MISS YOU
DISCLAIMER : NARUTO, HINATA, DAN CHARA
YANG LAINNYA ADALAH MILIK MASASHI KISHIMOTO
HAN, YAZI, HIRUKA, YURI,
DAN MIZUTO ADALAH MILIK AUTHOR :d
GENRE : ROMANCE
RETED : T+
WARNING: TYPO, GEJE, BANYAK PERCAKAPAN,
TANDA BACA SALAH, NO EYD, ALUR TIDAK JELAS, DLL
HAPPY READING d:
Pagi yang begitu cerah menambah semangat seluruh warga Konohagakure menyambut
Hokage baru mereka, tepat pukul 8 pagi saat sang Hokage baru menampakkan dirinya
yang terlihat mengenakan pakaian ninja seperti biasa dengan berbalut-kan jubah
merah bermotif api hitam diujung bawahnya- tak lupa topi Hokage yang menandakan
ia telah resmi menyandang julukan Rokudaime Hokage
Para Kage dari ke-5 negara besar pun turut hadir dalam acara pelantikan
Hokage terkuat sepanjang sejarah Konoha dan juga pahlawan dunia Shinobi, disana
nampak Kazekage yang tengah diurutan paling pojok, disampingnya ada Tsucikage,
lalu Raikage, Mizukage, dan yang terakhir adalah Mifune sebagai wakil dari Tetsu
No Kuni/Negara Besi
Menurut jadwal, 5 menit lagi sang Rokudaime Hokage harus berpidato, tak
dipungkiri lagi perasaan gugup Naruto saat mendengar teriakan bergema dari
warga-nya yang sekarang sudah menjadi tanggung jawab sang rokudaime Hokage untuk
melindungi mereka.
"Naruto-kun kau gugup?" tanya sang kekasih yang setia mendampingi
Naruto disampingnya, terlihat juga Tsunade disamping Hinata.
" t-tidak hime, aku tidak gugup" ucap Naruto memaksakan senyumannya,
walaupun tak bisa dibohongi lagi perasaannya yang campur aduk.
" kau jangan berbohong Naruto-kun, buktinya tangan-mu gemetaran"
ucap Hinata lalu memegang tangan sang Rokudaime Hokage, dan seperti biasa,
Naruto tak akan pernah bisa menyembunyikan sesuatu pada hinata, yang selalu saja
mengetahiu masalah yang sedang dihadapi naruto.
" m-mungkin sedikit hehe" ucap Naruto dengan cengingiran khasnya mencoba
menenangkan Hinata yang memandanginya cemas.
CUP!
Ciuman manis pun didaratkan Hinata di pipi tan Naruto, Naruto yang menerima
itu pun langsung berhenti bergetar, wajahnya merona merah saat menerima
perlakuan Hinata.
" nah, sekarang Naruto-kun tidak usah gugup lagi" ucap Hinata
tersenyum " Naruto-kun kan sudah menghafal teks pidato itu semalaman,
jadi tak usah khawatir".
" hehe, baiklah, tapi aku minta lagi?" ucap Naruto menggoda Hinata.
" e-eh, b-baiklah" ucap Hinata merona.
" tapi disini!" ucap Naruto sambil menunjuk bibirnya.
"e-ehh, kenapa d-disitu?" ucap Hinata gelagapan, sudah tak bisa dibohongi
lagi wajahnya yang sudah semerah tobat.
" ayolah kumohon~" ucap Naruto memohon.
" b-baiklah" Hinata pun memberi kecupan singkat dibibir Rokudaime Hokage.
Tsunade yang tak sengaja melihatnya pun langsung merona dan mendesah pelan "
hahh, Cepatlah bocah, kau sudah harus berpidato!" ucap Tsunade
" baiklah-baiklah" lalu Naruto pun melangkah ke depan meninggalkan Hinata dan
bersiap untuk berpidato
O0O
3 minggu telah berlalu setelah pelantikan yang digelar secara besar-besaran
itu, bahkan konon katanya pelantikan itu adalah yang terbesar karena pertama
kalinya ke-lima kage dan juga beberapa Shinobi dari desa lain ikut serta dalam
pelantikan, tiga minggu itu pula lah kepala Naruto seperti-nya seakan mau copot,
bagaimana tidak, tepat setelah pelantikan, Naruto langsung dihadapkan dengan
setumpuk laporan-laporan yang seharusnya diselesaikan oleh Tsunade sejak
beberapa minggu yang lalu, sungguh malang nasip mu Naruto
Senja pun mulai datang membuat sang mentari harus rela meninggalkan
singgasana nya, perlahan cahaya orange itu menembus melewati celah-celah jendela
ruang Hokage, disana terlihat tiga orang yang tengah sibuk melisensi
laporan-laporan yang seharusnya di selesaikan oleh Godaime.
" setelah meninggalkan semua laporan ini, dia langsung pergi berjudi entah
dimana! " ucap Naruto sambil tetap melisensi tumpukan laporan dihadapannya.
" hahh, seharusnya aku sudah pulang sekarang, membosankan sekali!" ucap
seorang berambut seperti nanas.
" Shikamaru benar, seharusnya aku sudah ketempat Sakura untuk mengajaknya
kencan!" timpal sorang berambut raven
" hahh, baiklah-baiklah, laporan ini kita selesaikan besok saja….Shikamaru,
Sasuke, kalian boleh pulang" ucap Naruto lalu meletakkan pena-nya.
" hahh, melelahkan sekali hari ini" gumam Shikamaru lalu beranjak dari tempat
duduknya.
" hn" timpal sasuke yang sekarang sudah berjalan kearah pintu.
" Shikamaru, kau tutup lalu kunci pintunya!" ucap Naruto lalu menghilang
ditengah kilatan cahaya kuning sebelum Shikamaru protes.
" hoei..hoeii..kenapa kau seenaknya begitu!" gerutu shikamaru
O0O
Dengan secepat kilat Naruto pun telah sampai di depan apartemen-nya, walaupun
sebagai Hokage gaji-nya sudah tergolong tinggi, namun Naruto sepertinya enggan
membeli rumah baru sebelum menikahi kekasih-nya Hinata, Naruto pun berjalan
gontai kearah pintu lalu memutar gagang pintu, seketika itu pula pintu itu
terbuka " Tadaima" ucap Naruto.
lalu dibalas oleh suara lembut dari dalam dapur " Okaerinasai
Naruto-kun" ucap Hinata lalu menghampiri Naruto, memang seminggu
setelah pelantikan, Hinata sering menginap di apartemen Naruto, bahkan bisa
dikatakan setiap hari, tapi Hinata akan pulang saat senja tiba, dan juga Hinata
tak perlu cemas dengan Hiashi Tou-sannya, karena Tou-sannya
sudah menyetujui semua itu, bahkan Hiashi sudah menyetujui Naruto untuk menikahi
Hinata.
" hime, kau belum mau pulang?" tanya Naruto lalu memelingkarkan
lengannya di pinggul Hinata.
" ahh, aku menunggu Naruto-kun pulang" ucap Hinata lalu disusul
dengan "akkhhh" pekikan kecil Hinata saat Naruto menandai tengkuknya dengan
kissmark, " N-Naruto-kun geli" ucap Hinata merasakan Naruto menambah
terus kecupan di lehernya.
" habisnya kau wangi sekali hehe" ucap Naruto lalu melepaskan pelukannya
" sepertinya aku mencium bau ramen" ucap Naruto saat hidungnya mencius
sesuatu yang harum dari arah dapur.
" umm, aku memasakkan ramen spesial untukmu" ucap Hinata lalu berbalik "
sebentar ku ambilkan, Naruto-kun tunggu saja di meja makan" ucap Hinata
lalu berlari kecil kearah dapur.
"yoshh!" ucap Naruto semangat
Beberapa menit kemudian Hinata pun telah datang dari dapur sambil membawa
semangkuk besar ramen buatan nya lalu diletakkan nya didepan Naruto, " ini
ramennya Naruto-kun" ucap Hinata lalu meletakkan semangkuk ramen
didepan Naruto.
" huhaaaa" ucap Naruto dengan mata berbinar , Lalu Naruto pun dengan secepat
kilat menyambar sumpit diatas mangkok lalu mulai memakan ramen dihadapannya ,
tapi kegiatan nya pun terhenti saat menyadari mangkuk ramen didepannya hanyalah
Satu.
" umm, Hime, kenapa ramennya Cuma satu?, kau tidak makan?" ucap Naruto lalu
meletakkan sumpitnya lagi dan memandang Hinata yang duduk di samping Naruto.
" umm tidak, tadi aku sudah makan" jawab Hinata sambil tersenyum manis.
" ohh begitu, baiklah" ucap Naruto lalu menyambar sumpitnya kembali "
Ittadakimasu", Secepat kilat ramen didalam mangkuk itu pun telah habis dilahap
oleh Naruto, tapi sepertinya Naruto belum cukup kenyang.
" Naruto-kun mau nambah?" tanya Hinata yang melihat Naruto belum
puas menjilati sisa ramen dimangkuknya.
" umm, ini enak sekali Hinata" gumam Naruto sambil masih saja menjilati sisa
kuah ramen didalam mangkuk.
" kalau Naruto-kun mau nambah, didapur masih ada sisa sedikit" ucap
Hinata lagi.
" haaa, benarkah" ucap Naruto semangat.
" umm, sini manguknya, kuambilkan lagi" ucap Hinata lalu berdiri dan meraih
mangkuk ditangan Naruto lalu mengisinya kembali dengan ramen didalam dapur, tak
lama kemudian Hinata pun telah tiba kembali dengan setengah mangkuk ramen yang
masih sedikit hangat, " ini Naruto-kun, tapi sudah sedikit dingin" ucap
Hinata lalu meletakkan mangkuk ditangannya didepan Naruto.
" ahh tidak apa-apa hime, ramenmu masih terasa enak kalau dingin" ucap Naruto
lalu memakan lagi ramen keduanya, 10 menit kemudian mereka sepertinya telah
selesai dengan acara makan mereka, Hinata pun tengah bersiap untuk meninggalkan
apartemen Naruto untuk segera pulang karena hari sudah senja.
" Naruto-kun, kau tahu dimana tas ninjaku?" tanya Hinata sedang
mencari sebuah tas berbentuk bulat.
" ah, tidak, sebenarnya kau tadi menyimpannya dimana sih?" ucap Naruto tapi
Naruto tidak ikut mencari nya, Naruto hanya duduk memperhatikan tingkahlaku
Hinata yang kadang berjongkok kadang menunduk kadang juga bertolak pinggang,
semua itu membuat Naruto hanya tersenyum-senyum sendiri, tanpa Hinata sadari
sebenarnya narutolah yang menyembunyikan tasnya untuk menunda kepulangannya.
" Naruto-kun! Bantu aku mencarinya" ucap Hinata yang melihat Naruto
hanya memandanginya sambil tersenyum-senyum sendiri.
" apa ini yang kau cari, Hinata?" ucap Naruto lalu mengeluarkan sebuah tas
berbentuk bulat dari belakang tubuhnya.
" e-eh, kenapa ada pada Naruto-kun?" tanya Hinata lalu berjalan
mendekat kearah Naruto untuk mengambil tas miliknya, tapi sepertinya Hinata
harus menelan ludah tatkala Naruto kembali menyembunyikan tas itu dibalik
pingungnya, " ayolah Naruto-kun, aku harus pulang!" ucap Hinata
" hime~ , semalam saja ya, aku ingin menghabiskan malam ini bersamamu" ucap
Naruto memelas.
" ayolah Naruto-kun aku harus pulang, nanti Tou-san
mencariku" ucap Hinata berusaha merebut tas yang Naruto sembunyikan dibalik
punggungnya, Hari semakin senja menunjukkan waktu Hinata di apartemen Naruto
telah habis, tapi sepertinya Hinata harus mengurungkan niatnya karena sifat
manja Naruto yang tiba-tiba muncul setelah mereka jadian.
" ayolah Hinata, semalam saja" ucap Naruto bergelayutan dilengan Hinata
" t-tapi Naruto-kun" ucap Hinata yang wajahnya sudah sewarna
tomat.
" ya..ya…aku pingin tidur sambil memelukmu~" ucap Naruto dengan nada
memelas.
" tapi jika tou-chan tau bagaimana?" ucap Hinata khawatir.
" lah, kan otou-chan sudah merestui kita, bahkan dia sudah setuju
untuk kita menikah bukan" ucap Naruto meyakinkan Hinata " ayolah .ya..ya
..hime"
" hahh, baiklah, untuk Naruto-kun apa saja boleh" ucap Hinata yang
telah luluh oleh sifat manja Naruto.
" yeyy" ucap Naruto lalu disusul " kyaaa" teriakan Hinata saat Naruto
tiba-tiba membopong tubuh Hinata keatas kasur.
" ne Hinata, aku sudah tidak sabar untuk memelukmu hihihi" ucap Naruto lalu
meletakkan tubuh Hinata diatas kasurnya secara pelan-pelan.
" ahh, Naruto-kun jangan seperti itu" ucap Hinata yang mendapatkan
perlakuan seperti itu pun hanya bisa merona hebat sambil terus memandangi iris
sapphire dihadapannya.
Setelah Naruto menidurkan Hinata dikasur miliknya, Naruto lalu ikut
merebahkan tubuhnya disamping Hinata, mereka saling pandang satu sama lain, " ne
Hinata, kau tahu setiap aku berada didekatmu, pikiranku tentang pekerjaan
dikantor seperti menguap begitu saja" ucap Naruto sambil menyentuhkan dahinya
didahi Hinata, mereka saling pandang
" …"
"hahh~ akhir-akhir ini pikiranku selalu penuh dengan pekerjaan Tsunade
baa-chan yang dia tinggalkan kepadaku" ucap Naruto.
" pasti Naruto-kun sangat lelah" ucap Hinata sambil membelai pipi
tan kekasihnya.
" ya, tak diragukan lagi" ucap Naruto lalu melingkarkan tangannya dipingang
Hinata " tapi sepertinya aku punya obat tersendiri untuk masalah ku itu" lanjut
Naruto.
" obatnya apa Naruto-kun?, jangan bilang kau selalu meminum obat
anti stress dari Sakura-san!" ucap Hinata khawatir
" tenang saja Hinata, karena obatnya sekarang berada dipelukanku" ucap Naruto
yang laungsung membuat Hinata tersipu malu dan bulshing.
"ahh, Naruto-kun" ucap Hinata saat jari-jemari Naruto membelai
rambut dan pipinya.
" kau tahu, terkadang aku sangat menyesali satu hal?"
" apa itu?"
" aku menyesal karena mataku tak bisa melihat bidadari secantik dirimu yang
sejak dulu selalu berusaha mendapatkan pengakuan dariku!" ucap Naruto yang
langsung membuat Hinata semakin memerah.
" ahh, tidak juga, Naruto-kun kan memang selalu menghabiskan waktumu
untuk berlatih" ucap Hinata.
" kau benar, tapi aku juga menyayangkan kelakuanmu dulu!" ucap Naruto.
" e-eh, y-yang mana, apa aku melakukan kesalahan?"
" ya, saat kau tiba-tiba berhadapan dengan pein"
" eehh, t-tentang itu, gomen, aku cum…"," Hinata!…berjanjilah kau tak akan
melakukan hal sembrono seperti itu lagi ya" ucap Naruto memotong perkataan
Hinata.
" tapi kenapa?, toh kalau aku tak melakukannya Naruto-kun tak akan
tahu perasaanku!" ucap Hinata sambil melengoskan wajahnya.
" ya aku tahu aku bodoh, gomenne Hinata" ucap Naruto " tapi berjanjilah
jangan mengulangi hal sembrono itu lagi" lanjut Naruto.
" k-kenapa begitu?"
"karena aku tak bisa meihatmu dihancurkan seperti waktu itu didepanku lagi"
ucap Naruto memandang lekat-lekat iris lavender didepannya, " dan aku juga tak
akan memaafkanmu jika kau sampai meninggalkanku!" ucap Naruto " aku tak bisa
kehilanganmu Hinata" tambah Naruto.
" Naruto-kun~" gumam Hinata sambil menyembunyikan wajahnya semerah
tomat.
" hehe, ya sudah, kita tidur Oyasumi Hinata hime" ucap Naruto
" Oyasumi Naruto-kun "
O0O
Sinar mentari sepertinya menampakkan diri lebih cepat dihari yang cerah ini,
mungkin itulah yang dipikirkan oleh seorang gadis berambut indigo yang
sepertinya mulai sadar dari alam mimpinya, "ennghh" gumam Hinata menyadari
cahaya matahari tepat mengenai wajahnya, Hinata pun lalu bangkit dari tidurnya,
tangan kekar yang melingkar dipingangnya ia singkirkan dan mulai beranjak dari
atas kasur, Hinata melakukan sedikit peregangan pada tubuhnya, lalu pandangannya
tertuju kepada seseorang disampingnya yang masih tertutupi oleh selimut
" Naruto-kun bangun" ucap Hinata sambil membelai surai kuning sang
pemuda.
" engghh" pemuda itu hanya menggeliat saat menerima perlakuan Hinata
TOK…TOK…TOK…
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari arah pintu apartemen, 'siapa sih
yang datang sepagi ini ' gumam Hinata lalu berdiri dari kasurnya dan
meninggalkan Naruto yang masih terlelap "iya sebentar" teriaknya dari dalam
apartemen, " Sakura-san?" ucap Hinata saat menyadari yang mengetuk
pintu itu adalah sahabatnya.
" eh, Hinata" ucap Sakura kaget saat menyadari yang membuka pintu adalah
Hinata.
" ada apa Sakura-san?" tanya Hinata sambil mengucek matanya yang
masih terasa lengket.
" ahh, iya Naruto sudah bangun?, dia dipanggil oleh tetua untuk segera
menemuinya" ucap Sakura.
" e-eh, memangnya kenapa para tetua memanggil Naruto-kun?" tanya
Hinata kaget.
" aku juga tidak tahu Hinata, aku juga baru diberitahu Sasuke-kun
dan langsung kesini" ucap Sakura.
" baiklah ku bangunkan dulu Naruto-kun nya" ucap Hinata lalu
berjalan kedalam menghampiri Naruto, " Naruto-kun bangun" ucap Hinata
sambil menggoyang-goyangkan tubuh Naruto
" nggeh" racau Naruto saat tubuhnya diguncang-guncang Hinata " ada apa hime?,
ini kan masih pagi~ huahhh~" ucap Naruto menguap.
" Naruto-kun cepatlah, para tetua memintamu untuk menemui mereka"
ucapan Hinata pun sukses membuat Naruto langsung terlonjak dari tidurnya.
"APA!" ucap Naruto kaget.
" iya, cepatkan Naruto, kau sudah ditunggu" ucap Sakura dari luar
apartemen
" Sakura-chan?, kenapa dia disini?" ucap Naruto sambil memandang
Hinata.
" Sakura-san tadi yang memberitahuku tentang ini" ucap Hinata lalu
memberikan sebuah handuk kepada Naruto, " cepatlah, basuh wajahmu lalu segera
temui para tetua" uca Hinata , Naruto pun segera menerima handuk pemberian
Hinata lalu beranjak dari kasurnya.
" Sakura-chan, kau duluan saja nanti aku menyusul" teriak Naruto
dari dalam apartemen
" ya-ya" ucap Sakura lalu berlari kembali kearah kantor Hokage.
" apa salahku, kenapa mereka memanggilku dipagi-pagi begini, huh dasar tetua
sialan" gumam Naruto sambil membasuh wajahnya didalam kamar mandi, Beberapa
menit kemudian Naruto telah siap untuk pergi menemui tetua, " Hinata, aku
berangkat dulu" ucap Naruto lalu mencium kening Hinata
" umm, semoga sukses Naruto-kun" ucap Hinata
" ya"
TBC...
sorry gan kalau masih ada typo, sebenernya udah ane cek berkali-kali, tapi
tetep aja setelah dipost typonya baru kliatan :(
Sumber : https://www.fanfiction.net/s/9472296/1/Miss-You
Tidak ada komentar:
Posting Komentar