! Hinata tidak mau itu terjadi.

"Naruto! kemarikan Ryuki!" Hinata tiba-tiba merebut paksa Ryuki dari Naruto. Sedangkan Naruto berdiam diri dengan wajah heran menatap Hinata.

"Kenapa tiba-tiba kau kemari!?" Hinata meninggikan suaranya,

"Hinata aku.." Naruto mencoba menjelaskan.

"Jangan bilang kau akan membawa Ryuki pulang!" Bentak Hinata mulai khawatir.

Naruto berdiri dari duduknya, dan mencoba mendekati Hinata.

"Tenanglah Hinata!"

"Tidak! jangan mendekat!" Hinata mundur dan memeluk erat Ryuki.

"Hinata, memangnya kenapa jika aku ingin membawa pergi Ryuki dari sini?" Naruto sengaja membuat Hinata makin panik.

"T-tidak akan aku biarkan! Ryuki putraku! dia akan terus bersamaku! aku akan membesarkanya!"

"Bagaimana jika ternyata aku kesini, selain ingin membawa Ryuki kembali, tetapi juga ingin membawa serta Kaasanya ikut juga?" Naruto menjelaskan tujuanya.

"M-maksudmu?" Hinata tidak mengerti.

"Ayolah, aku ingin bicara sebentar denganmu." Tawar Naruto, yang sepertinya membuat Hinata menurutinya.

"Jangan macam-macam!"

"Tidak akan,"

.

.

.

"Jadi apa? kenapa kau tiba-tiba datang kemari?" Hinata membuka suara, setelah beberapa menit yang lalu ia dan Naruto hanya duduk diam membisu.

Mereka duduk berdampingan dikursi panjang balkon kamar Hinata, dipayungi langit berhias bintang yang hari itu berkelap-kelip dilangit. Langit cerah, tidak seperti kemarin.

Naruto mendekatkan dirinya dengan Hinata, pundak dan jari kelingking mereka-pun bersentuhan, dan berlahan Naruto memegang tangan Hinata.

Hinata melirik Naruto, sedikit terkejut atas perlakuan Naruto, tetapi tidak menolak dengan menarik tanganya.

"Hinata, aku..." Naruto mencoba menatap wajah Hinata, wajah yang malam itu sangat cantik dimata safir Naruto.

"Apa?" Hinata membalas tatapan Naruto, dan kini wajah keduanya telah bertatapan.

"Aku...aku ingin meminta maaf kepadamu, tentang semua yang telah aku lakukan_" Naruto semakin erat menggenggam tangan lembut Hinata. "_Maaf sudah menghancurkan masa depanmu, maaf sudah membuat keluargamu malu."

"Naruto?"

"Aku datang kemari untuk meminta maaf padamu, aku ingin memperbaiki semuanya, aku ingin kau dan Ryuki hidup bersamaku, Aku mencintaimu Hinata!" Ungkap Naruto, serius menatap wajah Hinata yang mulai memerah, walau itu tidak disadari Naruto.

"N-Naruto... tapi.." Hinata tergagap,

"Kau mau kan tetap menjadi istriku?" Tanya Naruto dengan penuh harap. Tapi Hinata menundukan wajahnya, jujur Hinata sangat bahagia, dari kemarin kata itu yang ingin ia dengar dari bibir Naruto.

"Tidak apa-apa Hinata, tidak apa-apa jika kau menolaku, setidaknya aku sudah mengungkapkan semua perasaanku dengan tulus, aku tau wanita sepertimu tak mungkin mau hidup dengan lelaki brengsek sepertiku."

Hinata terdiam, manik pucatnya mulai berkaca-kaca mendengarkan Naruto. Tidak, Hinata tidak lagi menganggap Naruto seperti itu.

Naruto melepaskan genggamanya ditangan Hinata, "Aku senang bisa bertemu denganmu, dengan Ryuki-chan, aku pamit pulang, aku sudah lega Hinata." Kemudian berdiri dan berjalan menuju kekamar dan pulang, hatinya terasa lega.

Sedangkan Hinata masih menunduk tidak rela Naruto beranjak dari sampingnya.

"Naruto!" Hinata berdiri, kemudian..

'Brukh' Memeluk Naruto dari belakang.

"Aku mencintaimu Naruto, hiks...aku sangat mencintaimu..huu...hiks...jangan pergi! Aku sudah memaafkanmu!" Tangis Hinata dipunggung Naruto, tanganya memeluk erat dada Naruto.

Naruto tersenyum senang, lalu memutar tubuhnya untuk berhadapan dengan Hinata. "Aku hanya pura-pura pergi_" Naruto nyengir menang. "_Aku tau kau akan mencegahku pergi, kalau kau menolak pun, aku sudah siap menggendongmu paksa. hahaha!"

"Hiks...kau jahat!" Hinata memukul dada Naruto, sayangnya itu sama sekali hanya membuat Naruto gemas.

Naruto samar-samar melihat basahan dipipi dan mata Hinata.

"Kau menangis untuku?" Naruto menakup wajah Hinata dengan kedua telapak tanganya.

"Kau sudah cukup banyak menangis karenaku, aku akan menghapusnya_" Kedua ibu jari Naruto mengusap basahan dipipi Hinata, "_Aku akan menggantinya dengan kebahagiaan, aku janji Hinata." Lalu Naruto mendekatkan wajahnya, Hinata memejamkan matanya dan Naruto mencium dengan lembut kedua kelopak mata Hinata bergantian dan merengkuh tubuh Hinata dipelukanya.

"Aku mencintaimu Hinata, sangat mencintaimu." Bisiknya lembut.

"Aku juga mencintaimu Naruto,,," Balas Hinata menikmati amanya dipelukan suaminya.

.

.

.

Malam ini Naruto memutuskan untuk menginap dirumah Hinata, karena sudah terlalu malam Hiashi melarang mereka pulang dikediaman Namikaze.

Hinata dengan baju tidur panjangnya membungkukan badanya karena sedang mengganti diapers Ryuki dibox-nya, putra semata wayangnya itu tampak nyaman dalam hangatnya selimut kecilnya.

"Ryuki-chan sudah tidur Hinata?" Tiba-tiba Naruto muncul dari kamar mandi.

"Eh..." Hinata menoleh dan pipinya memerah seketika, ternyata Naruto hanya memakai Handuk sebatas pinggangnya dengan rambut basah.

Lama Hinata terdiam menatap Naruto sedang menggosok rambutnya yang basah dengan handuk kecil.

"Hei Hinata, kenapa kau menatapku dan tidak bernafas?" Tegur Naruto menyadari Hinata sedang tertegun memandangi Naruto.

"Eh...anoo, tidak Naruto." Jawab Hinata, lalu reflek berpura-pura kembali menata box Ryuki.

"Aku kan bertanya, Ryuki-chan sudah tidur?, Kau hanya diam." Naruto mengulangi pertanyaanya.

"Eh..s-sudah." Hinata gelagapan.

"Kau kenapa Hinata?" Naruto mendekati Hinata.

Hinata kembali menoleh, "Eh, aku akan mengambilkan baju Neji-nii untukmu." Kembali salah tingkah karena Naruto mendekatinya.

"Baiklah." Jawab Naruto, kemudian Hinata keluar dari kamarnya mengambil baju Neji untuk dipinjamkan ke Naruto.

.

.

.

Naruto duduk dipinggiran tempat tidur Hinata, menunggu Hinata membawakan baju ganti untuknya.

Tidak lama kemudian Hinata datang membawa lipatan piyama berwarna abu-abu.

"Kupikir ini cukup untukmu Naruto." Hinata mendekat dan menyodorkan baju itu pada Naruto.

"Rambutku masih basah Hinata."

"Biar aku yang mengeringkanya." Hinata berdiri didepan Naruto dan mengeringkan rambut Naruto dengan menggosoknya dengan lembut memakai handuk.

Naruto senyum-senyum iseng menatap wajah istrinya yang cantik,

"Apa?" Tanya Hinata menyadari Naruto sedang tersenyum mesum kepadanya.

Tanpa menjawab Naruto menarik Hinata untuk dipeluknya.

"Aku rindu padamu Hinata." Bisiknya didada Hinata.

Hinata-pun mendekap kepala kuning suaminya dengan lembut.

Berlahan, Naruto menarik Hinata untuk duduk disampingnya. Dan kemudian mencium bibir Hinata dengan lembut.

Lama kelamaan ciuman itu menjadi panas dan liar.

Hinata memeluk leher Naruto dan menariknya sampai Hinata kini berbaring dan Naruto diatasnya, tanpa melepas ciuman yang memabukan itu.

Sepertinya Hinata sedang berusaha memancing kekasihnya itu untuk menyentuhnya.

Naruto melepaskan ciumanya, karena ia butuh bernafas. Kesempatan itu ia gunakan untuk menatap wajah Hinata yang sudah terbakar, matanya sayu.

"Kau menantangku nona Namikaze?" Bisik Naruto, Hinata hanya tersenyum manis meracuni Naruto. "Aku terima tantanganmu." Naruto menggigit pelan telinga kanan Hinata dengan pelan, membuat wanita bersurai indigo itu meringis kegelian.

Ciuman dan sentuhan yang memabukan itu membawa dua sejoli yang sedang dimabuk cinta itu seakan terbang keawan.

Naruto terus menciumi Hinata, sepertinya Naruto mulai kecanduan.

Bibir Hinata manis, hidungnya juga manis, kedua matanya juga manis. Semua, semua yang ada pada Hinata terasa manis.

Sialnya Naruto benar-benar akan kecanduan Hinata, Hingga sentuhan lembut Hinata padanya juga terasa sangat mencanduinya.

"Nh-Naruto...jangan." Cicit Hinata, saat Naruto ingin menyatukan mereka.

"Kenapa?"

"Aku tidak mau hamil, Ryuki-chan masih sangat kecil." Jawab Hinata.

Naruto menggigit pelan pundak mulus Hinata. "Jika kau hamil karena ini, kita akan membesarkanya. Jika ternyata kau tidak hamil, kau boleh memasang alat pencegah kehamilan, karena nantinya_" Naruto mengecup leher Hinata dan mulai menggerakan tubuhnya. "_aku akan melakukan ini." Bisik Naruto ditelinga Hinata.

" !" pekik Hinata.

"_Setiap ada kesempatan, setiap hari, dan setiap malam."

"Naru..." Hinata meremas rambut Naruto yang sedari tadi disela-sela jemari Hinata, menahan semua rasa manid yang diberikan Naruto.

"Naruto...nnh..aku mencintaimu..." Ucap Hinata disela-sela percintaanya dengan Naruto.

"Aku juga mencintaimu Hinata, lebih...lebih sangat lebih dari cintamu padaku." Naruto mengecup bibir basah Hinata.

"Mm...Naruto.." Hinata memeluk erat tubuh Naruto diatasnya, baginya ini sunggu sangat istimewa.

Menghirup dalam-dalam wangi Naruto yang memabukan dirinya, kehangatan Naruto untuknya.

Sama, sama seperti Naruto, Hinata merasa kecanduan Naruto, ciuman Naruto, sentuhan Naruto. Semuanya yang berhubungan dengan Naruto, Hinata menyukainya.

"Naruto...aku..."

"Aku mencintaimu Hinata..."

"Mmmh...Naru..."

Dan malam itu akan menjadi malam yang panjang bagi keduanya, bertukar kasih sayang, mengungkapkan cinta yang selama ini terpendam.

Dan mungkin hanya bahasa tubuh yang bisa mengungkapkan betapa besar cinta mereka, karena kata-kata saja tidak cukup untuk mengungkapkan betapa mereka sangat mencintai.

~Tamat~

4 Tahun kemudian...

"Aku bica jalan cendili Touchan!" Ucap anak berumur 4,5 tahun berambut kuning jabrik, bocah lucu itu sedang digendong seorang pria yang mirip denganya mereka keluar dari mobil.

"Baiklah...baiklah..." Sang pria yang ternyata ayah dari anak tersebut menurunkan putranya dan membiarkanya berjalan sendiri menuju kediamanya.

"Sepertinya Ryuki-chan masih marah Hinata," Kata Naruto pada wanita berambut indigo yang berjalan disampingnya.

"Biar aku yang bicara padanya," Jawab Hinata dengan senyum andalanya yang masih sangat manis.

"Ryuki-chan tunggu!" Hinata mencoba mengejar putranya.

Tetapi bocah yang ngambek, karena meminta bayi Sasuke dan Sakura untuk dibawa pulang itu tidak mendengarkan.

Mereka baru saja pulang dari rumah sakit untuk melihat bayi Sasuke dan Sakura yang baru dilahirkan semalam, Sasuke dan Sakura menikah satu tahun yang lalu setelah menyelesaikan kuliahnya. Mereka menjalin hubungan 3 tahun yang lalu setelah Sakura dihianati Itachi, kakak kandung Sasuke.

Bayi Uchiha perempuan berkulit putih dan berambut raven tadi membuat Ryuki gemas, sehingga Ryuki menginginkanya untuk dibawa pulang.

"Ryuki-chan, dengarkan Kaasan." Hinata masih mengejar putranya yang mulai berlari. Namikaze kecil itu terlihat sangat menggemaskan dengan kaus putih berlambang Uzumaki marga neneknya dahulu, "Jangan lari nanti kau_" Hinata menghentikan kalimatnya.

'Brukh' kaki kecil Ryuki tersandung dan terjatuh, tangan mungil dan lututnya terantuk.

"_jatuh." Lirih Hinata mengetahui putranya terjatuh, lalu berlari menolongnya.

"Hiks...hiks...cakit..." Ryuki mulai menangis.

Hinata jongkok dan membersihkan lutut Ryuki yang lecet dengan meniupnya.

"Sudah tidak apa-apa sayang, hanya lecet, ayo Kaasan obati." Hinata tersenyum gemas melihat putranya menangis lucu.

"Butuh tumpangan tuan cengeng?" Ejek Naruto yang ternyata sudah ada diantara mereka.

"Touchan yang cengeng." Balas Ryuki, Hinata tertawa geli mendengarnya.

"Benarkah?" Naruto mengangkat putranya dan menggendongnya. "Siapa yang baru saja menangis?" Dan membawanya masuk kedalam rumah diikuti Hinata.

"Touchan." Jawab Ryuki sambil memencet hidung Naruto.

"Hahahahaha! dasar anak nakal." Canda Naruto.

"Kalian sudah pulang?" Sambut Kushina yang berada di ruang tamu bersama Minato, dan disana ternyata juga ada Hiashi dan Neji beserta Tenten istri Neji.

Mata safir Ryuki berbinar melihat Hiashi dan Neji datang, dan merosotkan dirinya dari gendongan Naruto.

"Hiachi-jijiiiii..." Ryuki berlari dan menghambur kepelukan kakeknya.

"Aahhh... pangeran Jiji, kau tumbuh semakin besar." Peluk Hiashi pada Ryuki.

"Kau tidak ingin memeluk pamanmu juga berandal kecil?" Sindir Neji,

Ryuki hanya menatap Neji bosan.

"Padahal paman membawakanmu, gundam terbaru." Pamer Neji menunjukan bungkusan mainan.

"Waaah..." Ryuki membuka mulutnya dan melebarkan safirnya, beringsut dari pelukan Hiashi dan berlari memeluk Neji. Semua yang ada disitu tertawa melihat ekspresi lucu Ryuki.

"Paman Nejiiiiii..."

"Hahahaha...kau lucu sekali, baiklah...mainan ini punyamu." Kata Neji.

"Kau tadi sedikit lama Hinata?" Ucap Hiashi yang menunggu terlalu lama.

"Eh, Ryuki-chan tadi memaksa untuk membawa bayi Sakura pulang.." jawab Hinata,

"Butuh beberapa menit untuk membawanya pulang." Tambah Naruto.

"Benarkah Ryuki-chan?" Tanya Minato,

"Lyuki mau adik jiichan," Jawab Ryuki polos.

"Hahahahaha..." sontak semuanya kembali tertawa. Sedangkan Naruto dan Hinata nyengir salah tingkah.

"Kata Touchan, Lyuki akan punya adik cepelti adik paman Cuke dan bibi Cakula."

"Benarkah?" Kushina ikut menanggapi Ryuki.

"Iya Baachan" Angguk Ryuki yakin,

"Hmm...mungkin memang sudah saatnya kalian memberinya adik." Lirik Kushina pada Naruto dan Hinata.

"Mmhhehehe..." Naruto nyengir sedangkan Hinata tersenyum malu-malu.

Sore itu dua keluarga berkumpul dengan hangat, ramah dan bahagia.

Suatu kebahagiaan bagi mereka, dimana tidak ada lagi perselisihan yang membuat persahabatan dua keluarga itu kembali retak.


TAMAT

I Love You, Because My Little Cat Chapter 10

I Love You, Because my Little Cat 

Story by/Author : Hyugazumaki

Disclaimner : Masashi Kishimoto Pairing : Naruto X Hinata

Rate : M!

Warning : OOC, Alur cepat, Ide pasaran.

I Love You, Because My Little Cat

Chapter : 10/11


"Tousan? Kaasan?" Naruto terkejut atas kedatangan Kushina dan Minato. Apalagi disana ada Hiashi dan

Neji yang langsung melebarkan iris

amethystnya, melihat Hinata berada

dibawah Naruto.

"Maaf Naruto, Hinata." Kushina dengan wajah yang merah menutup kembali pintunya dan berujar kepada Hiashi dan Neji yang memasang wajah tegang.

"Ehehehe... sepertinya

perceraian mereka akan ditunda sampai cucu kedua kita lahir." Kushina nyengir, menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Sementara Hinata dan

Naruto masih membeku dengan

keterkejutan yang baru saja terjadi. "N-Naruto... b-bisakah kau turun dari atasku sekarang?" Ucap Hinata yang

wajahnya telah memerah seluruhnya.

"Eh?" Naruto menatap Hinata yang

seperti itu, bibir yang basah dan mata

yang sayu, semakin membuat dada Naruto berpacu. Hinata sungguh menggodanya. Naruto tersenyum tipis. "Aku belum selesai, biarkan mereka menunggu sebentar." Dan Naruto kembali memulai kegiatanya yang tertunda.

"Um! Aku tidak mau!" Hinata berusaha mendorong dada bidang Naruto.

"Sedikit lagi Hinata."

"Ah! Naruto! Kau memperkosaku untuk yang kedua kalinya!" Hinata tetap protes.

"Kali ini berbeda," Naruto mengalungkan kedua tangan Hinata dilehernya. "Aku akan melakukanya dengan lembut Nikmatilah."

"Nnaruto...ak-ku"

"Cup" Dan ciuman Naruto membungkam bibir tipis Hinata, menghipnotis wanita bermata rembulan itu jatuh kepelukanya.

Dan kali ini Hinata benar-benar menyesal menolak pemasangan kontrasepsi yang ditawarkan dokter waktu itu.

.

.

.

"Mereka lama sekali!

Apa yang mereka lakukan!" Ujar Hiashi melipat tanganya didada, tampak gelisah setelah apa yang dilihatnya tadi. Dan semua orang yang berada diruang keluarga itu tampak canggung, bergelut dengan pikiran masing-masing.

Neji menopang kepalanya yang ia

rasakan sangat pusing, ia juga terlihat

tidak enak badan setelah menyaksikan adik kesayanganya digagahi Naruto didepan manik pucatnya.

"Bukankah kita semua

tahu apa yang dilakukan mereka

berdua," Ucap Minato yang duduk

disofa berwarna krem, disampingnya

Kushina duduk dengan manis. "Anakmu memang kurang ajar!" Jawab Hiasi sedikit emosi.

"Bukankah itu wajar? Mereka suami istri." Bela Kushina, tidak suka Naruto selalu dijelekan.

Hiashi diam, bosan berdebat dengan orang tua Naruto.

"Duduklah Hiashi-san," Lanjut Kushina.

"Tidak perlu! Aku hanya ingin cepat

membawa putri dan cucuku pulang!"

Jawab Hiashi ketus.

"Sabarlah, mereka pasti akan segera kemari." Timpal Kushina berusaha menenangkan Hiashi yang terlihat marah.

Lalu tak lama kemudian Naruto dan Hinata datang bersamaan.

"Ngg... Tousan, Kaasan?" Ucap Hinata lirih membuat semua yang berada diruang tamu menengok padanya. "Hinata-chan?"

Kushina tersenyum pada menantu

kesayanganya itu.

"Kemarilah... ada yang harus kita bicarakan." Lanjut Kushina dengan lembut.

Hinata mengangguk pelan dan duduk disofa yang masih kosong, diikuti Naruto duduk disampingnya. Sementara Hiashi menajamkan matanya menatap putrinya yang menundukan kepala.

Entah kenapa Naruto dan Hinata kini lebih mirip kedua pasangan mesum yang tertangkap pihak berwajib.

Suasana mendadak hening, hanya

suara detik jam yang terus berputar

yang terdengar.

Salah satu diantara mereka sepertinya juga enggan untuk

memulai suatu percakapan.

Sampai akhirnya Hiashi duduk disamping Neji.

Masih dengan tatapan yang tajam

menghunus Hinata dan Naruto. "Kami

sudah putuskan, kalian akan bercerai

secepatnya." Ungkap Hiashi memulai

percakapan.

Naruto dan Hinata mendengar hal itu, entah kenapa, pernyataan itu membuat telinga keduanya mendadak sakit. Namun keduanya tidak merespon Hiashi.

Mereka berdua tahu, cepat atau lambat hal ini akan terjadi. Namun entah sejak kapan, perceraian itu sama sekali tidak mereka inginkan.

"Hari ini kau dan Ryuki akan pulang kerumah Hyuuga," Lanjut Hiashi, dan mengerti bahwa yang dimaksud adalah Hinata, Hinata mengangguk pelan.

Naruto melirik Hinata tidak suka. "Jika kau ingin keluar dari rumah ini, sebaiknya kau jangan bawa Ryuki!" Ucap Naruto sinis. Hinata tersentak oleh kata-kata itu.

"Bicara apa kau bocah!" Sanggah Hiashi geram.

"Naruto..." Minato dan Kushina

berusaha menenangkan Naruto. Tidak ingin Naruto melakukan kesalahan dan membuatnya terluka.

"Bukanya kau senang terbebas dari

Hinata dan cucuku?" Tuduh Hiashi.

"Ryuki itu sudah lama disini! Dan aku berhak merawatnya! Karena aku ayahnya!" Ucap Naruto tidak terima.

"Tau apa kau soal merawat bayi!"

"Aku memang tidak mengerti! Tapi aku mau Ryuki tinggal disini!" Naruto tak mau kalah, ia berani menatap Hiashi.

"Memangnya kau siapa! Kau itu hanya penyakit yang merusak putriku!" Cerca Hiashi membuat orang yang berada disitu terkejut.

"Hiashi-san hentikan terus berbicara tidak baik pada putraku!" Bela Kushina.

"Dari awal Hiashi-san sendiri yang tidak mau merawat putra Hinata! Hiashi-san sendiri yang menyerahkan Ryuki pada kami! Sekarang dengan seenaknya Hiashi- san mengambil Ryuki dan menjelekan Naruto!" Kushina mengeluarkan emosinya yang terpendam.

"Aku berubah fikiran, apa ada

masalah?" Jawab Hiashi enteng dan meremehkan.

"Tousan,,,?" Hinata mencoba menghentikan ayahnya, tapi

ketika ia menatap Neji, Neji memberi

isyarat agar Hinata tetap diam.

"Kau ini orang tua tidak bisa dipercaya!"

Teriak Naruto marah.

"Naruto! Sudahlah!" Bentak Minato melerai Naruto dan Hiashi yang semakin emosi.

"Tousan tidak mengerti, aku

menginginkan Ryuki!" Dengan raut

wajah yang masam, Naruto berdiri dari kursinya dan langsung pergi begitu saja meninggalkan semuanya.

"Naruto..." Hinata menatap kepergian Naruto dengan khawatir.

.

.

.

Naruto mendekap Ryuki dan membelai pelan pipi chubby Ryuki yang dibaringkan disampingnya. Memandangi wajah copyan dirinya itu dengan raut sedih.

Tidak siap jika harus jauh dari bayi mungil berumur 3 bulan itu, bagaimanapun kehadiran Ryuki memberi warna baru dihidupnya.

Seorang anak laki-laki yang amat sangat dicintainya.

"Katakan pada mereka kau tidak mau pergi dari sini Ryuki-chan." Naruto berbicara pada Ryuki. "Katakan kau bahagia disini bersama Tousan, Kaasan." Ryuki yang mendengar kesedihan ayahnya, hanya menendang-nendangkan kaki mungilnya diudara. "Ahh..." suara Ryuki.

"Kau tau aku sangat menyayangimu?" Naruto mencium pelan pipi merah muda itu. "Maaf jika dulu aku pernah menolakmu, Maaf dulu aku tidak mengakuimu. Tapi kau tau kan? Bahwa akhirnya memang akulah Tousanmu? Dan akhirnya aku menyayangimu. Aku ingin membesarkanmu Ryuki-chan.."

Tanpa disadari Naruto, kegiatanya sedari tadi diawasi oleh sepasang mata bulan Hinata. Hinata berdiri terpaku didekat pintu kamarnya, menyaksikan Naruto yang begitu rapuh tidak seperti biasanya.

Melihat Naruto mendekap Ryuki dengan protektif.

"N-Naruto..." Ucap Hinata pelan. Sementara Naruto enggan menengok sedikit saja.

Hinata menghampiri Naruto dan duduk diranjangnya, tepat didepan Naruto yang memiringkan badanya untuk memeluk Ryuki.

"A-aku..harus pergi sekarang." Ucapnya lagi. Kalimat yang harus ia ucapkan, namun tidak dari hatinya.

Kalimat itu bagai petir yang menyambar kepala kuning Naruto. Tidak! Naruto tidak ingin Hinata dan Ryuki pergi, Ingin menangis tetapi gengsi didepan Hinata.

"Aauuh..hikk...aaaeeeekk...uuh..." Ryuki menangis. Dengan perlahan Hinata mengangkat Ryuki dan menenagkanya.

"Sssst...tidak apa sayang...ini Kaasan," Ucap Hinata, menimang Ryuki.

Naruto bangun dari tidurnya dan duduk disamping Hinata.

Menundukan kepalanya, menyembunyikan raut mendung dari Istrinya yang sebentar lagi menjadi mantan istri.

"Hn. Kau lega sekarang, bisa keluar dari rumah ini?" Ucap Naruto dengan nada seakan ia baik-baik saja.

Hinata diam, menatap sayu Ryuki dipangkuanya. Lalu beberapa menit kemudian berucap.

"Tentu saja, aku tidak harus bertemu denganmu, bukankah kau juga senang?" Hinata bertanya balik, masih sama, dengan nada seakan baik-baik saja.

"Eh..aku..aku tidak masalah kau pergi, tapi Ryuki..." Kata-kata Naruto sedikit membuat Hinata sedih, Naruto hanya menginginkan Ryuki,bukan dirinya. Entahlah...seharusnya Hinata tidak harus cemburu pada Ryuki.

"Iyaaa... aku mengerti, Ryuki-chan. Kau keberatan Ryuki bersamaku, akan lebih baik jika seorang anak dirawat ibunya kan?, aku berjanji akan merawat Ryuki dengan baik."

"Dia putraku, seharusnya ayahnya yang membesarkanya." Naruto memotong kalimat Hinata.

"Dia putraku!" Hinata tidak mau mengalah.

"Ryuki-chan putra kita berdua, akan lebih baik jika dia dirawat kedua orang tuanya." Kalimat Naruto membungkam bibir Hinata, Naruto sendiri tidak mengerti darimana kata-kata itu bisa terucap dari bibirnya.

"Maksudku...akuu..." Naruto meremas sprei berwarna biru yang menghias ranjang yang didudukinya, menghentikan kalimatnya ragu.

"Aku mengerti Naruto, aku tau kau sangat mencintai Ryuki."

"Tidak bisakah kau meminta Tousanmu untuk membiarkan kalian tetap tinggal disini sampai kita benar-benar bercerai?" Ucapnya lirih.

Hinata diam tak menjawab, hanya menatap wajah Ryuki yang mulai tertidur dipangkuanya.

"Baiklah, aku tau jawabanya! Kau tidak akan meminta hal bodoh pada lelaki tua yang seenaknya itu kan!?" Naruto sedikit meninggikan suaranya.

"Naruto! Dia Tousanku!" Ucap Hinata menatap Naruto tidak suka.

"Baiklah aku tidak akan membahasnya! Sebelum kau pergi, aku hanya ingin mengatakanya padamu, aku..." Naruto menghentikan kalimatnya lagi.

Sedangkan Hinata menatap Naruto dengan penuh tanda tanya.

"Selama ini, sebenarnya aku..." Naruto diam lagi.

"Apa?" Tanya Hinata heran, menatap wajah tampan Naruto yang semakin memberatkan hatinya.

"Aku senang ada kau dan Ryuki disini., kalian memberikanku pengalaman-pengalaman yang menyebalkan, menegangkan." Naruto mengaku.

Hinata tersenyum tipis, juga hatinya merasa senang.

"Kau masih ingat saat kita menikah paksa?, saat kau ngidam dan menyuruhku mencarikan makanan-makanan aneh? dan seenaknya tidak perduli siang atau malam?" Ucap Naruto mengingat-ingat masa lalunya.

"Um..huum.." Hinata mengangguk.

"Saat Ryuki cerewet dan sakit, itu semua menjadi kenangan yang tidak akan aku lupakan." Lanjut Naruto.

Hinata tersenyum mengingat itu semua, melirik Naruto yang tersenyum pahit menceritakan semua hal yang mereka alami.

Lalu Naruto memberanikan diri membalas tatapan Hinata.

Memandangi wajah cantik Hinata, dan mengulurkan tanganya membelai pipi halus Hinata.

"Hinata...aku..aku..." Mata indah Naruto dan Hinata kembali bertemu, tatapan yang jelas menjelaskan perasaan betapa mereka saling mencintai.

Tapi mulut keduanya seakan kelu mengungkapkan kata 'Aku mencintaimu, jangan pergi dan tetaplah disini.'

Naruto mendekatkan wajahnya kewajah Hinata, dan memiringkan kepalanya. Lalu dengan lembut mencium bibir Hinata.

Beberapa detik hanya mengecup, tapi beberapa menit kemudian keduanya saling melumat. Saling memberi dan menerima, ciuman yang terasa manis, sangat manis.

Tangan Naruto menahan leher Hinata, menenggelamkan bibirnya dibibir Hinata seakan tidak mau sedikitpun lepas. Ciuman yang penuh dengan emosi tak tergambarkan, Ciuman manis Hingga keduanya terus menyesap rasa manisnya.

Seakan dengan ciuman itu keduanya saling mengungkapkan, bahwa mereka ingin memiliki satu sama lain. Mereka ingin hidup bersama, mereka saling mencintai.

Hingga saat Naruto mulai kehilangan kendali, dan dengan gemas menggigit bibir bawah Hinata.

"Sakit!" Hinata mendorong dada Naruto, dan merusak suasana yang sedikit hangat barusan.

"Maaf..." Naruto salah tingkah, menggaruk kepalanya.

Dan mendekatkan wajahnya kewajah Hinata, kembali ingin mengulangi ciuman yang baru saja terjadi.

"Sudahlah, aku harus pergi. Tousan dan Neji -nii sudah menungguku," Hinata menahan dada Naruto.

"Hh! Baik! Pergilah! lebih cepat lebih baik." Naruto kecewa, lalu beranjak dari duduknya dan pergi kebalkon kamar Hinata.

Hinata sedikit merasa bersalah, tetapi ia tidak mau, semakin ia dekat dengan Naruto. Rasa berat meninggalkanya akan semakin bertambah.

.

.

.

Keluarga Namikaze beserta beberapa orang kepercayaanya sudah berkumpul dihalaman utama, untuk mengantarkan Hinata pergi. Kecuali Naruto yang enggan menampakan dirinya.

"Hinata-chan, beri kami kabar tentangmu ya?" Ucap Kushina memeluk Hinata erat dengan wajah sedih.

"B-baik Kushina Kaasan," Balas Hinata lembut.

Lalu Hinata berpamitan dengan Minato.

"Minato Tousan, terima kasih selama ini sudah diijinkan tinggal disini, maaf jika aku selalu merepotkan."

"Jangan bilang begitu, kau sudah kami anggap sebagai putri kandung kami sendiri," Balas Minato tersenyum tulus, dan memeluk Hinata.

"Senang pernah mempunyai menantu yang baik dan cantik sepertimu Hinata.." Lanjutnya.

"Hm..iyaa! Hinata tersenyum senang mendengarnya.

Minato melepaskan pelukan Hinata dan mengacak lembut rambut Hinata.

"Oh ya Ryuki-chan, kau jangan nakal ya? Jangan sakit lagi, kau cucuku yang paling hebat." Ucap Kushina mencium Ryuki yang berada dalam gendongan Hinata.

Lalu Minato bergantian mencium Ryuki, "Jaga Kaasanmu ya Ryuki-chan," Ucapnya.

Sementara itu Hiashi dengan pandangan dingin menatap pemandangan mengharukan itu bagi Naruto yang ternyata masih berdiri dikamar Hinata, menyaksikan dari balik kaca jendelanya.

"Bisakah kau cepat sedikit Hinata?!" Tanya Hiashi yang sedari tadi melipat tanganya dan bersandar pada mobil berwarna silvernya.

"I-iya" Jawab Hinata cepat.

Lalu Hinata memandang jendela kamarnya, berharap Naruto berada disana, dan berteriak 'Jangan pergi'.

Namun hanya angin yang berhembus menerpa daun hias didepan kamarnya yang terlihat.

Hinata menundukan kepalanya kecewa.

"Kau baik saja Hinata?" Tegur Kushina yang melihat perubahan wajah Hinata.

"Eh..eh tidak Kaasan," Hinata menegakan kepalanya dan menggeleng cepat.

Kushina tersenyum dan mengusap pelan pipi Hinata.

"Kalau begitu aku harus pergi sekarang Kushina Kaasan, Minato Tousan" Pamit Hinata.

"Baik, jaga dirimu dan Ryuki" Ucap Kushina. Dengan wajah sedih namun masih berusaha tersenyum.

Hinata tersenyum kemudian berbalik dan masuk kedalam mobil mewah milik ayahnya.

"Kami pergi dulu Minato." Pamit Hiashi.

"Baik, hati-hati. Jaga cucuku." Jawab Minato mencoba tetap tersenyum.

Lalu Hiashi pun masuk kedalam mobilnya diikuti Neji yang sedari tadi memilih diam, dan tak lama kemudian mobil bergerak meninggalkan kediaman Namikaze.

Hinata membuka kaca mobilnya hanya untuk melambai kearah Kushina dan Minato.

Kushina membalas dengan pandangan tidak rela, Minato mengerti hal itu dan memeluk Kushina yang mulai menangis melihat mobil Hinata semakin menjauh dan menghilang dari pandangan mereka.

.

.

.

Malam yang mulai dingin dan gelap telah menyelimuti kota Konoha selatan, hanya beberapa orang yang masih saja berjalan disekitaran perumahan elit itu. Perumahan yang diantaranya didiami keluarga Hyuuga, rumah yang paling mewah diantara rumah-rumah mewah lainya tentu saja.

Namun pemandangan berbeda tampak disalah satu jendela rumah mewah bercat ungu tersebut. Masih terpancar sinar lampu yang bertanda penghuninya masih terjaga.

Hinata nampak gelisah dengan Ryuki yang ternyata masih saja menangis digendonganya.

Beribu ungkapan sayang telah mengalun dari bibir Hinata, namun semua itu tidak cukup membuat Ryuki tenang dan tidur.

Neji sang kakak hanya bisa menunggui dan berharap keponakanya itu segera diam dan tidur. Karena jujur saja Neji tidak tega. melihat Ryuki menangis begitu keras dan lama. Andai saja ia bisa melakukan sesuatu, menggendong Ryuki saja hanya sambil duduk.

"Apa yang harus kita lakukan untuk membuatnya diam, Hinata?" Tanya Neji yang melihat Hinata menimang pelan tubuh Ryuki.

Hinata menatap kakaknya, dengan ragu lalu menjawab.

"Ryuki-chan, biasa tidur dengan Naruto."

"Maksudmu?" Neji tidak mengerti.

Hinata menghela nafasnya lalu menghembuskanya, "Kami tidur bertiga disatu ranjang, Ryuki chan tidak pernah mau tidur jika tidak didekat Naruto." Jelas Hinata.

Neji masih menampakan wajah tidak mengertinya. "Tapi kau kan ibunya Hinata?"

"Ryuki-chan... hanya akan tidur jika Naruto didekatnya, Niisan." Ungkap Hinata lembut.

"Sejak kapan? setauku bocah berkepala kuning itu tidak memperdulikan kalian." Jawab Neji.

"Sejak Ryuki-chan sakit, Naruto bersama kami, dan menjaga kami." Jawab Hinata lagi. Ya Neji mengingatnya, Neji ingat Naruto yang menjaga adik dan keponakanya waktu itu.

Neji tampak berfikir, satu-satunya cara memanglah Naruto harus ada didekat Ryuki.

.

.

.

Sementara dikediaman Namikaze, pemuda berambut kuning itu nampak berbaring sendirian dikamar yang beberapa minggu ini ia tempati bersama keluarga kecilnya.

Kamar yang sengaja ia matikan lampunya agar semua mengira ia sudah tertidur.

Seharian ini, Naruto hanya mengurung diri, tidak makan dan tidak perduli dirinya sendiri.

Memeluk bantal kecil berbentuk rubah berwarna orange, bantal milik Ryuki, putra yang sedang ia rindukan saat ini.

Beberapa kali Naruto menghirup dalam-dalam aroma Ryuki yang masih tertinggal dibantal lucu itu.

"Ryuki-chan...Hinata..." Lirihnya pelan. Hatinya terasa sakit, tidak ingin kebahagiaan yang baru saja ia rasakan bersama putra dan istrinya direnggut pria tua yang menurut Naruto plin plan itu.

Ah! Andai saja orang tua kolot itu tidak membawa keluarganya pulang, saat ini seharusnya Naruto sedang memeluk Hinata yang sedang tertidur, walau itu tanpa sepengatahuan Hinata. Mencium pipi Hinata dan Ryuki disaat mereka terlelap.

Kembali Naruto mengusap bantal didekapanya, menghirup lagi wangi Ryuki yang membuat Naruto semakin ingin bertemu Ryuki jagoan kecilnya.

"Ryuki-chan, apa kau sudah tidur?" Lirihnya kembali.

Tanpa disadari Naruto, kegiatanya diawasi oleh kedua orang tuanya yang sengaja melihat keadaan Naruto dari pintu kamar yang dibuka sedikit.

Kushina menatap cemas putranya, dan Minato hanya memeluk bahu Kushina mencoba memberi rasa nyaman.

"Dia belum makan hari ini Minato," Ucap Kushina sedih.

Kushina ingin mendekati Naruto, tapi Minato mencegahnya.

"Istirahatlah, biar aku yang bicara denganya." Ucap Minato.

Kushina menatap Minato ragu.

"Percayalah padaku Kushina." Minato meyakinkan istrinya yang masih ragu.

"Baiklah Minato." Balas Kushina tersenyum dan menyerahkan pada suaminya, membiarkan Minato mendekati Naruto.

Minato berlahan mendekati Naruto yang meringkuk memeluk bantal Ryuki.

Minato duduk dipinggiran bed berseprei violet, yang biasa dipakai Hinata. Sengaja Naruto melarang maidnya mengganti sprei itu.

Dengan ragu Minato mengulurkan tanganya, membelai pelan kepala Naruto. Naruto sedikit terkejut, namun dari aroma tubuh yang ia kenal, Naruto tau itu ayahnya.

"Kaasanmu menghawatirkanmu," Kata Minato membuka percakapan. "Kau kenapa?" Lanjutnya.

"Aku tidak apa-apa, hanya tidak enak badan." Jawab Naruto kaku, tanpa menoleh ayahnya.

Minato menghela nafas, "Kau mengurung diri dan tidak makan, kau bilang tidak apa-apa?" Seru Minato, "Kau tau? Kaasan mencemaskanmu!" Lanjut Minato.

"Katakan pada Kaasan aku tidak apa-apa." Jawab Naruto lagi,

"Hn, kau sangat tidak sopan Naruto," Sindir Minato. "Setidaknya ceritakan apa masalahmu."

Naruto diam tak bergeming, didalam temaranya lampu kamar Naruto memejamkan matanya.

Sungguh Naruto tidak tahu betul apa yang sedang ia rasakan. Bukankah seharusnya ia senang? keinginanya berpisah dengan Hinata terwujud?

"Aku tidak tahu Tousan."Jawabnya lesu.

Minato mengernyitkan dahinya tidak mengerti apa yang dikatakan putra semata wayangnya itu.

"Baiklah baiklah, jika boleh menebak,-" Minato menghentikan kalimatnya, memastikan Naruto tidak akan terkejut.

Naruto melirik ayahnya, menunggu apa yang akan dikatakan ayahnya.

"- bawa pulang mereka, dan katakan padanya kau mencintainya." Ucap Minato, membuat duplikat dirinya sedikit terkejut.

"A-ma-maksud Tousan?" Naruto memastikan.

"Tousan tidak akan mengulanginya lagi, bawa pulang Hinata dan Ryuki jika kau mencintai mereka. Atau kau akan kehilangan mereka dan terus hidup sebagai pecundang?" Minato menekankan kalimatnya.

Naruto membulatkan mata safirnya didalam keremangan kamarnya.

"Kau sudah dewasa bukan? ambilah keputusan, dan jangan menyesali apapun pilihanmu." Minato berdiri dari duduknya, "Makanlah, Tousan tidak suka kau berani membuat Kaasanmu khawatir." Lalu Minato berjalan keluar kamar meninggalkan Naruto sendiri.


Bersambung

I Love You, Because My Little Cat Chapter 9

I Love You, Because my Little Cat

Story by : Hyugazumaki

Disclaimner : Masashi Kishimoto

Pairing : Naruto X Hinata

Rate : M!

Warning : OOC, Alur cepat, Ide pasaran.

...

I Love You, Because My Little Cat

Chapter : 9/11


Naruto tersenyum membalas Hinata, lalu kedua tangan berwarna tan Naruto terangkat meraih wajah Hinata, dengan lembut dihapusnya airmata yang membasahi pipi putih itu dengan ibu jarinya. Perlakuan spontanitas Naruto itu membuat pipi yang tadi putih pucat kini menjadi putih bersemu merah.

'Krieett...' Pintu ICU terbuka, keduanya menoleh kearah suara dan segera berdiri saat Dokter bermata cokelat keluar dari ruangan itu.

"Dokter?" Hinata berharap cemas atas apa yang akan dikatakan dokter.

"Tuan dan Nyonya Namikaze, putra anda sudah tidak apa-apa, tidak usah khawatir, hal ini sering terjadi saat balita demam tinggi. Tapi untuk memulihkan tubuhnya, putra anda harus menginap disini mungkin untuk satu sampai dua malam. Itupun kalau tuan dan nyonya bersedia." Jelas Dokter membuat kedua wajah orang tua Ryuki terlihat lega.

"Syukurlah..." Ucap Naruto dan Hinata.

"Kalau itu yang terbaik untuk kesehatan putra kami, kami setuju untuk melakukan apa saja." Jawab Naruto

yakin, dan Hinata mengangguk setuju.

"Hm..baiklah kalau begitu, kami akan segera memindahkan putra anda keruang rawat khusus bayi." Terang Dokter tersenyum tulus.

"I-iya Dokter silahkan." Jawab Hinata.

/

Setelah Ryuki dipindahkan diruang rawat khusus bayi, Naruto dan Hinata menjaga Ryuki bersama.

Walau terlihat canggung dan enggan berbicara banyak, tapi keduanya terlihat kompak merawat Ryuki. Saat Ryuki mengompol, Naruto yang mengambilkan diapers, Hinata yang memasangkan.

Saat itu Hinata berada disamping Ryuki, tidur menjatuhkan kepalanya diranjang Ryuki yang juga sedang tidur.

Naruto yang sedari tadi berbaring disofa melirik sebentar kesampingnya, melihat Hinata dengan wajah lelah tidur dengan posisi seperti itu.

Naruto memasukan ponselnya kesaku celananya, ponsel yang sedari tadi ia mainkan untuk sekedar melihat email dan blognya untuk membuang waktu. Naruto bangun dan berdiri menghampiri Hinata, bermaksud membangunkan Hinata.

Naruto memandangi sebentar wajah Hinata saat tidur, manis dan tenang. Lalu melihat copy-an dirinya yang masih balita disamping Hinata, tak kalah tidur dengan manisnya membuat Naruto tersenyum.

Tangan berwarna tan itu dengan ragu menyentuh helaian berwarna indigo milik Hinata. Mengusap pelan agar siempunya tidak terusik.

Sadar akan tujuan sebelumnya, Naruto menghentikan aksi mengagumi wajah Hinata dan dengan pelan mengguncang bahu Hinata.

"Hinata...Hinata? bangunlah.." Naruto membangunkan Hinata.

"Ummh.." Hinata bergerak, mengerjapkan matanya sebentar dan terduduk dengan malas.

"Maaf membangunkanmu," Ucap Naruto.

"Hhh...ada apa Naruto? " Mengucek kedua matanya dengan punggung tangan, Hinata bertanya dengan suara yang menunjukan bahwa dia masih sangat mengantuk.

"Kau Istirahatlah dulu disofa, biar aku yang menjaga Ryuki-chan." Jawab Naruto penuh perhatian.

"T-tidak usah," Tolak Hinata pelan.

"Ayolah... kau tidak boleh lelah, siapa yang akan merawat Ryuki kalau kau juga tidak sehat, aku tidak mungkin bisa?"

"Tapi..."

"Sudahlah, tidur saja disana. Nanti kalau Ryuki sudah bangun, aku akan membangunkanmu." Jelas Naruto. Dengan ragu Hinata berdiri.

"Terima kasih Naruto." Ucap Hinata, Naruto mengangguk. Lalu Hinata mencium kening Ryuki dan berjalan kesofa merebahkan dirinya disana.

Naruto duduk dikursi samping ranjang Ryuki, mengusap pelan pipi Ryuki yang bersemu merah.

Merasa senang berada didekat Ryuki dengan restu Hinata. Bebas menyentuh dan mencium Ryuki. Tidak perlu takut Hinata marah seperti sebelumnya.

'Tok..tok...tok'

Naruto menoleh kepintu yang diketuk, bertanya dalam hati tentang siapa yang datang, lalu ia beranjak dan segera membuka pintu ruang rawat Ryuki.

'Cklek, kriiieeettt...' pintu-pun terbuka, menampilkan seorang pria berambut cokelat panjang, dengan mata tajam.

"N-Neji?" Naruto sedikit terkejut melihat Neji mengunjunginya.

"Kenapa? Kau seperti melihat hantu?" Sindir Neji, menyadari Naruto terkejut atas kedatanganya,

"Eh..tidak, maksudku bukan-"

"Aku datang menjenguk bayi Hinata." Potong Neji, tidak mau mendengar basa-basi Naruto.

"Eh.. masuklah, mereka sedang tidur." Naruto mempersilahkan Neji masuk, dan memberi jalan.

Manik pucat Neji melirik sebentar kearah Hinata yang sedang tidur dengan pulas, "Adiku sepertinya sangat lelah?"

"Memang, dia menjaga Ryuki terus." Jawab Naruto.

"Lalu kau tidur?" Tanya Neji

"Tidak juga,"

"Hm, Bagaimana keadaan Ryuki?" Tanya Neji yang berjalan ketempat Ryuki berada.

"Dokter bilang Ryuki sudah tidak apa-apa." Jawab Naruto.

"Baguslah," Timpal Neji cuek, dan suasana semakin tegang.

"Aku kira kau tidak akan menemani Hinata disini." Kata Neji lagi, sambil mengusap rambut kuning keponakanya yang lucu itu.

"E..t-tentu saja aku menemaninya, Ryuki sakit dan kaasan tidak ada," Jawab Naruto sebisanya.

"Baik, aku kesini hanya memastikan bahwa Hinata dan bayinya baik-baik saja." Jawab Neji masih dengan aura seperti Hiashi. "Aku akan pulang, kali ini aku berharap kau benar-benar bertanggung jawab kepada adiku. Jaga dia dan keponakanku, atau kau akan kubunuh jika mereka tergores sedikit saja!" Pinta Neji, hal itu malah mirip sebuah ancaman bagi Naruto.

"Heh'? aku mengerti!" Jawab Naruto yakin.

Lalu Neji berjalan keluar dan meninggalkan Naruto yang masih cengo atas kedatangan Neji, dan pulang begitu saja.

"Haah... aku benar-benar tidak mengerti dengan kakak dan ayahmu itu Hinata." Ucap Naruto mengacak rambut kuningnya sambil melihat Hinata yang tidur bagai seorang putri yang cantik.

Kemudian Naruto duduk dikursi disamping Ryuki dan menjaga Ryuki lagi.

.

.

.

Hari ini Ryuki sudah boleh pulang, bayi tampan yang tadinya hanya diam dan menangis itu kini sudah kembali ceria, membuat orang-orang disekitarnya bahagia.

"Syukurlah nona, tuan muda Ryuki sudah sembuh." Ucap Ayame yang mengantarkan Hinata dan membawakan bawaanya kekamar.

"Terima kasih Ayame-san, ini berkat doa orang-orang yang mencintai Ryuki," Jawab Hinata senang.

"Betul nona, dan maaf kami tidak tahu kalau malam itu tuan muda Ryuki sakit." Ayame merasa tidak enak, saat Hinata dan Naruto panik dirinya tidak tahu.

"Tidak apa-apa Ayame-san, lagi pula waktu itu yang kuingat adalah segera membawa Ryuki kedokter dengan cepat." Ucap Hinata, tersenyum manis. Agar Ayame yakin dan tidak perlu merasa tidak enak.

"Hh.. baiklah nona, sebaiknya nona dan tuan muda istirahat, saya mohon diri." Pamit Ayame dengan sopan, membungkukan badanya.

"Baik, terima kasih atas bantuanya Ayame-san."

"Jika nona butuh bantuan, saya dibawah."

"Iya baik...terima kasih," Ucap Hinata.

Lalu Ayame berjalan keluar kamar Hinata, dan berpapasan dengan Naruto yang juga masuk kekamar Hinata.

"Permisi tuan" Ucap Ayame saat bertemu Naruto.

"Iya silahkan." Naruto tersenyum ramah, lalu berjalan mendekati Hinata yang sedang mengganti pakaian Ryuki.

"Sebaiknya jangan dimandikan dulu." Ucap Naruto yang sudah berdiri dibelakang Hinata.

Hinata menoleh sebentar kesumber suara.

"Tidak, aku hanya mengelap tubuhnya dengan air hangat."

"Oh...yasudah, kau sudah makan?"

"Sebentar lagi, biar Ryuki-chantidur dahulu."

"Emm...aaaoo...aauuh," Ryuki bersuara mendengar suara Naruto.

"Eh jagoan kecil, kau sudah sehat?" Kata Naruto mendekati Ryuki yang sedang berada diranjang Hinata.

"Aah..aauu..aahh..oou," Seperti mengerti, Ryuki terus bersuara.

"Hahaha... apa? Tousan? kau memanggilku Tousan?" Naruto tertawa menggoda Ryuki yang berceloteh tidak jelas.

"Dia tidak memanggilmu Tousan!" Hinata sewot, tidak rela.

"Benarkah? Lalu apa katanya?"

"Dia bilang dia menyayangi Kaasan,"

"Benarkah? Darimana kau mengerti bahasanya?"

"Aku Kaasanya! Tentu aku mengerti!"

"Kalau begitu, aku juga Tousanya, jadi aku juga mengerti." Ucap Naruto percaya diri, padahal mereka berdua sebenarnya tidak tahu apa yang dimaksud Ryuki.

"Kau menyebalkan Naruto!"

"Kau juga menyebalkan!"

"Aah! Auuh..!" Ryuki meninggikan suaranya, seperti melerai.

"Ada apa Ryuki-chan? Kau mau gendong Tousan?" Kata Naruto mengusap dahi kecil Ryuki.

"Dia hanya haus, bisa tinggalkan kami berdua? Aku akan menyusuinya." Jawab Hinata.

"Memangnya kenapa kalau aku disini? Tidak usah malu, aku sudah pernah me-, Eee..." Naruto menghentikan kalimatnya saat menyadari Hinata menatapnya dengan tatapan membunuh.

"Hehe... baiklah baiklah aku keluar, 36 C cup!"

"B-Bodoh! Jangan sok tahu!" Wajah Hinata memerah.

"Memangnya berapa?"

"38!"

"Wow Benarkah?" Ucap Naruto dengan wajah mesum, dan sedetik kemudian.

"Narutoooo!" Bantal-pun melayang kewajah tampan Naruto. Dan secepat kilat kuning dari Konoha, Naruto berlari keluar kamar menyisakan semburat merah jambu dipipi porcelain Hinata.

.

.

.

"Aku senang lusa kita akan pulang, aku tidak sabar menimang cucuku lagi." Kata Kushina yang bersemangat menata pakaianya dan Minato ke koper.

"Haah... seharusnya kau tidak ikut kemari kan? Aku jadi tidak tega membayangkan Hinata dan Naruto kerepotan mengasuh Ryuki." Tanggap Minato yang menyesap tehnya.

Kushina tersenyum tipis, "Aku percaya Hinata bisa, makanya aku menemanimu sampai kau sembuh, Minato."

Minato tersenyum kepada istrinya yang masih terlihat cantik itu.

"Lagipula, kau tidak mau kan meninggalkan Ryuki dengan cepat?" Lanjut Kushina lagi.

"Iya pastinya, aku harus lebih lama hidup untuk Ryuki dan Naruto, aku ingin melihat mereka bertiga akhirnya hidup bahagia."

"Kau ingin Hinata-chan terus menjadi menantumu?" Senyum Kushina, mendekati Minato.

"Tentu saja, dia anak yang manis. Kau setuju kan jika Naruto sangat cocok denganya?"

"Sangat setuju," Jawab Kushina, memeluk Minato dari belakang.

/

"Nnneee...aaaeek...ooouh..oooek.."

"Kenapa sekarang kau cengeng sekali ha?" Kau mau jadi anak nakal?" Ucap Hinata sambil berusaha menyusui Ryuki yang sedari tadi tidak juga mau minum asinya.

"Ooeekkk...aaaeek..oooee'.." Masih terus menangis.

Hinata mendekap tubuh mungil itu dengan hangat dan menggoyangnya pelan, "Ssstt... Diam sayang, ini sudah malam." Rayu Hinata sambil menimang-nimang Ryuki. Namun Ryuki tak kunjung diam, malah semakin keras menangis.

'Tok..tok..tok'

"Hinata?"

Hinata menoleh kepintunya yang diketuk dari luar.

"Masuklah Naruto tidak dikunci." Jawab Hinata, tau bahwa itu suara Naruto.

'Cklek' Pintu terbuka dan Naruto masuk begitu saja dengan piyamanya.

"Berisik sekali Ryuki, kenapa lagi?" Tanyanya dengan nada bosan.

"Tidak tahu, kurasa sekarang dia cengeng dan nakal," Jawab Hinata malas.

"Jangan bilang begitu, coba biar aku saja yang menimangnya." Naruto mencoba meminta Ryuki digendongnya.

"Baiklah..." Dan kali ini Hinata dengan rela membiarkan Naruto menggendong Ryuki.

Naruto menimang Ryuki sebentar, tapi si pangeran kecil masih menangis.

"Apa dia haus?" Tanya Naruto sembari menggoyang-goyang Ryuki pelan.

"Tidak, malah kurasa dia sudah terlalu kenyang" Jawab Hinata yakin.

"Ooh...tapi kenapa kau masih terus menangis? Cengeng sekali." Naruto mencium pelan mulut mungil yang terbuka itu, menghirup aroma khas bayi yang menggemaskan.

"Oooeee...ummm...ooeekk."

"Hei? Ini Tousan diamlah..." Naruto masih berusaha membuat Ryuki diam.

Naruto mengusap lembut pipi Ryuki dengan ibu jarinya.

"Diamlah Ryuki-chan," Ucap Naruto dengan sabar, dan beberapa saat kemudian Naruto merasakan perutnya hangat, dan Ryuki berhenti menangis. Lalu dengan rasa penasaran Naruto meraba perutnya. "Payah sekali kau mengompol!" Ucap Naruto dengan wajah konyolnya.

"Mmh..hhh" Hinata menahan tawanya melihat ekspresi Naruto.

"Hinata kau mentertawaiku?"

"Mhh...tidak" Hinata menggeleng.

"Lalu apa?"

"Hahahahah.. Tidak!" Tawa Hinata yang sedari tadi tertahan kini tidak dapat ditahan lagi.

Bagi Naruto ini pertama kalinya melihat Hinata tertawa begitu lepas, sangat manis dan tidak dibuat-buat.

"Benar kau mentertawakanku Hinata, kau memang selalu senang jika aku sial!"

"Haaha...haha...sudahlah, kemarikan Ryuki, biar aku ganti celananya" Ucap Hinata meraih Ryuki dari gendongan Naruto.

"Ah..jadi kotor, kenapa tidak pakai diapers saja?" Naruto mengibas-ngibaskan tanganya diatas bajunya yang basah.

"Maaf, diapersnya habis Naruto." Hinata merebahkan Ryuki ditempat tidurnya.

"Ck memalukan sekali, kau itu Namikaze. Apa kata orang jika tau keluarga Namikaze kehabisan popok bayi?" Gerutu Naruto yang bagi Hinata itu lucu. Hinata menahan tawanya.

"Iya maaf, besok aku akan membeli sebanyak mungkin, kalau perlu pabriknya kau beli saja tuan Namikaze." Ucap Hinata mencoba bercanda. Naruto cemberut.

"Aaeehh...uuh..aaeh" Sementara Ryuki hanya senyum-senyum manis mendengar suara kedua orang tuanya.

"Kau senang Ryuki-chan?" Kata Hinata sambil mencubit pelan pipi gembil Ryuki.

"Dasar anak nakal!" Naruto mendekati Ryuki dan menggoda Ryuki, pura-pura sebal, yang malahan dibalas Ryuki dengan tertawa.

"Yasudah...aku ganti pakaian dulu, tidurlah kucing rewel." Naruto mencium pelan pipi Ryuki.

Lalu berniat keluar kamar Hinata dan mengganti pakaianya, tapi baru saja melangkahkan kakinya. Tiba-tiba.

"Aaaeek...o.. ...,umm.." Ryuki menangis lagi.

"Eh...Ryuki? Kenapa lagi?" Hinata bertanya-tanya, berusaha menenangkan Ryuki yang tiba-tiba menangis.

"Menangis lagi ya?" Naruto mendekati Ryuki dan Hinata diranjangnya. Dan Ryuki-pun terdiam.

"Eh?" Hinata dan Naruto berpandangan, seolah bertanya apa yang terjadi.

"Ryuki-chan? Kau tidak mau aku pergi dari kamarmu?" Tebak Naruto.

"Bukan itu maksudnya Naruto!" Jawab Hinata sedikit sewot, menganggap Naruto mengada-ada.

"Aku yakin."

Lalu dengan sengaja Naruto mundur beberapa langkah, memastikan bahwa Ryuki menangisi kepergian Naruto.

Dan terang saja,

"Uuuh..hik...oooeek..."

Ryuki kembali menangis dengan lantang.

"Kau lihat kan? Ryuki tidak mau aku pergi?" Ucap Naruto meyakinkan Hinata.

"Lalu?" Hinata memasang wajah tidak mengerti.

Naruto bersedekap, iris birunya memutar tanda ia sedang berfikir. Lalu seperti ada lampu menyala didalam otaknya.

"Aku akan tidur disini malam ini." Jawab Naruto singkat, melirik Hinata.

"Apa?! Tidak mau!" Ucap Hinata, pipinya langsung memerah.

"Kalau tidak mau kau yang tidur dikamarku." Jawab Naruto santai.

"Ap-apa lagi itu?! Tidak mau!"

"Lalu bagaimana? Apa aku membawa Ryuki tidur bersamaku tanpamu?"

"Jangan! Aku tidak mau jauh dari Ryuki, la-lagipula dia harus minum susu!" Rengek Hinata gagap, malah terlihat manis.

"Lalu bagaimana bagusnya?" Tanya Naruto, melipat tanganya didepan dada.

Hinata diam sejenak, meremas-remas jarinya berfikir apa yang akan dilakukanya.

Lalu memejamkan matanya sebentar, menarik nafas "Hh...baiklah, Kau boleh tidur disini, tapi sampai Ryuki tidur saja!" Jawab Hinata terpaksa.

"Baguslah, aku akan mengambil pakaian dan gulingku sebentar." Baru saja Naruto akan pergi kekamarnya "Hik...hikk...eemmm..."

Ryuki menangis lagi.

"Ryuki-chan? Kenapa kau cengeng sekali?" Keluh Hinata mengusap pipi Ryuki. Lalu menoleh ke Naruto yang ada dibelakangnya, "Kau disini saja! Biar aku yang mengambil pakaian dan gulingmu!" Ucap Hinata kesal. Lalu dengan berat hati bangkit dari duduknya.

Naruto meringis melihat mimik kesal wajah Hinata.

"Hehe..maaf merepotkanmu, kurasa memang Ryuki-chan sangat menyayangiku." Ucap Naruto dengan nada mengejek, Hinata mendelikan mata lavendernya pada Naruto dan melewatinya begitu saja.

Sesampainya dikamar Naruto, Hinata langsung membuka lemari pakaian Naruto. Memilihkan piyama pengganti yang terkena air kencing Ryuki.

Entah kenapa Hinata harus memilih, bukankah seharusnya hinata mengambil salah satunya saja? Entahlah. Namun nyatanya Hinata memilih warna lavender pudar kesukaanya untuk piyama Naruto.

Setelah memilih piyama, Hinata mengambil selimut tebal berwarna baby orange milik Naruto, dan satu guling bersarung senada dengan selimutnya.

Hinata melihat-lihat sebentar kamar Naruto. Terakhir ia masuk kamar ini kira-kira 8 bulan yang lalu, saat kandunganya masih muda, dan beberapa hari yang lalu saat menjemput Ryuki. Tapi Hinata tak memperhatikan kamar ini.

Dan yang dahulu tak ia lihat adalah sebuah foto disamping tempat tidurnya, foto Ryuki dan Naruto yang diambil Sasuke beberapa hari yang lalu, terlihat hangat dan lucu.

Dan yang membuat Hinata sedikit tak percaya adalah foto disamping foto Ryuki, foto pernikahanya dengan Naruto. Foto itu memperlihatkan Naruto yang sedang mengecup kening Hinata, dan disitu pipi Hinata tampak merah.

Padahal foto itu diambil dengan memaksa mereka, tapi hasilnya sangat hidup. Seperti keduanya sangat rela dan bahagia saat itu.

Hinata-pun kini ikut memerah pipinya mengingat saat itu, tidak pernah berfikir bahwa Naruto juga menyimpan foto itu. Malahan kini memasangnya.

Sadar terlalu lama berada dikamar sang suami, Hinata dengan cepat meninggalkan kamar Naruto.

Sesampainya dikamar Hinata sedikit gelagapan dengan Naruto yang sudah tidak mengenakan baju atasanya memperlihatkan dada bidang dan perutnya yang terlihat kokoh, dia sedang mengusap-usap pipi Ryuki.

Pipi Hinata memerah terasa panas, dadanya berdegup keras menyaksikan hal yang menurutnya terlalu seksi itu. Lalu dengan ragu melangkahkan kakinya menghampiri Naruto.

"N-N-Naru..to" Panggilnya susah payah.

Naruto mengangkat kepalanya melihat Hinata, lalu duduk.

Hinata meletakan selimut dan guling milik Naruto ditempat tidurnya. Semakin salah tingkah saat melihat dada bidang Naruto yang seksi.

"I-Ini p-pakaianmu," Ucapnya masih tergagap dan menyodorkan pakaian Naruto.

"Oh...terima kasih," Naruto menerima pakaian itu. Menyadari perubahan pada wajah Hinata.

"Kau demam Hinata?" Tanya Naruto, yang melihat Hinata mematung diujung bed.

"T-tidak!" Jawabnya sok netral, padahal dadanya sudah berdetak tak beraturan.

Naruto sudah memakai piyama pilihan dari Hinata.

"Kau mau terus berdiri disitu? Atau tidur disini?" Tanya Naruto menepuk-nepuk permukaan bed.

Hinata yang tersadar langsung salah tingkah, canggung dan malu.

"I-iya" Hinata lalu naik ketempat tidurnya disamping kanan Ryuki, dan Naruto disamping kiri Ryuki. Posisi Ryuki kini berada ditengah-tengah orang tuanya.

"Ngomong-ngomong ini piyamaku yang lama, kenapa kau mengambilnya?" Tanya Naruto yang sudah berbaring santai disamping Ryuki.

"Eh..." Hinata masih duduk canggung dengan keadaan itu, "I-ituh... kkebetulan a-aku suka warna ungu, jadi aku ambil saja." Jawab Hinata jujur, menundukan kepalanya malu.

"Oh...begitu? Ini juga piyama kesukaanku." Jawab Naruto nyengir, entah jujur atau hanya ingin membuat Hinata senang.

"Benarkah?"

Naruto mengangguk.

"Sudahlah ayo kita tidur." Ajak Naruto yang melihat Hinata tak juga merebahkan dirinya.

"Kau takut? Tenang saja aku tidak akan memakanmu. Lagipula ada Ryuki disampingmu kan?" Rayu Naruto agar Hinata tak canggung tidur denganya.

"Bu-bukan itu," Hinata ragu,

"Ayolah..." Naruto menarik paksa lengan Hinata agar berbaring disampingnya.

"Aaah!" Hinata memekik kaget.

Karena terlalu keras menarik lengan Hinata wajah Hinata condong diatas wajah Naruto, kedua pasang manik indah itu kembali bertemu, menciptakan debaran jantung keduanya terpompa lebih cepat.

Sebelum terjadi hal yang tidak Hinata inginkan, dengan cepat ia menarik dirinya.

"Maaf aku terlalu keras menarikmu." Ucap Naruto, menyadari Hinata sedikit takut.

"Tidak apa-apa." Jawabnya cepat, lalu berbaring menutupi tubuhnya dengan selimut tebal dan membelakangi Naruto dan Ryuki. Andai Naruto bisa melihat, kini wajah Hinata masih memerah. Begitupun juga dengan Naruto yang sedari tadi terus mengembangkan bibirnya.

/

Keesokan malamnya, Naruto kembali tidur dikamar Hinata. Tentu saja karena Ryuki menangis jika tidak ada Naruto didekatnya.

Untung saja hal itu hanya berlaku jika malam.

"Hinata...umm...Hinata,"

Belum juga ada satu jam, Naruto mulai berlulah dalam tidurnya, mengigau. Mengigau adalah penyakit Naruto yang benerapa minggu ini selalu datang setiap tidurnya.

Dan dada Hinata semakin berdegup kencang saat sayup-sayup telinganya mendengar suaranya disebut Naruto.

Hinata menoleh kebelakangnya, mendapati Naruto yang sedang memeluk gulingnya dengan erat sambil menyebut namanya.

Hinata salah tingkah, pipinya memerah, gugup dan sedikit ngeri menerka apa yang dimimpikan Naruto.

Lalu tubuh Naruto bergerak, beberapa kali gerakan, dan berakhir dengan tanganya mengenai tubuh kecil Ryuki. Ryuki terganggu, dan mengeluarkan suara ketidak nyamananya.

Hinata yang melihat hal itu menyakiti Ryuki, lalu memindahkan tangan Naruto pelan. Tapi berkali-kali Naruto mengulangi hal yang sama.

Hinata sedikit sebal pada Naruto, membuat Ryuki tidak nyaman dan terusik.

"Naruto...? Naruto? Bangun.!" Hinata mencoba membangunkan Naruto dan berniat menyuruhnya pindah kekamarnya, karena rencana awal memang jika Ryuki sudah tidur Naruto harus kembali kekamarnya. Tapi berkali-kali dibangunkan pemuda itu masih tidur pulas seperti bayi Ryuki, membuat Hinata merasa tidak tega membangunkanya. Dan hasilnya Hinata akan membiarkanya tidur dikamarnya sampai pagi.

Lucu, Tampan dan tenang. Hinata sedikit terpesona saat melihat wajah Naruto ketika tidur, tidak seperti biasanya, menyebalkan.

Hinata tersenyum dan seperti terhipnotis, Hinata mengangkat tanganya. Dengan perasaan campur aduk diberanikanya tangan halus dan lembut itu membelai pipi Naruto pelan.

Tersenyum manis saat mulai menyadari Naruto itu adalah pemuda yang tampan, sangat tampan.

Membandingkan dengan makhluk kecil disampingnya, mereka benar-benar mirip, walau sang putra tidak memiliki kulit dan garis dipipi seperti ayahnya. Mereka berdua sangat tampan.

Hinata semakin mengembangkan bibir tipisnya, tersenyum. Entah apa yang harus dia adukan kepada Tuhan untuk semua ini. Haruskah bersyukur atau menyesal?.

Pemuda yang sedang terlelap disampingnya itu adalah orang yang menodainya, Hinata tidak akan pernah lupa hal itu. Dan makhluk kecil disampingnya itu adalah putranya, putra yang sangat dia sayangi, putra yang lahir dari kebejatan pemuda itu.

Entahlah, haruskah dia bahagia atas semua ini? Tapi nyatanya memang Hinata kini bahagia.

Bahagia karena ada Ryuki, dan haruskah kini Hinata bersyukur karena telah dinodai Naruto?

Entahlah, pemikiran-pemikiran itu terlintas dibenak Hinata dan membuat Hinata menggelengkan kepalanya.

Menyadari perlakuanya pada Naruto, sedikit memalukan jika sampai ketahuan, Hinata menjauhkan tanganya dari pipi Naruto dan memindahkan Ryuki disamping kirinya, dan posisi Hinata kini ditengah antara Ryuki dan Naruto. Apa lagi kalau tidak untuk melindungi Ryuki dari Naruto yang tidurnya 'bar-bar'.

Meski begitu, Hinata menata dua guling sebagai pemisah antara dirinya dan Naruto. Tidak disangka, membiarkan Naruto tidur bersamanya akan merepotkan seperti ini.

/

Kini berganti Hinata yang terusik ditidurnya, bukan karena aroma citrus, juga bukan hawa hangat beraroma mint yang kini dihirupnya. Tetapi saat ia rasakan pinggangnya sedikit terbebani, seperti tertindih satu kilogram batu.

Saat manik indahnya terpaksa harus ia buka untuk melihat apa yang terjadi, tiba-tiba matanya langsung membulat, pipinya terasa panas, menyadari tangan kekar berwarna tan milik Naruto memeluk erat pinggang yang kini sedikit berisi itu, bahkan yang membuat Hinata semakin malu, adalah tanganya yang juga memeluk pinggang Naruto.

Dan Hinata seakan mati rasa saat wajahnya dan wajah Naruto sudah berhadapan, berjarak begitu dekat, sampai Hinata bisa merasakan hembusan nafas hangat Naruto.

Belum sempat memindahkan tanganya yang bertengger ditubuh Naruto, kini pemuda bermata lautan itu membuka matanya, terkejut juga pastinya dengan posisi itu.

Dan untuk yang kesekian kalinya, mata mereka bertemu, saling berpandangan dan merasakan hembusan nafas dari keduanya.

Hening seketika, hanya detak jantung keduanya yang terdengar dimalam yang sunyi itu.

Detak jantung Naruto dan Hinata berdetak tidak normal, berdetak dengan cepat.

"Eh?" Hanya itu saja suara yang mampu dihasilkan Hinata.

Sementara tatapan terkejut Naruto kini berubah melembut walau detak jantungnya masih tak beraturan.

Tanpa ada kata yang terucap, dan tanpa suara Naruto mengikuti instingnya, dengan lembut mengeratkan pelukanya. Menarik pinggang Hinata semakin merapat dipelukanya. Dan itu berjalan tanpa penolakan, sampai akhirnya Naruto dapat merasakan hangatnya Hinata.

Keduanya masih saling bertatapan, tatapan yang membuat keduanya saling menghipnotis.

Dengan detak jantung seperti tabuhan genderang perang, Naruto semakin mendekatkan wajahnya diwajah putih Hinata, nafas Naruto berhembus hangat dibibir yang berwarna peach yang terlihat indah dimata Naruto.

Dengan perasaan yang juga tidak metentu, Hinata melihat bibir Naruto semakin mendekat dengan bibirnya, ingin menolak tapi Hinata tidak mampu dan memilih memejamkan matanya.

'Cuph' kedua bibir manusia berbeda gender itu bersentuhan pelan, lalu Naruto mengecup bibir lembut Hinata. Membuat jantung keduanya seperti berhenti berdetak. Merasa pusing, gelap, namun seperti melayang diudara. Sungguh ciuman penuh perasaan itu adalah pengalaman pertama bagi keduanya, dan mereka sepertinya pingsan ditempat.

Memang ini bukan seutuhnya yang pertama bagi keduanya, tetapi saat ini keadaanya berbeda. Kali ini ciuman itu terasa sangat lembut dan manis.

Keduanya saling memberi dan menerima, tidak ada paksaan seperti saat itu.

Setelah beberapa menit bibir itu masih bersentuhan, Hinata tersadar dan mendorong pelan dada bidang Naruto dan melepaskan tangan Naruto.

"Iih! Me-menyebalkan!" Pipi chubby Hinata masih sangat merah, matanya tidak berani menatap wajah Naruto.

"Eh..maaf," Sesal Naruto.

Lalu Hinata membelakangi Naruto, "K-kau mencari... kesempatan!" Ucapnya lirih, masih malu.

"Siapa yang mencari kesempatan? Kau sendiri yang tidur disampingku, jangan salahkan aku jika aku mengira kau gulingku." Bantah Naruto, membela diri.

"Aku tadi sudah menata dua guling diantara kita! Dan kau membuangnya kan?" Balas Hinata tidak terima.

"Aku tidak membuangnya, hanya saja aku tidak tahu kenapa guling-guling itu semuanya terjatuh." Naruto menggaruk-garuk kepalanya.

"Kau yang menjatuhkanya!"

"Aku tidak tahu! Lagipula kenapa bisa kau memindahkan Ryuki? Kau ingin dekat-dekat denganku kan?" Selidik Naruto.

"Jangan seenaknya!" Hinata memukul Naruto dengan bantalnya, dan Naruto hanya menangkis sekenanya. "Kau tidur seperti kuda, tanganmu menimpa tubuh Ryuki-chan!"

"Benarkah?"

"Iya! Sekarang pergilah! Ryuki sudah tidur, kau bisa kembali kekamarmu!" Perintah Hinata jengkel.

"Baiklah baiklah..." Dengan berat hati Naruto bangun dari tidurnya dan berniat pergi kekamarnya, Namun...

"Hik...hik...eeeuukk...uuuuee..." Ryuki terbangun lagi.

Hinata memutar bola matanya bosan, "Kau boleh tidur disini," Ucap Hinata malas, menyadari Ryuki yang sepertinya hanya pura-pura tidur, terbukti jika Naruto pergi dia menangis.

"Baiklah...baiklah...Ryuki-chan" Kata Naruto, kembali ketempat tidurnya.

Hinata bangun dan mengangkat tubuh Ryuki untuk ditenangkan, "Ini jam minum susu Ryuki-chan, jadi tutup wajahmu saat aku menyusui!"

"Baiklah...silahkan, cerewet sekali" Keluh Naruto, membaringkan tubuhnya lagi dan membelakangi Hinata. Sementara Hinata menyusui Ryuki

Keduanya terdiam larut dalam pikiranya masing-masing.

Diam-diam keduanya mengingat kejadian yang baru saja terjadi, menyentuh pelan bibir mereka. Ciuman itu masih terasa menempel, Naruto tersenyum, sementara Hinata menggelengkan kepalanya cepat. Dan pipi-pipi Naruto dan Hinata kembali memerah.

/

Sudah dua hari Naruto tinggal satu kamar dengan Hinata. Hal itu karena Ryuki benar-benar mempunyai feeling yang kuat. Setiap kali Naruto beranjak meninggalkanya, Ryuki menangis. Dan bangun saat tidur jika Naruto pergi.

Bagusnya hal itu hanya berlaku jika malam saja, sedangkan siang Ryuki seperti membiarkan ayahnya pergi kuliah dan bermain dengan Sasuke. Hmm Good job Ryuki!

Pagi ini adalah hari minggu, Naruto masih meringkuk memeluk gulingnya yang kini sudah satu setel dengan sarung guling Hinata.

Sementara Hinata memandikan Ryuki dikamar mandinya, dibantu dengan babysitternya, karena untuk urusan yang satu ini Hinata belum bisa melakukanya dengan baik. Oleh karena itu, walau memutuskan untuk merawat Ryuki sendiri, Hinata dibantu babysitter untuk memandikan Ryuki.

Setelah Ryuki mandi, Hinata membawanya ketempat tidurnya disamping Naruto, memakaikan baju Ryuki. Stelan kaus berwarna orange, dan tak lupa sedikit bedak dan minyak telon sebagai penghangat.

Hinata tersenyum senang melihat hasil karyanya yang membuat Ryuki tampak semakin tampan.

"Nah...Ryuki-chan, kau sudah keren. Kau siap untuk pergi hari ini?" Ujar Hinata, mendekatkan wajahnya dan mencium pipi Ryuki yang wangi.

"Oouu...ooouuh..."

Naruto yang mendengar suara dan Hinata disampingnya, membuka matanya dengan malas.

Dan yang pertama dilihatnya adalah Ryuki yang sudah rapi.

"Hei... kau sudah mandi pangeran kecil?" Dengan suara yang masih mengantuk Naruto mengulurkan tanganya, mengusap pipi Ryuki.

"Tentu saja, memangnya kau pemalas!" Sahut Hinata.

"Cerewet," Jawab Naruto sebal.

"Mandilah! Hari ini Ryuki-kun harus imunisasi. Antarkan aku kerumah sakit!"

"Tentu saja, tapi bisakah kau meminta dengan lembut?" Protes Naruto.

Hinata mengerucutkan bibirnya sebal, "Naruto, kau mau kan mengantarkanku dan Ryuki-kun imunisasi?" Ulang Hinata dengan lembut.

Naruto tersenyum iseng menatap wajah Hinata.

"Tentu saja tuan putri," Jawabnya.

"S-siapa yang tuan putri?"

"Kau! Dan aku pangeranya." Jawab Naruto, dan pipi Hinata langsung memerah.

"Kenapa pipimu jadi merah? Kau malu ya?"

"T-tidak!"

"Gagapmu kambuh."

"S-siapa yang gagap?"

"Kau, dari dulu kau memang gagap kan?"

"Jangan sok tahu!"

"Dan kau jangan sok galak. Aku dulu sering memperhatikanmu, kau kan gadis pemalu, kau juga sering mencuri-curi memandangiku kan?"

"K-kata siapa!?"

"Mengaku saja." Naruto duduk dari tidurnya, lalu mendekatkan wajahnya ketelinga Hinata, Hinata mematung. lalu Naruto membisikan sesuatu. "Kau dulu sangat pemalu dan manis, maka jadilah yang seperti dulu. Manis.'cuph'" Naruto mencium pipi Hinata dan membuat Hinata melebarkan iris uniknya.

"Aku mandi dulu." Naruto nyengir dan pergi begitu saja, sebelun Hinata sadar dan melemparnya dengan bantal lagi.

Namun setelah tersadar, Hinata malah melemas dan menjatuhkan dirinya disamping Ryuki dengan pipi yang masih merah.

"Aaaaaaa... Naruto..." Hinata menutup wajahnya dengan kedua tanganya salah tingkah sendiri.

Ryuki nyengir senang.

...

"Ryuki bobok...ooh..Ryuki bobok, kalau tidak bobok... digigit nyamuk..." Hinata duduk menghadap jendela kamarnya, bersenandung lirih menidurkan Ryuki yang baru saja diimunisasi.

Tanpa ia sadari, sepasang safir indah memandangnya sedari tadi. Dan kemudian mendekat.

"Kau sudah siap jika harus berpisah dengan Ryuki chan?" Tanya Naruto dengan nada sedikit berat.

Hinata menoleh atas kedatangan Naruto, "Kenapa kau menanyakan itu?"

"Sebentar lagi kita akan bercerai, kau tau kan?" Jawab Naruto menatap keluar dari jendela yang kini dijadikanya tumpuan sikunya.

Hinata mengangguk pelan.

"Ryuki akan tinggal disini bersamaku, kau boleh menengoknya kapan saja jika kau mau."

"Apa maksudmu! Ryuki-chan akan ikut denganku!" Jawab Hinata tak suka.

"Aku tau, dari awal Kaasan yang akan mengasuh Ryuki." Jawab Naruto, masih melempar pandanganya diluar sana.

"Aku Kaasanya! Aku yang akan merawat Ryuki!" Hinata tidak terima.

"Bukankah kau tidak mengininkanya! bahkan kau mau menggugurkanya kan!"

"Itu dulu Naruto! Aku sangat mencintai Ryuki, aku akan membawa Ryuki pulang!"

"Tidak bisa!" Naruto berbalik menghadap Hinata didepanya.

"Kenapa! kau dulu juga tidak mengakuinya kan!" Jawab Hinata tidak mau kalah.

"Sekarang berbeda! aku juga sangat mencintai Ryuki!" Jawab Naruto juga.

"Tidak boleh!"

"Walau belum lama, hidupku sudah terbiasa dengan Ryuki, aku tidak siap jika harus berpisah dengan Ryuki!"

"Kalau begitu hadapi Tousan dan Neji jika kau terus memaksa!"

"Akan kulakukan!"

"Kau tidak takut menghadapi Tousanku?"

"Bahkan jika Tousanmu menembaku, aku tetap akan merebut Ryuki!"

"Kau keras kepala! pokoknya Ryuki akan tinggal bersamaku, Ryuki itu putraku, darah dagingku!"

"Kau cerewet sekali! Ryuki juga darah dagingku!"

"Tapi aku kaasanya! aku yang berhak!" Bentak Hinata.

"Bagaimana kalau kau hamil lagi?bdan kau boleh membawanya bersamamu, Ryuki chan bersamaku!"

"Apa maksudmu!" Bentak Hinata tak mengerti.

"Maksudku?" Naruto menatap Hinata tajam, Hinata bergidik ngeri. "Ini.."

Lalu dengan cepat Naruto merebut paksa Ryuki.

"M-ma-mau apa kau!"

"Biarkan Ryuki-chan tidur diBoxnya." Naruto meletakan Ryuki yang sudah tidur diBoxnya, Hinata menatap tak mengerti.

Lalu Naruto mendekati Hinata yang masih terdiam.

"Aku mau ini..." Naruto menerkam Hinata dan dengan sedikit kasar mendorong Hinata dikasurnya, dan menindihnya.

"Tidak! jangan Naruto!, lepaskan!"

"Sebentar saja.." Naruto memaksa Hinata untuk melakukan hubungan suami istri.

"Tidak mau!" Hinata memukul-mukul dada bidang Naruto.

"Ayolah hanya sebentar Hinata,,"

"Kau gila.." Hinata berontak.

"Satu bayi lagi untukmu,"

"Uuummh...Naruto...lepaskan!" Hinata berusaha menolak, namun pada akhirnya menyerah dan melayani Naruto.

Sementara ditangga sudah ada Minato, Kushina, Hiashi dan Neji yang mengobrol, berjalan masuk kekamar Hinata, untuk menengok Ryuki.

'Kriiieeet...' Kushina membuka pintu kamar Hinata, "Ryuki-chaaa..." kalimatnya tidak selesai melihat adegan panas yang Naruto dan Hinata lakukan.

Keduanya menoleh kepintu yang terbuka.

"Tousan? Kaasan?" Naruto kaget setengah mati. Apalagi ada Hiashi dan Neji yang langsung melebarkan iris amethystnya melihat Hinata berada dibawah Naruto.

"Maaf Naruto, Hinata." Kushina dengan wajah yang memerah menutup kembali pintunya dan berujar kepada Hiashi dan Neji yang memasang wajah tegang."Ehehehe... sepertinya perceraian mereka akan ditunda sampai cucu kedua kita lahir." Kushina nyengir, menggaruk kepalanya yang tidak gatal.




Bersambung