Aye, aye, ayeyeyeyeyeye!!! Uhuy!! –joget-joget gaje-. Chapter 8 akhirnya
selesai! Dengan penuh perjuangan dan pertumpahan darah yang hebat –lebay-
akhirnya Blue berhasil menyelesaikan chapter 8!! Maap ye, sodara-sodara, abang,
mpok, babe, enyak (napah jadi betawi? Author edan!). Hahaha, Blue lagi sarap
(emang!). Ending fict ini mungkin akan selesai di chapter 9 atau 10. Okey dah,
ga usah banyak bicara dan basa-basi langsung aja baca.
Oh iya, ada 1 hal yang Blue perlu sampaikan. Seorang teman bernama Mugiwara piratez bertanya pada Blue dan belum sempat Blue jawab.
Mugiwara Piratez: Hohohoho, jawabanmu ada di chapter ini. Blue mau kok jawab semua pertanyaanmu. Berhubung kamu tidak ada account ffn, jadi Blue tidak bisa jawab. Blue jawab di sini saja ya, sekaligus kamu bisa membaca fict Blue. Okey?
Disclaimer: Punya Blue!! *di bunuh Om Kishi*
Enjoy it!
Chapter 8
.
.
.
TBC...
Woho!! Akhirnya selesai juga! Cepat atau lama? Mau cepat atau lama Blue tetep update kan? Hehehehe.. Wah, ada slight SasuSaku ya.. Bwahahahaha! Selain NaruHina, Blue juga suka sama SasuSaku. Jadi, penggemar NaruSaku dan SasuHina ga usah flame ya kalau mau review..
Oh iya, ada 1 hal yang Blue perlu sampaikan. Seorang teman bernama Mugiwara piratez bertanya pada Blue dan belum sempat Blue jawab.
Mugiwara Piratez: Hohohoho, jawabanmu ada di chapter ini. Blue mau kok jawab semua pertanyaanmu. Berhubung kamu tidak ada account ffn, jadi Blue tidak bisa jawab. Blue jawab di sini saja ya, sekaligus kamu bisa membaca fict Blue. Okey?
Disclaimer: Punya Blue!! *di bunuh Om Kishi*
Enjoy it!
Chapter 8
Rainbow Butterfly
Seorang gadis berambut biru langit dengan mata orange ruby yang tajam seperti
ingin memakan seseorang. Ia berjalan atau tepatnya berlari dengan tidak
beraturan di koridor sekolah. Seperti pasukan perang akan menuju medan perang.
Lantas saja membuat semua orang disitu mengerutkan dahi mereka dan sedikit
ketakutan ketika melihat wajah ganas gadis itu.
"HARUNO SAKURA!! DIMANA KAU??!! MANA YANG NAMANYA HARUNO SAKURA?!!
BRENGSEK!!"teriak gadis bernama Miru itu menyusuri setiap lorong dan kelas
mencari-cari sosok Sakura. Dengan kalap, ia berlari ke arah kantin.
"Ya ampun!! Teiko-kun tadi malam ganteng banget! Kyaa! Penampilannya
benar-benar keren!"pekik Fuuka menceritakan tentang semalam baru saja dia
melihat konser Mikao Teiko (Artis dalam fict ini.) di tv.
"Iya, gila!! Keren banget sih!! Uuuh, ganteng banget. Aku pengen deh ketemu
dia. Biar aku bisa cium-cium dia."sahut Sakura mengawang-ngawang.
"Ah, kau terlalu banyak bermimpi, Sakura. Sasuke saja belum kau dapatkan kau
sudah berkata ingin mencium Teiko-kun. Itu bagianku tahu!"seru Fuuka tak mau
kalah.
"Heh, kau menyindirku ya? Lihat saja, Sasuke-kun pasti akan jatuh ke
tanganku. Bukan gadis sialan itu. Lagian, kau kan sudah punya Shino. Nyadar dong
udah punya status."kata Sakura jutek.
Sakura dan Fuuka mendengar suara ribut-ribut dari arah koridor sekolah yang
menuju kantin. Sakura melangkah ingin mengetahui apa yang terjadi. Baru saja
melangkah 3 jengkal, tiba-tiba ia sudah terjatuh karena terkena tamparan
seseorang yang begitu kencang hingga cukup membuatnya terpental dari tempatnya
berdiri ke tempat Fuuka duduk.
"Aduh! Apa-apaan sih?! Miru, apa-apaan kau?! Menamparku sembarangan tak
jelas!"ketus Sakura memegang pipinya yang merah terasa ngilu. Miru menghampiri
Sakura. Semua siswa-siswi di situ melihat dengan tegang. Mereka tahu, Miru
pernah mematahkan tangan seorang siswa jahil yang pernah mencoleknya sembarangan
dan memakan waktu 3 bulan di rumah sakit. Maka dari itu, mereka takut apa yang
akan terjadi pada Sakura.
"Heh!! Aku tak akan menamparmu kalau aku tidak punya alasan! Kau apakan
Hinata-chan hah?!! Sudah kuduga, kau mengundangnya ke pesta ulang tahunmu hanya
ingin mempermalukannya saja kan?!! Sakura, dengar baik-baik. Sasuke dan Hinata
dekat itu tak lebih dari seorang teman! Jangan kau merasa cantik jadi siapa pun
yang dekat dengan Sasuke selalu kau celakai! Hey, Sakura sadar! Sasuke saja
tidak menyukaimu!"bentak Miru keras-keras membuat Sakura malu di depan umum.
Sekarang dirinya yang dipermalukan oleh Miru.
"Ini bukan urusanmu, Miru! Kau tidak ada hubungannya dalam masalah ini!"sahut
Fuuka menghentakkan kakinya.
"Diam kau! Aku tidak berbicara denganmu, bodoh! Tentu saja aku ada
hubungannya. Sudah kubilang aku tidak akan membiarkan orang-orang yang berniat
mencelakai Hinata-chan! Ini peringatan terakhir, Haruno Sakura! Sekali lagi kau
buat masalah dengan Hinata-chan, kubuat kau menginap di rumah sakit selama 6
bulan!"ancam Miru lalu pergi meninggalkan Sakura dan Fuuka yang masih dengan
wajah memerah menahan malu.
"Mi.. Miru-chan.. A-apa kamu tadi melabrak Sakura-san?"tanya Hinata begitu
Miru sampai di kelas. Miru menghela nafas dan mengangguk.
"Miru-chan.. Aku tidak menyuruhmu untuk melabrak Sakura-san.."
"Tapi dia perlu di beri pelajaran! Kau terlalu baik padanya, Hinata-chan!
Padahal dia sudah mempermalukannmu! Bisakah kau bersikap sedikit tegas?!"bentak
Miru mencengkram bahu Hinata. Hinata terkejut. Sifat emosional Miru keluar lagi.
Hinata tahu Miru tidak suka ia bersikap terlalu baik pada semua orang. Karena,
belum tentu semua orang baik padanya.
"Haah.. Gomenasai, Hinata-chan.. Aku keluar kendali.."sesal Miru. Hinata
tersenyum.
"Tidak apa-apa."Drrtt.. Hp Hinata bergetar. Segera saja ia membuka pesan baru
itu.
From: Naruto-kun
Istirahat nanti, bisakah kau ke taman belakang sekolah? Aku
tunggu.
Wajah Hinata bersemu merah. Memang Hyuuga Hinata. Baru mendapatkan sms dari
Naruto saja wajahnya sudah bersemu merah seperti itu. Dan, seseorang mengetahui
isi sms itu ketika Naruto meletakkan handphonenya begitu saja di mejanya.
Sasuke hendak ke kamar kecil. Ketika akan masuk, tak sengaja ia mendengar
Sakura dan Fuuka sedang berbincang-bincang di depan toilet wanita. Sasuke
mendengar mereka berbicara tentang pesta semalam.
"Hah, rasakan itu Hinata. Aku yakin pasti dia malu sekali sekarang. Dan, tak
akan berani keluar kelas."kata Sakura angkuh.
"Ya, itu benar sekali. Kau bisa melihat wajahnya? Penuh dengan krim kue.
Sudah seperti badut. Hahahahaha!"tawa Fuuka keras. Sakura ikut tertawa.
"Tidakkah dia sadar aku mengundangnya hanya ingin mempermalukannya? Tepat
sekali saat aku pura-pura jatuh, kue itu sudah melayang ke wajah dan gaun
Hinata. Menarik. Hahahahaha!"ucap Sakura angkuh.
"Karena, aku tidak akan membiarkan Sasuke-kun jatuh ke tangan Hinata.."
"Jadi, semua itu sudah direncanakan rupanya ya?"Sakura dan Fuuka terkejut
tiba-tiba Sasuke sudah muncul di samping mereka. Matanya penuh dengan sorotan
kebencian. Kalau Sasuke tak ingat mereka adalah wanita, mungkin Sasuke sudah
menghajarnya habis-habisan.
"I-ini tidak seperti yang kau bayangkan, Sasuke-kun! Aku.. aku.."Sakura
berusaha mengelak tetapi tak ada alasan yang tepat untuk membohongi Sasuke.
"Kau kira aku tuli?! Aku mendengar semua percakapanmu tadi! Sakura, aku tak
menyangka kau sejahat itu! Asal kau tahu Sakura, sifatmu inilah yang membuatku
tidak menyukaimu!"tuding Sasuke pedas. Sakura terkejut.
"Aku tidak suka dengan perempuan yang bukan siapa-siapa aku sudah sok-sok
melarang orang lain untuk berdekatan denganku! Memang kau siapa? Suka saja
tidak. Itulah yang membuatku tak suka padamu, Sakura! Perbaikilah dirimu kalau
kau ingin dicintai orang yang kau cinta!"bentak Sasuke lalu pergi. Sakura diam
mematung. Perlahan, air matanya jatuh. Fuuka mengusap bahunya saat Sakura
menangis tersedu-sedu.
***
KRIIIINGG!! Bel istirahat berbunyi. Di saat semua anak pergi ke kantin untuk
memberi makan pada perut mereka, Hinata malah pergi ke taman sekolah. Tentu saja
menunggu seseorang yang tadi menyuruhnya ke sini. Dengan sabar dan hati senang,
Hinata menunggu di bangku panjang. Semilir angin begitu menyejukkan.
Hingga..
"Hinata.."Seseorang menyadarkan lamunan Hinata dan menyapanya. Hinata segera
menengok ke arah pemanggilnya dan seketika raut wajahnya berubah.
"Gawat! Gawat! Pasti Hinata-chan sudah menunggu!! Ah, Ebisu-sensei ribet
banget sih! Hanya gara-gara aku lupa mengerjakan PR saja aku harus menulis
sebanyak 5 lembar!"keluh Naruto berlari-lari menuju taman belakang sekolah.
Ketika sampai, ia menemukan Hinata sedang bersama seseorang yang ia kenal. Kotak
yang berada di genggaman Naruto terjatuh saat melihat seseorang itu. Naruto
terdiam di balik tembok itu. Menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Aku harus meminta maaf pada Sasuke-kun.. Aku tahu dia pasti sangat marah
denganku."ujar Sakura menggigit kuku kelingkingnya. Menelusuri setiap koridor
mencari-cari sosok sekolah.
Langkahnya melaju menuju ke taman belakang sekolah. Siapa tahu Sasuke ada di
sana, pikirnya. Tebakan Sakura benar. Dia melihat Sasuke sedang duduk di sebuah
bangku panjang. Tapi, tampaknya dia sedang berbicara dengan seseorang. Saat
Sakura melangkah lebih dekat, mata Sakura membulat terkejut.
"Sa.. Sasuke-kun?"seru Hinata. Sasuke menghela nafas. Mengadahkan kepalanya
ke atas melihat langit yang biru. Apakah ini saat yang tepat untuk mengatakan
semua itu? Ya, mungkin.. Tak ada kesempatan lagi selain sekarang.
"Ada yang ingin kukatakan padamu, Hinata.."
"A-apa?"
Sasuke memejamkan matanya dan menghirup nafas dalam-dalam. Setelah siap, ia
membuka mulutnya untuk berbicara sesuatu.
"Aku.. mencintaimu.."
Kalian bisa bayangkan wajah 3 orang yang sedang di tempat itu? Naruto, Hinata
dan Sakura benar-benar tidak menyangka Sasuke akan berkata seperti itu pada
Hinata. Hinata menutup mulutnya tidak percaya. Bagaimana bisa Sasuke
mencintainya, padahal Hinata sama sekali tak pernah memberikan sedikit harapan
pun pada Sasuke? Kenapa bisa seperti ini?
Naruto menggeram. Mengepalkan tangannya dengan kuat sampai tangannya terasa
ngilu karena kukunya sendiri. Ternyata, dugaannya selama ini benar. Sasuke
mencintai Hinata. Tetapi, kenapa Sasuke tak mau bermain sportif dengannya?
Itulah yang disesalkan Naruto. Sasuke hanya berani bermain belakang. Naruto juga
tidak akan marah kalau seandainya Sasuke berani mengaku ia juga mencintai
Hinata. Naruto mau bersaing sprotif, tapi bukan seperti ini caranya.
Sakura menutup mulutnya. Ia tidak mau Sasuke dan Hinata mendengar isak
tangisnya. Air matanya turun deras. Dugaannya salah selama ini. Bukan Hinata
yang mencintai Sasuke tetapi Sasuke yang mencintai Hinata. Ia bukan hanya merasa
patah hati, tapi juga malu. Malu sudah menuduh Hinata yang tidak-tidak. Sakura
segera meninggalkan tempat itu sebelum Sasuke dan Hinata menyadari
keberadaannya.
"A-apa?!! Sa.. Sasuke-kun.. K-kau bercanda kan?"tanya Hinata. Sasuke
menggeleng. Hinata semakin bingung.
"Aku menyukaimu sejak kau menyembuhkan lukaku saat bermain bola. Kau baik,
lembut, ramah. Sosokmu seperti ibuku yang sudah lama meninggal. Maka dari itu,
aku menyukaimu. Karena aku merasa nyaman bila dekat denganmu."Hinata benar-benar
bingung. Kenapa perkataan Sasuke sama seperti perkataan Naruto yang mengatakan
bahwa mereka nyaman dengannya karena dirinya seperti sosok ibu mereka?
"Ta-tapi, a-aku tak pernah memberikan respon yang baik padamu.. A-aku tak
pernah tahu kau menyukaiku.."
"Sekarang kau tahu. Dan, aku tahu kau menyukai Naruto kan?"tebak Sasuke
membuat Hinata tersentak kaget.
"Aku tahu itu. Tetapi, itu tak membuatku menyurutkan keinginanku untuk
menyatakan perasaanku padamu. Aku butuh jawabanmu. Aku ingin secepatnya."kata
Sasuke beranjak berdiri. Memandang Hinata lama lalu pergi. Hinata mematung
disitu. Menangis. Ia merasa bersalah. Bersalah pada Sasuke, Naruto dan
Sakura.
Bukankah Sakura mencintai Sasuke? Kenapa Sasuke malah mencintainya? Inikah
sebabnya Sakura membencinya? Lalu, bagaimana dengan Naruto? Ia menyukai Naruto,
tetapi Hinata tak tahu apa Naruto juga menyukainya. Semua pertanyaan itu
berkecamuk di kepala Hinata.
"Permainan yang bagus, Sasuke.."Sasuke terkejut ketika tahu ternyata Naruto
ada dibalik tembok saat ia akan pergi. Naruto menatap Sasuke tajam.
"Naruto?! Sejak kapan kau ada di sini?!"
"Jangan mengalihkan pembicaraan, Teme!! Kau kira aku tidak tahu apa yang kau
katakan barusan dengan Hinata-chan hah?!!"bentak Naruto menarik kerah seragam
Sasuke.
Kami-sama.. Aku ketahuan.. Bagaimana ini? Akankah persahabatanku dengan
Naruto berakhir sampai di sini?
"Kenapa kau tak bilang kalau kau juga menyukai Hinata-chan, Sasuke?!!
Kenapa?!! Apa kau main belakang?! Menusukku dari belakang, begitu?!"
"Aku tidak mau menyakiti hatimu, Naruto! Aku takut persahabatan kita akan
berakhir kalau aku mengakui aku menyukai Hinata! Aku tak mau bersaing denganmu
karena aku tahu Hinata lebih dekat padamu daripada aku!"ketus Sasuke tak mau
kalah.
"Tapi sekarang kau sudah menyakitiku! Sekarang kau sudah mengakhiri
persahabatan ini! Sahabat macam apa kamu menusuk sahabatnya sendiri?! Kalau kau
memang menyukai Hinata-chan, ayo bertanding secara sportif denganku! Jangan
menusuk dari belakang!! Aku lebih suka kau jujur, daripada kau bohong! Kalau kau
memang menyukai Hinata-chan, aku tidak akan melarangmu karena aku juga belum
memiliki Hinata-chan!!! Benarkan?! BENARKAN UCHIHA SASUKE?!!!"teriak Naruto di
depan wajah Sasuke. Sasuke tak bisa menjawab.
Naruto mengangkat kepalan tangannya tinggi-tinggi. Mengarahkan ke wajah
Sasuke bermaksud untuk menonjok Sasuke. Sasuke tak melawan. Walau dia sudah
memegang sabuk coklat, dia benar-benar tak ada niatan untuk melawan. Sasuke
merasa dia pantas mendapatkan semua itu.
"Ayo, tonjok aku. Tunggu apalagi?"pinta Sasuke setelah menunggu 20 detik agar
Naruto melayangkan tinjunya ke wajah Sasuke. Tetapi, Naruto tak menggerakan
kepalannya.
"Huh."Naruto menurunkan kepalannya dan melepaskan cengkraman di kerah Sasuke
lalu pergi. Sasuke memegang keningnya. Semua sudah ketahuan. Sekarang, apa yang
bisa dilakukannya sekarang? Sasuke tertunduk menyesal.
Ternyata apa yang tidak diinginkan Sasuke terjadi. Naruto menjauh darinya.
Sejak masuk kelas tadi, Sasuke melihat Naruto sudah duduk di samping Kiba karena
kebetulan Lee tidak masuk dan akhirnya Naruto dengan Kiba juga dengan alasan
menjauhi Sasuke. Naruto menatap Sasuke dengan tajam seolah-olah ingin
membunuhnya. Sasuke hanya menghela nafas. Sasuke sudah tahu resikonya akan
seperti ini. Dia akan kehilangan orang yang dicintai juga sahabat yang dia
sayangi. Nah, apa yang bisa Sasuke perbuat sekarang?
"Naruto, kau sedang bertengkar dengan Sasuke? Tidak biasanya kau duduk
denganku. Padahal, kau dan Sasuke sudah seperti kembar siam lengket
terus."celetuk Kiba ketika melihat Naruto menatap Sasuke dengan tatapan
membunuh.
"Entahlah. Yang terpenting, aku tak mau duduk dengannya lagi. Orang yang
bisanya menusuk dari belakang. Aku tak suka itu."kata Naruto lalu membuka
bukunya. Kiba hanya mengangkat bahu. Daripada jadi sasaran amuk Naruto, dia
lebih memilih membungkam mulut.
***
KRIIINGG!! Bel pulang telah berbunyi. Ketika semua siswa pulang ke rumah
masing-masing untuk menistirahatkan mata dan otak mereka setelah melewati
pelajarannya yang membuat mata berputar-putar dan otak miring, tidak untuk satu
orang. Sakura malah melangkahkan kakinya ke Taman Konoha yang kebetulan saat itu
sedang sepi. Duduk termenung. Perlahan-lahan, air matanya jatuh. Sakura belum
bisa melupakan kejadian tadi. Bagaimana bisa melupakannya kalau kejadian tadi
tepat di depan matanya. Sakura menangis, menarik-narik roknya sebagai
pelampiasannya. Lalu, apa yang bisa dia perbuat? Toh Sasuke tak akan pernah
mencintainya.
"Ini.."seseorang menyodorkan sapu tangan berwarna merah muda dengan sebuah
tulisan -yang tampaknya disulam- bertulis Cherry Blossom. Sakura mendongak. Raut
wajahnya berubah saat melihat orang yang menyodorkan sapu tangan itu.
"Hi-Hinata??"
"Ini.. Punya Sakura-san kan? Ta-tadi terjatuh di dekat taman belakang
sekolah."kata Hinata menyerahkan sapu tangan Sakura. Tersenyum ramah. Sakura
menerimanya dengan ragu. Bagaimana tidak malu menuduh orang yang tidak
bersalah?
"A-aku tahu Sakura-san melihat kejadian tadi. M-maaf bila aku membuat
Sakura-san marah lagi. Ta-tapi, aku benar-benar tak mempunyai niat menyakiti
hati Sakura-san. A-aku juga tidak menyangka Sasuke-kun akan berkata seperti
itu.."
"Untuk apa kamu minta maaf? Aku-lah yang salah!!"sahut Sakura dengan wajah
beruraian air mata. Hinata mengelus pelan punggung Sakura.
"K-kamu tidak salah kok. A-aku tahu sebenarnya Sakura-san orang yang baik.
Dan, a-aku juga tahu Sakura-san mencintai Sasuke-kun. Ha-hanya saja, cara
Sakura-san mencintai Sasuke-kun salah."ucap Hinata dengan senyum yang ramah.
Sakura menatap Hinata, lalu tiba-tiba memeluknya. Hinata terkejut.
"Maafkan aku, Hinata.. Aku sudah jahat padamu.. Aku tahu aku memang egois.
Aku sangat mencintai Sasuke-kun. Aku tak mau kehilangannya. Tapi karena
tingkahku, sekarang aku kehilangannya. Aku benar-benar bodoh!!"umpat Sakura pada
dirinya sendiri.
"Sakura-san, tidak boleh ngomong seperti itu. Belum ada kata terlambat. A-aku
juga belum menjawab pernyataan cinta dari Sasuke-kun. Lagipula, aku tak akan
menerima Sasuke-kun karena.. aku memang tak mencintainya.."ucap Hinata yang
membiarkan bahunya basah karena air mata Sakura.
"Maafkan aku, Hinata.. Maafkan aku.. Aku benar-benar menyesal. Seandainya
saja aku berpikir terlebih dahulu sebelum bertindak. Pasti aku tidak akan
menyesal seperti ini."kata Sakura masih terisak.
"Aku sudah memaafkan Sakura-san sebelum Sakura-san minta maaf padaku. A-aku
juga tahu sebenarnya Sakura-san orang yang baik. Dan, a-aku mungkin bisa
membantu Sakura-san untuk dekat Sasuke-kun.."kata Hinata berusaha menghibur.
"Benarkah?"Hinata mengangguk. Sakura memeluk Hinata dengan erat.
"Terima kasih Hinata.. Terima kasih.."ucap Sakura berulang kali. Hinata
mengangguk. Gadis indigo ini menghela nafas lega. Ternyata, Sakura membencinya
hanya karena sebuah salah paham.
Naruto meninggalkan Sasuke yang berada di belakangnya. Biasanya, setelah
pulang sekolah mereka akan bermain game online di warnet atau kalau tidak mereka
akan nongkrong di Cafe Vernandz. Tapi kali ini, mereka tak bisa melakukan hal
itu. Sasuke tahu sekarang Naruto membencinya karena Sasuke sudah membohongi
Naruto. Sasuke menerima semua itu karena Sasuke merasa dirinya pantas
diperlakukan seperti itu.
BRAAAKK!! Naruto membanting kuat-kuat pintu rumah ketika dia masuk ke rumah.
Mengagetkan Konohamaru dan Inari yang sedang bermain PS, dan Jiraiya yang sedang
menyiram kaktus kesayangannya. Dilihatnya Naruto naik ke atas kamarnya dengan
wajah yang kusut dan langkah terburu-buru. Pasti ada sesuatu, pikir Jiraiya. Ia
meletakkan selang di samping bunga matahari lalu menghampiri kamar Naruto.
"Brengsek! Brengsek!! Sialan!! Sasuke sialan! Dasar pengkhianat! Menusuk dari
belakang! UAGGHH!!!"Naruto melempar bantalnya ke arah pintu tepat saat Jiraiya
akan masuk.
"Naruto? Kau kenapa datang-datang langsung marah-marah seperti ini?! Tidak
seperti kau biasanya."tanya Jiraiya memungut bantal itu. Naruto memunggungi
Jiraiya. Sepertinya dia sedang tidak ingin bercerita dengan siapa pun.
"Hey, ceritalah pada ojii-san. Ada apa dengan dirimu? Ada masalahkah?"
"Ini bukan urusan ojii-san! Sekarang, bisakah ojii-san tinggalkan aku
sendiri?! Aku sedang tidak mau bertemu dengan siapa pun!"usir Naruto. Jiraiya
terkejut. Jiraiya akhirnya menurut, mungkin sekarang Naruto sedang ingin
sendiri. Nanti dia juga akan bercerita sendiri dengannya. Sepeninggal Jiraiya,
Naruto berdiri mematung. Air matanya perlahan-lahan jatuh membasahi lantai
kamarnya. Menyedihkan..
Hinata bisa menenangkan Sakura yang tadi sakit hati. Sekarang, apakah dia
bisa menenangkan dirinya sendiri? Rasanya cukup sulit. Pernyataan Sasuke tadi
cukup membuatnya bingung dan sedih. Dia merasa bersalah pada Sasuke karena bisa
membuat Sasuke mencintainya, di lain sisi hatinya hanya untuk Naruto seorang.
Hinata juga tidak tega untuk menolak Sasuke, tapi harus bagaimana? Dia tidak
bisa membohongi perasaannya dan perasaan Sasuke. Hatinya benar-benar menolak
kehadiran Sasuke dan hanya menerima kedatangan Naruto.
"Hinata..."tegur Neji tiba-tiba sudah berada di belakang Hinata yang sedang
menangis di bantalnya. Hinata terkejut. Buru-buru diusapnya air matanya yang
berlinangan itu.
"Ne.. Neji-niisan?"
"Ada apa denganmu? Ceritalah.. Jangan kau sembunyikan. Kalau kau sembunyikan,
kau akan merasa lebih berat. Tak apa, ceritakan masalahmu padaku."kata Neji
mengusap pelan punggung Hinata. Hinata langsung menangis tersedu-sedu di dada
Neji dan menceritakan semua apa yang terjadi.
"APA?!! Sasuke bilang dia menyukaimu?! Mustahil!"sentak Neji sangat terkejut.
Neji tak menyangka orang sedingin Sasuke bisa mencintai orang selembut adiknya,
Hinata.
"I..iya niisan.. A-aku juga tidak percaya dia mengatakan itu.. Ku-kukira dia
sedang bercanda atau membuat lelucon.. Ta-tapi, kulihat dari matanya dia
serius.."isak Hinata di dada Neji.
"Aku tahu perasaanmu. Sekarang kau sangat bingung kan? Kau tak tega pada
Sasuke, tapi di lain sisi hatimu hanya untuk Naruto."ucap Neji. Hinata
mengangguk.
"Hinata, aku tak bisa membantumu banyak. Tapi kau harus jujur pada Sasuke
bahwa kau memang tak mencintainya. Kau memang orang yang tidak tegaan, tapi
dalam hal seperti ini kau harus bisa bersikap tegas pada dirimu sendiri. Jangan
kau bohongi perasaanmu dan perasaan Sasuke. Itu akan lebih menyakitkan bagi
dirimu dan Sasuke. Kalau kau memang mencintai Naruto, nyatakanlah. Dan kau harus
bisa mengatakan yang sejujurnya pada Sasuke bahwa kau tidak pernah
mencintainya."kata Neji memberi nasihat.
Hinata termenung. Apa yang dikatakan Neji benar. Dia tidak boleh membohongi
perasaannya dan perasaan Sasuke. Itu akan menyakiti hati Sasuke. Dan, Naruto?
Hinata bertekad untuk menyatakan perasaannya pada Naruto. Neji membelai-belai
rambut panjang Hinata. Menenangkan Hinata yang tengah terisak itu.
Lama-kelamaan, Neji sudah tidak mendengar suara tangis Hinata.
"Hinata?"panggil Neji. Hinata tak menyahut. Neji melihat wajah Hinata.
Ternyata, gadis mungil itu telah menutup matanya dan terdengar dengkuran kecil
dari bibirnya. Neji tertawa kecil. Di rebahkannya Hinata di kasurnya, lalu
dengan pelan Neji keluar kamar Hinata.
***
Jam 5 sore, Jiraiya sedang membersihkan toko bukunya. Jiraiya membangun usaha
kecil-kecilan yaitu ia membangun toko buku yang tidak terlalu besar. Berawal
dari hobinya yang suka menulis, jadilah dia mempunyai toko buku. Tidak besar
memang, tetapi dia sudah mempunyai 2 cabang di Sunagakuen dan Kirigakuen. Semua
penghasilan itulah yang mampu mencukupi kebutuhan Naruto, Konohamaru dan Inari.
Saat sedang asyik membersihkan rak buku novel, Jiraiya merasa seseorang ada di
belakangnya.
"Oh, Naruto. Ada apa kau ke sini? Tumben sekali. Mau membaca buku ya?"sapa
Jiraiya ramah meletakkan kemocengnya. Wajah Naruto tertunduk, tapi raut wajahnya
masih menampakkan ekspresi marah. Jiraiya duduk di meja kasir.
"Apa kau sudah mau cerita padaku?"tanya Jiraiya. Naruto menghela nafas. Ia
mengambil sebuah kursi dan duduk disamping Jiraiya.
"Kukira, Sasuke sahabat yang baik. Ternyata tidak sama sekali!"umpat Naruto
mengepalkan tangan kirinya.
"Oh, kau sedang bertengkar dengan Sasuke. Kenapa? Ada masalah apa?"
"Dia merebut Hinata-chan dariku, Ojii-san!!"teriak Naruto membuat Jiraiya
sedikit terkejut.
"Merebut bagaimana? Kau juga belum pacaran dengan Hinata kan?"cetus
Jiraiya.
"Tadi di sekolah, aku berniat menyatakan perasaanku pada Hinata-chan. Kusuruh
Hinata-chan untuk menungguku di taman belakang sekolah. Saat aku disana, kulihat
Sasuke dan Hinata-chan sedang duduk berdua. Dan, kudengar Sasuke bilang bahwa
dia mencintai Hinata-chan. Aku tidak melarangnya untuk menyukai Hinata-chan,
tapi bisakah dia bersikap sportif?! Kenapa harus main belakang?!"ketus Naruto
memukul-mukul meja.
"Oh, jadi itu masalahnya. Ternyata wanita ya."sahut Jiraiya manggut-manggut.
Naruto memandang Jiraiya heran.
"Jangan hanya 'oh' saja, Ojii-san!! Bantu aku!"
"Hey Naruto, kau pikir aku tidak pernah mengalaminya? Kau tahu, ceritamu sama
dengan ceritaku. Saat aku juga mencintai Tsunade, ternyata Orochimaru juga
mencintainya. Aku juga pernah merasakannya."kata Jiraiya bernostalgia.
"Lalu, apa yang ojii-san lakukan?"
"Naruto, Sasuke pasti punya alasan mengapa dia tak mau bertanding sportif
denganmu. Apakah Sasuke mengatakan sesuatu padamu?"tanya Jiraiya memegang bahu
Naruto.
"Ya, katanya dia tak mau menyakiti hatiku bila aku tahu dia juga mencintai
Hinata-chan."jawab Naruto. Jiraiya tersenyum.
"Itulah alasannya. Dia tak mau menyakiti hatimu. Baginya, kau juga sama
pentingnya dengan Hinata. Sama-sama orang yang dicintainya. Sasuke tak mau
kehilangan Hinata, tetapi dia juga tak mau kehilanganmu. Maka dari itu, dia
menyembunyikan perasaannya pada Hinata kepadamu."kata Jiraiya.
"Tapi kenapa dia harus bohong?! Aku tak akan marah bila dia mau jujur, aku
lebih suka secara sportif! Tak usah menusuk dari belakang!"sentak Naruto.
"Dengarkan aku, Naruto. Kau pernah bilang kan kalau Sasuke tak pernah
mencintai 1 wanita pun? Mungkin ini pertama kalinya Sasuke jatuh cinta. Apalagi
yang dicintainya orang yang dicintai sahabatnya. Sasuke bukan orang yang
berpengalaman, maka dari itu dia sulit mengungkapkan perasaannya. Harusnya kau
bisa mengertikan? Kau sudah 3 tahun bersahabat dengan Sasuke, janganlah kau
bersikap egois, Naruto. Sasuke punya alasan. Semua orang punya alasan jika
melakukan hal itu."nasihat Jiraiya menepuk-nepuk kepala Naruto.
Naruto diam mematung. Kata-kata Jiraiya memang benar. Sasuke punya alasan.
Sasuke bukan tipe orang yang mudah jatuh cinta, mungkin ini kali pertamanya
Sasuke jatuh cinta. Tapi, bukan Naruto namanya kalau dia tidak keras kepala.
Naruto masih saja marah dengan Sasuke. Otak Naruto berputar dan menghasilkan
sebuah rencana yang sekiranya Naruto dan Sasuke bisa bertanding sportif.
***
Keesokan harinya di sekolah, Sasuke masih duduk termenung. Memain-mainkan
bolpointnya dan membantingnya ke lantai. Sasuke benar-benar pusing. Kenapa
perasaan itu harus ada? Seandainya saja Sasuke mencintai gadis lain, bukan gadis
yang disukai sahabatnya.
"Hey, kau. Ikut aku."Tiba-tiba Naruto datang, dan langsung menarik kerah baju
Sasuke menyeretnya ke lapangan basket. Naruto mendorong Sasuke dan Sasuke
melepas paksa cengkraman Naruto dari kerahnya.
"Apa-apaan ini?!"tanya Sasuke. Kehadiran Naruto dan Sasuke mengundang
perhatian banyak orang. Naruto melemparkan seragam karate ke arah Sasuke. Sasuke
menangkap dengan tatapan heran. Dilihatnya Naruto yang telah memakai seragam
taekwondo.
"Kita bertarung!! Karena kau tidak berani bertanding secara sportif untuk
mendapatkan Hinata-chan, sekarang kita adu fisik!!"kata Naruto menyiapkan
kuda-kudanya.
Tentu saja itu memancing emosi Sasuke. Hey, Naruto memang kau siapa beraninya
menghina Uchiha Sasuke di depan umum? Meski Naruto adalah sahabat Sasuke, tetapi
Sasuke tak akan membiarkan seorang pun menghina dirinya. Segera saja Sasuke
memakai seragam karatenya.
"Baiklah kalau itu maumu. Kita lihat, siapa yang lebih kuat."kata Sasuke juga
menyiapkan kuda-kudanya. Sakura yang tak sengaja melihat itu, ketakutan.
"Gawat! Aku harus segera mencari Hinata!"gumam Sakura. Ia berlari menuju
kelas Hinata. Tetapi, belum ada 5 langkah Sakura melihat Hinata dan Miru di
depan gerbang hendak masuk ke sekolah.
"Hinata-chan, kenapa kau begitu lemas sih? Tampaknya kau tidak semangat hari
ini."kata Miru melihat wajah Hinata yang terus menunduk. Hinata menggeleng. Miru
dan Hinata melihat Sakura tengah berlari-lari menghampiri mereka.
"Mau apa lagi?!"bentak Miru ketika Sakura sudah di depan mereka. Sakura
terkejut.
"Tidak. Aku hanya ingin berbicara dengan Hinata."kata Sakura dengan nada yang
terdengar khawatir.
"Ada apa, Sakura-san?"
"Naruto.. Naruto dan Sasuke sedang berkelahi di lapangan basket!
Sekarang!!"kata Sakura dengan nafas yang tersengal-sengal. Hinata dan Miru
kaget. Mereka saling pandang dan langsung lari ke lapangan basket.
Hinata melihat Naruto dan Sasuke yang tengah bertarung dengan menyebut-nyebut
namanya. Naruto hendak menendang wajah Sasuke, tetapi dengan lihai Sasuke
menangkis kaki Naruto hingga membuat Naruto mundur. Sasuke mengepalkan tangannya
dan hendak menuju perut Naruto. Naruto mundur, mencengkram tangan Sasuke dan
memilintirnya.
"Akh!!"rintih Sasuke. Hinata menutup mulutnya terkejut. Hanya dalam waktu 3
bulan, Naruto sudah menguasai semua tehnik taekwondo. Sasuke memegang tangannya
yang sakit itu.
Tak terima diperlakukan seperi itu, Sasuke menyerang Naruto dengan kalap.
Sasuke melayangkan kakinya ke wajah Naruto, Naruto bisa menangkisnya. Tak
disangka, Sasuke juga melayangkan tinjunya ke wajah Naruto hingga membuat Naruto
terjatuh. Naruto bangun, Sasuke melayangkan lagi tendangannya dan berhasil
ditangkis Naruto. Tetapi itu tak cukup membuat Naruto bertahan dengan serangan
Sasuke. Sasuke menendang perut Naruto membuat Naruto terpental. Darah mengalir
dari mulutnya. Air mata menumpuk di pelupuk mata Hinata.
"Uhuk.. Arrgh.."rintih Naruto memegang perutnya yang sakit itu. Sasuke
menghampiri Naruto dengan kalap.
"Cukup!! Hentikan!!"teriak Hinata menghampiri Naruto dan Sasuke.
"Hinata-chan! Jangan!! Berbahaya!"cegah Miru tetapi Hinata sudah terlanjur
lari.
Sasuke melayangkan tinjunya dan tiba-tiba Hinata sudah berada di depannya,
menghadangnya untuk menghajar Naruto. Tapi, pukulan itu tidak bisa dihentikan.
Karena Hinata datang mendadak, Sasuke tidak bisa menghentikan gerakannya dan
akhirnya Sasuke memukul wajah Hinata membuat Hinata terpental dan pingsan.
Sasuke terkejut. Naruto lebih terkejut lagi.
"Hinata-chan!!!"Miru menghampirinya. Dilihatnya wajah Hinata yang membiru
karena terkena pukulan Sasuke. Darah mengucur dari bibirnya. Sasuke hendak
mendekatinya..
"Apa yang kau lakukan, bodoh?!!!"bentak Miru menonjok Sasuke. Sasuke
merintih. Wajahnya terasa ngilu.
"Maaf.. Aku tidak sengaja.. Aku tidak tahu kalau Hinata datang
tiba-tiba.."kata Sasuke berusaha menolong Hinata. Segera ditepis dengan kasar
tangan Sasuke oleh Miru.
"Jangan sentuh dia, baka!! Naruto, kita harus segera membawa Hinata-chan ke
ruang kesehatan!"perintah Miru. Naruto menggendong Hinata dan menuju ke ruang
kesehatan. Semua orang disitu berbisik-bisik.
"Boleh aku obati lukamu, Sasuke-kun?"tanya seorang gadis yang sudah berada di
belakang Sasuke. Sasuke menengok dan melihat Sakura yang dengan wajah iba
melihat Sasuke. Tak ada tatapan dia sedang mencari kesempatan..
"Boleh..."
Naruto dan Miru mondar-mandir di depan ruang kesehatan. Miru tak bisa diam,
dia khawatir dengan Hinata. Sedangkan Naruto, keringat terus mengucur dari
dahinya.
"Ah, Shizune-sensei. Bagaimana keadaan Hinata-chan?"tanya Miru ketika Shizune
keluar dari ruang kesehatan.
"Tidak apa-apa. Dia hanya butuh istirahat saja. Memar di wajahnya tidak akan
lama sakitnya. Kalau kamu mau, kau boleh melihatnya."kata Shizune lalu
meninggalkan Miru dan Naruto.
"Hinata-chan!"seru Miru menghampiri Hinata yang masih terlelap itu. Naruto
memandang wajah Hinata yang manis itu. Ah, siapa yang tidak tergila-gila pada
Hinata bahwa tidak hanya wajahnya yang cantik tetapi hatinya juga cantik.
"Aw! Pelan-pelan, sakit."rintih Sasuke ketika Sakura mengompres wajahnya.
Sakura mengompres wajah Sasuke dengan hati-hati.
"Ma-maaf.. Sakit ya?"tanya Sakura. Sasuke tak menjawab. Dia membiarkan Sakura
membersihkan lukanya. Setelah mengompresnya, Sakura membalutnya dengan kapas dan
plester.
Ketika Sakura mengobati lukanya, tak sengaja Sasuke melihat jari manis di
tangan kiri Sakura. Dilihatnya sebuah cincin dengan batu imitasi berwarna biru.
Itu.. itu kan cincinnya saat dia waktu kecil?? Kenapa bisa ada di Sakura?
Cincin itu.. Cincin itu milikku waktu kecil.. Aku memberikannya pada
seorang gadis di rumah sakit saat kaasan meninggal.. Apakah, gadis itu adalah
Sakura?
"Sasuke-kun, sudah selesai."kata Sakura menepuk tangannya. Dilihat wajah
Sasuke lalu tersenyum ramah.
"Terima kasih."kata Sasuke. Sasuke mengeluarkan sapu tangan putih dengan
gambar beruang kecil di pinggir kanannya. Sakura mengerutkan dahinya.
Sapu tangan itu? Itu milikku waktu kecil.. Kuberikan pada seorang lelaki
di rumah sakit yang saat itu sedang menangis.. Apakah, lelaki itu adalah
Sasuke-kun?
"Ehm.. Sasuke-kun.. Kalau aku boleh tahu, darimana kau dapatkan sapu tangan
itu? Lucu sekali."tanya Sakura menunjuk sapu tangan yang berada di tangan
Sasuke.
"Ini? Ini punya temanku saat aku kecil dulu.. Kau sendiri, cincin itu
darimana kau mendapatkannya?"jawab Sasuke sekaligus bertanya balik.
"Dari teman masa kecilku.."jawab Sakura singkat. Dan kini, Sasuke dan Sakura
percaya bahwa teman masa kecil mereka adalah orang yang sekarang ada di depan
matanya.
Flashback mode: on
Sasuke dan Itachi menunggu di depan ruang operasi dengan gelisah. Itachi
yang saat itu berumur 12 tahun dan Sasuke yang berumur 10 tahun tengah menunggu
hasil kesehatan Ibu mereka. Dan, 2 menit kemudian seorang dokter berambut coklat
keluar dari ruang operasi itu.
"Dok, bagaimana dengan keadaan ibu saya?"tanya terus mengucur keringat.
Dokter muda itu menggeleng. Itachi tercengang. Air matanya sudah menumpuk di
pelupuk matanya.
Sasuke yang belum mengerti juga arti gelengan itu, menarik-narik ujung
baju Itachi.
"Niisan! Niisan, beritahu aku apa yang terjadi dengan kaasan!!"pinta
Sasuke memaksa. Itachi mengusap air matanya.
"Sasuke sabar ya.. Kaasan sudah pergi ke surga.."jawab Itachi. Walau
masih berumur 10 tahun, Sasuke sudah mengerti apa yang dikatakan Itachi. Air
matanya turun begitu deras.
"Nggak!! Bohong!! Pasti niisan bohong!! Itu tidak benar! Kaasan tidak
boleh meninggalkan aku! Kaasan sudah berjanji akan terus disampingku! Kaasan
tidak boleh mati! Kaasan!!!"raung Sasuke memaksa masuk ke ruang operasi tetapi
di tahan Itachi.
"Sasuke, kau itu laki-laki! Bersikaplah tegar!! Niisan juga sedih, tapi
semua sudah terjadi!!"kata Itachi setengah membentak. Sasuke terkejut. Ia diam
mematung. Lalu, 2 detik kemudian Sasuke lari meninggalkan Itachi.
"Hiks.. Kaasan.. Kaasan bohong!! Kaasan selalu bilang akan terus
disampingku dan menjagaku. Tapi, sekarang kaasan meninggalkanku!! Kaasan
pembohong!"teriak Sasuke di bawah pohon rindang. Ia menangis tersedu-sedu
disitu.
"Heeh... Kenapa kamu menangis?"tanya seorang gadis kecil berambut panjang
berwarna merah muda sambil membawa teddy bear kecil yang tiba-tiba sudah berada
di belakang Sasuke. Sasuke terkejut dan buru-buru menghapus air
matanya.
"Siapa yang menangis? Aku tidak nangis!"kata Sasuke membela diri. Gadis
kecil itu merogoh sakunya, mengeluarkan sebuah sapu tangan putih dengan gambar
beruang kecil di pinggirannya. Lalu, gadis kecil itu mengusap air mata
Sasuke.
"Jangan menangis. Kau kan laki-laki, tidak boleh cengeng.."ujar gadis itu
tersenyum kecil. Sasuke memandang lekat-lekat mata gadis itu. Emerald.
"Siapa kau?"
"Namaku Sakura. Kamu?"
"Sasuke."Gadis bernama Sakura itu tersenyum. Tampaknya dia senang
berkenalan dengan Sasuke.
"Jangan menangis lagi ya. Aku berikan sapu tangan ini untukmu. Mungkin
saja suatu hari nanti kita akan bertemu lagi. Simpan baik-baik ya!"kata Sakura
hendak pergi tetapi dicegah Sasuke.
"Aku harap kau juga bisa menyimpan dengan baik cincin ini."kata Sasuke
menyodorkan cincin batu imitasi berwarna biru milik ibunya. Sakura tersenyum
senang. Entah mengapa bila melihat senyum Sakura, dada Sasuke terasa berdegup
kencang. Ada perasaan malu di dadanya.
"Untuk aku? Wah, terima kasih! Ini cantik sekali! Pasti akan kusimpan
baik-baik. Aku harus pergi. Daaaaa!! Sampai jumpa lagi."Sakura melambaikan
tangannya menjauhi Sasuke. Saat Sasuke berumur 10 tahun, dia bisa merasakan..
First Love..
Flashback mode: Off
Itulah sebabnya mengapa Sasuke tak pernah menyukai 1 gadis pun disekolahnya.
Karena Sasuke masih mencari-cari cinta pertamanya. Awalnya, Sasuke mengira
Sakura adalah gadis kecil itu. Tapi, sifat mereka jauh beda. Sakura si gadis
kecil itu sangat ramah dan menyenangkan, sedangkan menurut Sasuke, Sakura yang
sekarang sangat cerewet dan menyebalkan. Dan, Hinata adalah gadis kedua yang
dicintai Sasuke. Sasuke juga menduga awalnya Hinata itulah gadis kecil yang
dicarinya. Tapi Sasuke juga mengingat bahwa rambut gadis kecil itu bukan indigo,
melainkan merah muda. Namun, Sasuke sudah terlanjur mencintai Hinata dan tak
bisa dibohongi lagi.
"Sasuke-kun, aku harus kembali ke kelas. Ino mencariku. Aku harus segera ke
sana. Ja matte!"Sakura meninggalkan Sasuke yang sedang duduk di bangku lapangan
basket itu.
***
Setelah kejadian tadi, Naruto agak canggung untuk berbicara dengan Sasuke.
Naruto sadar dia salah. Seharusnya dia tidak berbuat seperti itu. Jiraiya benar
Sasuke melakukan hal itu karena dia mempunyai alasan. Sasuke memang tak pernah
menyukai gadis di sekolahnya, setahu Naruto. Naruto memijat keningnya. Dan, 5
menit kemudian Naruto menyambar jaket oranye dan melangkah keluar kamar.
Dinginnya angin malam membuat Sasuke merapatkan jaketnya. Udara sedang tidak
bersahabat. Sasuke terus melangkah tanpa tujuan. Dia masih bingung dan sedih
karena kehilangan sahabatnya hanya karena seorang gadis. Kini, Sasuke telah
berdiri di sebuah rumah minimalis berpagar besi berwarna coklat. Ada rasa ragu
di dadanya untuk memasuki rumah itu. Cowok onyx ini memegang pagar besi itu,
lalu ditariknya kembali tangannya. Sasuke melengos. Mungkin ini terakhir kalinya
aku melihat rumah ini, pikirnya.
"Kalau mau masuk, masuk saja. Membuat orang berdiri saja."celetuk seseorang
di belakang Sasuke. Sasuke segera membalikkan badannya dan melihat sosok yang
dia kenal berada di depannya.
"Naruto.."
"Ahh, kau ini kemana sih? Kucari di rumahmu kata Itachi-niisan kau sedang
pergi. Kucari di Cafe Vernandz kau tidak ada. Huh, seperti hantu saja kau
menghilang di segala tempat."kata Naruto sedikit ketus dan mengalihkan wajahnya
ke arah lain. Terlihat senyum kecil di wajah Sasuke.
"Maaf.. Tadi, sebenarnya aku ingin ke rumahmu. Tapi, aku ragu. Aku pikir ini
untuk terakhir kalinya aku bisa melihat rumah ini."kata Sasuke menyesal. Naruto
terdiam.
"..."
"Aku tahu kau pasti masih marah padaku. Sekarang, terserah kau saja mau
apakan aku. Kau boleh menonjokku, memukulku, terserah asal itu bisa membuatmu
puas."sambung Sasuke.
Naruto melangkah perlahan menuju Sasuke. Kedua tangannya terkepal. Sasuke
pasrah. Apapun akan dilakukannya agar sahabatnya mau memaafkannya. Saat sudah
tepat berada di Sasuke, Naruto menatap dalam-dalam mata hitam Sasuke. Sasuke
menghela nafas. Sudah siap dengan tinjuan Naruto.
Tapi, tak disangka. Bukannya memukulnya Naruto malah menepuk bahu Sasuke
dengan kedua tangannya dan memeluk Sasuke dengan hangat. Sasuke tercengang.
"Seharusnya aku yang minta maaf karena sudah salah paham denganmu. Aku
seharusnya mengerti, bahwa kau tidak sengaja melakukan hal itu. Kau tidak
sengaja mempunyai perasaan yang sama denganku pada Hinata-chan. Kau pasti punya
alasan bukan?"kata Naruto.
"Naruto.. Arigatou.."
"Sudahlah, kita kan sahabat. 10 tahun kita menjalin persahabatan masa hanya
dalam waktu sehari berakhir begitu saja? Aku juga tidak mau. Hanya karena
seorang gadis, kita harus berpisah."kata Naruto dengan senyuman yang begitu
dewasa.
"Hahahaha. Kau memang Dobe yang kukenal."sindir Sasuke membuat Naruto sedikit
tersinggung.
"Heeeh?! Dasar Teme!! Sialan kau!!"
Naruto mengaduk es cappucinonya saat Sasuke menceritakan alasannya dia bisa
terjebak dalam perasaan cinta yang tidak ia inginkan pada Hinata di Cafe
Vernandz. Sesekali, cowok sapphire ini menyeruput esnya hingga menyisakan esnya
saja.
"Ya, aku tahu itu. Ojii-san juga berkata bahwa kau pasti mempunyai alasan
mencintai Hinata-chan. Maafkan aku yang terlalu temperamental."kata Naruto
mengaduk-ngaduk es batu di dalam gelasnya.
"Hey sudahlah. Sampai kapan kau menyalahkan dirimu sendiri? Ini juga salahku.
Tapi, aku rasa Hinata tidak mencintaiku. Kulihat dia lebih memilih dirimu."ujar
Sasuke menyeruput jus tomatnya dan membuat semburat merah di pipi coklat
Naruto.
"Ah, apa-apaan kau, Teme. Darimana kau tahu? Aku saja tidak tahu dia
menyukaiku atau tidak."sahut Naruto memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Lihat saja sikapnya terhadapmu. Sangat perhatian kan? Dia juga tampak senang
bila kau dekati. Mumpung masih ada kesempatan, nyatakan saja cintamu secepat
mungkin. Maaf saja waktu itu aku mencuri start."canda Sasuke yang disambut
pukulan kecil dari Naruto ke bahunya.
"Bisa saja kau. Tapi, aku ragu dan malu. Bagaimana kalau dia tidak menyukaiku
juga?"
"Aaah, kemana temanku yang bernama Uzumaki Naruto? Orang berisik yang
mempunyai kepercayaan diri tinggi. Tapi mau menyatakan cinta pada seorang gadis
saja dia menjadi ciut begitu seperti kerupuk."sindir Sasuke tanpa menatap
Naruto. Tentu saja membuat Naruto merasa tertantang.
"Kau meledekku ya? Lihat saja, besok akan kunyatakan cintaku pada
Hinata-chan! Dan, caraku menembak Hinata-chan beda dari yang lain. Lihat saja
besok!"ujar Naruto mengepalkan tangannya ke wajah Sasuke. Sasuke hanya mencibir.
Memang Uzumaki Naruto..
***
Esoknya, Naruto bersiap berangkat sekolah. Seperti biasa sebelum berangkat,
dia mengacak-ngacak rambutnya lebih dahulu. Saat akan melangkah keluar, dia
melupakan sesuatu. Naruto mengacak-ngacak lemari bajunya. Setelah menemukan apa
yang dicarinya ia bergegas melangkah keluar.
Sasuke yang sedang asyik mendengarkan lagu itu mengerutkan dahinya begitu
melihat Naruto yang baru sampai di sekolah sudah cengar-cengir tidak jelas.
Terlebih lagi Naruto menjinjing sebuah kantong plastik yang membuat Sasuke
bertanya-tanya apa dari isi kantong itu.
"Apa yang kau bawa, Dobe?"tanya Sasuke melepaskan headset-nya.
"Hehehehehehe. Jawabanmu akan terjawab saat istirahat nanti."jawab Naruto
membuat Sasuke lagi-lagi heran.
KRIIINGG!! Itulah bunyi yang sejak tadi di tunggu-tunggu Naruto. Ia segera
melesat keluar kelas, membuat kantong plastik yang dibawanya tadi dan pergi
entah kemana. Baru saja Sasuke mau mengajaknya ke kantin, Naruto sudah lari
secepat burung unta.
"Hinata-chan, masih memikirkan Naruto dan Sasuke ya? Kau murung terus kulihat
beberapa hari ini."kata Miru melihat Hinata yang bertopang dagu.
"Haah.. A-aku bingung Miru-chan.. A-aku ingin menyatakan perasaanku pada
Naruto-kun, ta-tapi aku juga tidak enak dengan Sasuke-kun.."keluh Hinata. Miru
mengelus pelan punggung Hinata.
"Mohon perhatian.. Hyuuga Hinata siswa dari kelas 11-5 segera menuju ke
lapangan basket. Terima kasih."seseorang memanggil Hinata melalu speaker
sekolah. Hinata dan Miru kaget karena menyuruh Hinata untuk ke lapangan sekolah.
Karena penasaran, segera saja Miru dan Hinata menuju lapangan basket.
Dan, mereka melihat beberapa murid cewek dan cewek (lebih banyak cewek..)
yang sedang mengumpul di lapangan basket sehingga membuat Hinata dan Miru tidak
bisa melihat apa yang sedang terjadi di sana.
"Kyaaaaa!! Keren!!
"Oooh, so cool!!"
"Gila, ganteng banget!! Kyaaaa!"teriakan para cewek itu semakin memperkuat
rasa penasaran Hinata. Segera saja dia menyeruak kerumunan cewek itu dan melihat
seseorang yang dia kenal sedang berada di lapangan basket itu.
Hinata terkejut luar biasa. Naruto sedang bermain basket dengan lincahnya.
Bukan itu yang membuat Hinata terkejut. Melainkan apa yang dikenakan Naruto.
Naruto memakai kemeja putih, jas putih, dan celana panjang putih. Di dadanya
tersemat bunga mawar biru, menampakkan Naruto seperti seorang mempelai pria.
Pantas saja semua cewek disitu berteriak histeris, bisa kalian bayangkan Naruto
berpakaian seperti itu?
Naruto mengusap keringatnya yang bercucuran. Matanya menangkap Hinata yang
tengah berdiri memandang dirinya. Naruto tersenyum dan menghampirinya.
Hehehehe.. Hinata-chan pasti mendengar pengumuman yang menyuruhnya ke
sini oleh Kiba. Good job, Kiba.
"Na.. Naruto-kun?"
"Hinata-chan, kau suka dengan penampilanku?"tanya Naruto. Wajah Hinata tentu
saja memerah melihat Naruto begitu tampannya. Naruto menarik Hinata ke
tengah-tengah lapangan dan menyedot semua perhatian orang-orang.
"Hinata-chan.."panggil Naruto lembut. Memandang dalam-dalam mata lavender
Hinata. Yang dipandang hanya tersipu malu.
Naruto berlutut di depan Hinata. Memegang tangan kiri Hinata, seperti seorang
lelaki yang hendak melamar kekasihnya. Sontak wajah Hinata semerah cherry. Siapa
yang tidak malu bila seseorang yang kita suka melakukan hal itu di depan banyak
orang?
"Sudah lama ingin kukatakan. Kau tahu? Sejak pertemuan kita di hutan itu,
sejak kau selalu menemani hari-hariku yang sepi, sejak kau selalu menghiasi
mimpiku, sejak saat itulah.. Aku.. Mencintaimu.. Aku mencintaimu, Hyuuga
Hinata.. Would you to be my girl?"pernyataan Naruto itu membuat semua
orang membuka mulutnya lebar-lebar. Lebih-lebih Hinata.
"Na.. Naruto-kun.. A-apa kau serius??"tanya Hinata dengan hati yang
berbunga-bunga. Naruto mengambil bola basket dan mawar biru yang berada di
dadanya.
"Bila kau terima cintaku, kau lemparkan bola ini ke ring itu dan kau pakai
mawar ini. Tapi, bila tidak.. Kau lemparkan bola ini ke wajahku dan injak mawar
itu."kata Naruto menyerahkan mawar dan bola basket itu ke tangan Hinata. Hinata
menerima dengan gugup.
Hinata mengarahkan bola basket itu ke arah ring. Sebenarnya, Hinata tidak
mahir dalam basket. Dalam hati Hinata berdoa agar bola ini masuk. Mengambil
ancang-ancang, dan 2 detik kemudian dilemparkan bola itu ke arah ring. Bola
berputar-putar di besi ring yang membuat semua orang mengigit bibir bawah mereka
termasuk Naruto dan Hinata. Setelah seperkian detik dan..
"SHOOOT!!!"Bola masuk dan disambut oleh semua orang yang berada disitu.
Naruto menghela nafas lega. Hinata memegang dadanya lega lalu menyematkan mawar
biru itu ke rambut indigonya. Manis.
"Hinata-chan!! Selamat ya!! Akhirnya keinginanmu untuk menjadi kekasih Naruto
tercapai juga."ucap Miru menghambur ke pelukan Hinata diikuti oleh Kiba.
"Ah, a-arigatou Miru-chan.. I-ini semua juga berkat kamu.."kata Hinata
tersenyum ramah. Tiba-tiba senyumnya pudar ketika melihat siapa yang berada di
belakang Naruto.
"Sa.. Sasuke-kun?? A-aku.."
"Stop Hinata.. Jangan berkata apa-apa."sela Sasuke mengangkat tangannya.
Hinata mengerutkan dahinya.
"Aku sudah tahu kau mau bicara apa. Aku memang tak bisa menyaingi Naruto yang
berada dalam hatimu. Dari dulu aku tahu kau menyukai Naruto. Tak apa, tak perlu
kau bersikap tak enak padaku. Aku sudah tahu jawaban atas pernyataanmu. Ya
sudah, selamat ya."ucap Sasuke mengulurkan tangannya ke Hinata. Hinata membalas
uluran tangan Sasuke.
"Wah, wah kalau begini kita bisa double date dong? Naruto, bagaimana kalau
kau mentraktir kami? Ramen juga tidak apa-apa."sahut Kiba merangkul pundak Miru.
Naruto memukul pelan bahu Kiba.
"Kau ini mau cari kesempatan biar bisa makan gratis ya? Dasar, baiklah. Aku
traktir!"seru Naruto merangkul Hinata. Langkahnya terhenti sejenak ketika Naruto
melihat Sasuke tetap di tempat.
"Hey, Teme. Kau tidak ikut? Kutraktir!"teriak Naruto. Sasuke menggeleng.
"Ya sudah, kalau berubah pikiran ke kedai ramen ya! Ayo Hinata-chan!"Naruto
menggandeng Hinata menyusul Kiba dan Miru yang sudah mendahului mereka.
Sasuke menundukkan kepalanya. Sama saja dia makan hati kalau dia ikut dengan
Naruto. Melihat Naruto dan Hinata suap-suapan? Itu menjengkelkan. Sasuke
menyandarkan tubuhnya ke pohon rindang. Tak terasa, matanya terasa menghangat.
Huh.. Payah, pikirnya.
"Heeeh.. Kenapa kamu menangis?"sebuah suara mengagetkan Sasuke. Suara itu..
Suara yang dicari-cari Sasuke 10 tahun yang lalu. Sasuke mendongakan kepalanya
melihat siapa pemilik suara itu. Tampak seorang gadis berdiri di sampingnya
dengan senyum ramah.
"Kau kan laki-laki. Laki-laki tidak boleh cengeng."
"Sakura?!"
"Aku sudah tahu, Sasuke-kun.. Aku sudah tahu sejak dulu bahwa kau adalah
Sasuke saat masih kecil itu."kata Sakura duduk disamping Sasuke dan mengusap air
mata Sasuke dengan sapu tangannya.
"Sudah tahu? Darimana?"
"Aku sering melihat kau membawa sapu tangan putih itu. Itu milikku saat
kecil."kata Sakura duduk di samping Sasuke. Sasuke menatap Sakura dengan tatapan
tidak percaya.
"Aku tahu kau belum bisa mempercayainya. Tapi, kau dulu mengatakan agar aku
menggunakan cincin ini. Ini yang membuatku selalu mengingatmu, Sasuke-kun.."ucap
Sakura mengacungkan jari manisnya.
"Tapi, kau bukan Sakura yang ku kenal waktu kecil. Dia tidak cerewet dan
terlihat ramah."kata Sasuke belum percaya.
"Itu karena aku takut kehilanganmu. Aku tahu aku salah mencintaimu dengan
cara seperti itu. Aku juga mengira Hinata menyukaimu. Tapi aku salah. Aku
benar-benar bodoh! Bodoh!"umpat Sakura lalu terisak. Air matanya jatuh
tumpah.
Tak lama kemudian, tiba-tiba Sakura merasa dirinya menghangat. Ia tersentak
lalu melihat apa yang terjadi. Sasuke mendekapnya. Mendekap dengan sangat erat.
Sakura terkejut luar biasa.
"Finally, i found you Sakura.. Please.. Don't leave me again.."bisik Sasuke
merengkuh bahu Sakura. Sakura menangis tersedu-sedu di dada Sasuke.
"I'm promise, Sasuke-kun.. I'm promise never leave you again.. I'm
promise.."
Dalam satu waktu, 2 sahabat meraih cinta impian mereka. Hanya berbekalkan
mimpi dan kepercayaan mereka bisa menemukan cinta mereka yang selama ini sudah
merek lewati..
..
.
.
TBC...
Woho!! Akhirnya selesai juga! Cepat atau lama? Mau cepat atau lama Blue tetep update kan? Hehehehe.. Wah, ada slight SasuSaku ya.. Bwahahahaha! Selain NaruHina, Blue juga suka sama SasuSaku. Jadi, penggemar NaruSaku dan SasuHina ga usah flame ya kalau mau review..
Sumber : https://www.fanfiction.net/s/5556135/8/Rainbow-Butterfly
Tidak ada komentar:
Posting Komentar