Sial, sial, sial! Gara-gara kena virus, data chapter 7 hilang! Jadi nulis
ulang dan updatenya lama deh! Arrgggghh!! Memang menyebalkan!!
Tapi, ga kerasa juga udah sampai chapter 7. Padahal, rencananya tadi Blue cuma mau bikin 3-4 chapter jha. Gara-gara para readers ga pengen cepet ending, jadi diperpanjang deh. Hahay!! Gini nih kalau udah namanya hobi gak bakalan bisa diberhentiin. Fuuuuh, Mama malah ngomel-ngomel karena Blue keseringan maen internet tagihan internet jadi melonjak (eheh busyet, malah curhat)
Disclaimer: Iya, iya.. Punya Om Kishi.. Kapan dong om, Naruto dan Hinata bisa jadi milik saya?!!! *frustasi.
Om Kishi: Nanti kalau ikan sudah bisa berenang di darat. Bwahahahah!!! *ketawa setan.* *blue pundung*
Enjoy it!
Chapter 7
.
.
TBC...
Akhirnya selesai juga! Gomenasai readers, gara-gara komputer Blue kena virus updatenya jadi lama. Gimana? Suka ga ceritanya? Bwahahahahaha!! Jadi flulffy gini ya NaruHina. Tapi, sweeeeeeeettt banget. Inari ngapain lagi nyelip-nyelip di Naruto ma Hinata? Ganggu aja deh.. –digeplak Inari-. Apapun yang kalian pikirkan, tolong reviewnya ya.. Don't flame! Ganbatte ne!!
Tapi, ga kerasa juga udah sampai chapter 7. Padahal, rencananya tadi Blue cuma mau bikin 3-4 chapter jha. Gara-gara para readers ga pengen cepet ending, jadi diperpanjang deh. Hahay!! Gini nih kalau udah namanya hobi gak bakalan bisa diberhentiin. Fuuuuh, Mama malah ngomel-ngomel karena Blue keseringan maen internet tagihan internet jadi melonjak (eheh busyet, malah curhat)
Disclaimer: Iya, iya.. Punya Om Kishi.. Kapan dong om, Naruto dan Hinata bisa jadi milik saya?!!! *frustasi.
Om Kishi: Nanti kalau ikan sudah bisa berenang di darat. Bwahahahah!!! *ketawa setan.* *blue pundung*
Enjoy it!
Chapter 7
Rainbow Butterfly
Jam 4 sore hari. Langit terlihat cerah. Burung-burung saling berkicauan
dengan indahnya. Gadis Indigo ini membiarkan angin melambai-lambaikan rambutnya
yang panjang lurus itu. Mata lavender itu tak juga lepas memandang langit.
Menggenggam sebuah foto dengan erat. Pandangannya berubah, tertuju pada foto
itu. Menampakkan seorang lelaki berambut blonde sedang melakukan
shoot.
Kurasa, tanpa kuberitahu sepertinya kalian sudah tahu sendiri siapa lelaki
itu. Ya, Uzumaki Naruto. Laki-laki pertama yang bisa membuatnya insomnia
berminggu-minggu. Tapi, kalian pasti bertanya-tanya kalau Hinata benar-benar
sangat mencintai Naruto, mengapa dia dulu berpacaran dengan Sasori?
Saat pertama masuk Konoha High School, Hinata sudah menyukai Naruto. Begitu
pula dengan Naruto. Sudah menyukai Sakura. Hinata mengetahui hal itu. Tentu
saja, hati Hinata terasa hancur. Pecah berkeping-keping. Ia merasa, tak ada
harapan lagi untuk menyukai Naruto lagi. Disaat itulah Sasori menyatakan cinta
pada Hinata. Hinata menerima begitu saja karena dia ingin menutupi luka yang
dibuat oleh Naruto dan berusaha melupakan Naruto walau dia rasa itu mustahil
baginya.
Tapi, Hinata merasa dirinya memang bodoh. Kenapa dia bisa memilih orang yang
berniat mencelakainya? Bukan menyembuhkan lukanya? Bahu Hinata bergetar.
Kejadian itu mengingatkan Hinata pada traumanya. Terlalu buruk untuk
diingat.
Tetapi, beberapa hari ini Naruto tampak sangat memperhatikan dirinya. Ini
membuat kepercayaan dirinya bangkit lagi. Walau masih sangat malu-malu, Hinata
tetap yakin bahwa suatu saat Naruto pasti akan membalas perasaannya karena dia
tetap tidak akan menyerah.
Ada 1 hal lagi. Foto Naruto yang digenggam Hinata itu bukanlah Hinata yang
memfoto. Bagaimana bisa Hinata mengambil gambar Naruto secara diam-diam, kalau
saja baru dilirik Naruto dia sudah menjatuhkan diri ke tanah? Hal yang mustahil
bagi seorang Hyuuga Hinata.
Miru lah yang mengambilkan gambar Naruto secara diam-diam. Tak tega juga Miru
setiap hari melihat Hinata yang selalu membayangkan Naruto. Lalu dia
berinisiatif untuk mengambilkan gambar Naruto untuk Hinata. Kalian membayangkan
seperti apa wajah Hinata setelah Miru memberinya foto Naruto?
Merah seperti cherry. Nafasnya tersengal-sengal seperti orang habis berlari
sejauh 10 km. Dan, pasti kalian menduga dalam kehitungan ke tiga Hinata pasti
sudah ambruk dengan indahnya ke bumi. Itu benar.
"Hinata, apa aku boleh masuk? Ini aku."seseorang mengetuk pelan pintu kamar
Hinata. Hinata tersentak. Buru-buru disembunyikannya foto itu di bawah bantal.
Dan, seseorang itu sudah berada di depan pintu kamar Hinata.
"Ah, Neji-niisan. Tumben sekali ke kamarku. Ada apa?"tanya Hinata begitu
melihat Neji sudah di depan ambang pintu. Hanya pada Neji dan Hanabi, gaya
bicara Hinata tidak gagap lagi.
"Aku hanya ingin melihat adikku yang manis ini. Tidak boleh?"Neji menepuk
kepala Hinata sambil mencubit gemas pipi Hinata yang empuk. Hinata tersenyum
riang.
Mungkin kalau di sekolah, teman-teman Hinata dan Neji menganggap Neji sebagai
orang yang sangat dingin dan cuek. Neji memang tidak pernah bercanda seperti dia
dengan Hinata. Di sekolah, Neji biasa bersikap stay cool dan cuek. Dia
memang dikenal sebagai orang yang cuek tak mau peduli orang lain. Tapi, lain hal
lagi bila di rumah. Apalagi kalau Neji, Hinata dan Hanabi sedang berkumpul. Neji
bisa berubah drastis 180 derajat dari orang sedingin Sasuke menjadi orang yang
seheboh Lee.
"Boleh kok niisan. Tidak ada yang ngelarang kok. Malahan, aku senang banget
niisan mau maen ke kamarku. Oh ya, Hanabi-chan kemana?"tanya Hinata celingukan
melihat luar kamar.
"Biasa.. Paling lagi kencan dengan Konohamaru. Dasar, kecil-kecil sudah punya
pacar saja. Padahal, aku yang sudah kelas 3 SMA PDKT saja belum berhasil."keluh
Neji mengingat ketika ia berusaha melakukan pendekatan dengan Tenten dan
membuatnya malu habis-habisan.
"Hihi, tenang saja Neji-niisan. Aku pasti bantu niisan dekat dengan
Tenten-chan."kata Hinata bergelayut di tangan Neji. Neji mengelus rambut
Hinata.
"Hinata, sebenarnya ada yang ingin kutanyakan padamu."
"Apa niisan?"
"Ehm.. Apa kamu menyukai pria bernama Uzumaki Naruto, seorang cowok dari
kelas 11-3 yang nilai olahraganya di atas rata-rata?"tanya Neji dengan nada yang
berubah menjadi serius. Hinata tersentak kaget. Jantungnya berdegup kencang.
Darimana Neji tahu?
"Ehm.. Ehm.. I-itu.."
"Hehehehe.. Tidak usah takut.. Aku tidak akan marah padamu. Cuma, aku hanya
ingin kau lebih berhati-hati. Jangan sampai kejadian kau dengan Sasori terulang
kembali."Neji mewanti-wanti Hinata. Mendengar nama Sasori, Hinata langsung
mendekap tubuhnya erat. Tubuhnya gemetar, wajahnya kelihatan ketakutan. Neji
kaget.
"Hi.. Hinata? Kenapa kamu? Ah, maafkan niisan ya. Niisan lupa kalau nama
terlarang itu tidak boleh diucapkan. Maafkan Niisan ya."kata Neji menutupi tubuh
Hinata dengan selimut. Hinata mengangguk.
"Niisan tahu darimana aku suka pada Naruto-kun?"tanya Hinata. Neji
tersenyum.
"Aku ini saudaramu. Kakakmu. Masa sih adiknya menyukai teman kakaknya tidak
mengetahuinya? Aneh sekali."jawab Neji dengan senyuman jahil. Hinata melotot
kaget.
"Loh, jadi niisan dan Naruto-kun itu.."
"Ya Hinata. Aku dan Naruto itu teman satu tim taekwondo. Kau tidak
mengetahuinya kan? Naruto bergabung di taekwondo Hyuuga sejak 3 bulan yang lalu.
Saat itu kau belum mengenalnya kan? Nah, dari situlah aku tahu bahwa kau
menyukainya. Tapi, sebenarnya bukan dari Naruto sih aku dapat info itu."Hinata
mengerutkan dahinya.
"Aku dapat info itu dari Miru."
"APA?!! MIRU-CHAN?!!"teriak Hinata histeris. Neji menutup kupingnya.
"Pelan-pelan Hinata. Tidak usah sampai segitunya. Ya, jadi kalau kau ingin
melihat Naruto, tidak hanya di sekolah. Di tempat latihan dojo Hyuuga kau bisa
melihatnya setiap hari Rabu dan Sabtu jam 5 sore."goda Neji berhasil membuat
wajah Hinata merona merah.
"Niisan!"
"Hahahahahaha. Kau lucu sekali, Hinata. Sudah ya, aku mau mandi dulu.
Sebaiknya kau juga mandi dan bersiap-siap. Sebentar lagi dia datang."kata Neji
membuat Hinata lagi-lagi mengerutkan dahi lalu keluar kamar Hinata.
"Apa sih maksud dari Niisan? Aneh sekali."kata Hinata menyambar handuk
hijaunya lalu masuk ke kamar mandi.
15 menit kemudian, Hinata keluar dengan tubuh dibalut handuk hijau. Rambutnya
diusap-usap dengan handuk kecil. Ia membuka lemari bajunya. Neji tadi mengatakan
dia harus bersiap-siap karena sebentar lagi 'dia' datang. Siapa 'dia' itu?
Penasaran, akhirnya Hinata menuruti kata-kata Neji.
Hinata memilih sebuah sex dress biru langit dengan sebuah pita putih
di bagian dadanya. Dan tampak mutiara berkelap-kerlip di bagian bawahnya. Gaun
yang sangat cocok dengan Hinata. Segera saja dia memakai gaun itu, lalu
berdandan.
"Hinata! Ada yang mencarimu!"teriak Neji dari bawah. Hinata yang sedang
memoleskan lips gloss transparan. Segera saja Hinata turun ke bawah
untuk menemui 'dia'. Dan, langkahnya ter-pause ketika tahu siapa yang
ada di depan ambang pintu itu. Wajahnya yang putih terkena bedak tadi, berubah
merah.
"Konichiwa, Hinata-chan!!"
"Na.. Naruto-kun??"
"Hehehe, aku datang mendadak ya? Maaf ya tidak sempat kuberitahu. Tapi, Neji
pasti sudah memberitahu kamu kan? Buktinya kamu sudah rapi begini."kata Naruto
menyengir. Sekarang Hinata tahu. Neji berkata seperti itu agar ia cepat-cepat
bersiap agar saat Naruto datang dirinya sudah rapi.
"I-iya.. Ti-tidak apa-apa kok."kata Hinata menundukkan wajahnya yang merah.
Naruto tersenyum dewasa. Cowok pirang ini terlihat sangat dewasa sekali dengan
penampilannya sekarang.
Kemeja putih berlengan panjang (dan, lengannya itu di gulung sampai siku)
dengan celana jins hitam, sepatu kets putih dan aroma parfum seperti coklat
membuatnya terlihat keren dan manis. Tentu membuat Hinata semakin memerah
wajahnya.
"Ehm, kamu manis sekali Hinata-chan."puji Naruto dengan semburat merah di
pipi coklatnya itu.
"Ah, Naruto-kun.."yang di puji hanya tersipu malu.
"Apa kau sudah siap? Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat."kata Naruto ingin
menarik tangan Hinata.
"Eh, tunggu sebentar..."Hinata kembali ke kamarnya mengambil sesuatu. Ketika
dia kembali, sudah tersemat jepit rambut berbentuk pita berwarna ungu muda.
Naruto hampir saja nosebleed kalau saja dia tidak sadar sedang dimana dia.
Gila.. Sumpah, nih cewek manis banget. Kayak dewi khayangan. Ahhh..
Pantes aja gue ga bisa tidur seminggu ini. Insomnia gara-gara nih cewek.
Wauuuw..
"Naruto-kun?"tegur Hinata membuat Naruto kembali sadar dari alam bayangannya.
Naruto memalingkan wajahnya yang sedikit memerah itu.
"Ehm.. Gomen Hinata-chan.. Aku hanya terpesona saja ngeliat kamu..
Hehehehehe."Naruto cengir kuda menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Salah
tingkah. Hinata pun juga begitu.
"Kalau begitu, ayo! Hari sudah mau sore."Naruto menarik tangan Hinata ke
sepeda pancalnya.
Hinata duduk miring karena tidak memungkinkan kalau dia duduk ke arah depan.
Tentu saja karena dia pakai gaun. Naruto mengayuh pelan sepedanya. Angin sore
begitu segar. Meniup-niup rambut kedua muda mudi ini. Dan, saat itu pun sedang
musim gugur. Daun-daun merah maple berjatuhan melewati Naruto dan Hinata
seakan-akan menyambut pengantin baru.
Dengan background matahari sore yang hampir tenggelam, di tambah pepohonan
maple merah seperti api yang sedang berkobar membuat suasana bertambah romantis.
Hinata mengeratkan pegangannya di pinggang Naruto saat Naruto sengaja
mengencangkan laju sepedanya. Orang-orang yang melihat itu mengira mereka adalah
sepasang pengantin baru yang sedang menikmati bulan madu mereka dengan bersepeda
ria di sore hari di musim gugur. Sungguh indah..
"Kita sudah sampai Hinata-chan.."kata Naruto menghentikan kayuhannya. Hinata
memang daritadi tidak memperhatikan jalan karena terlalu senang dan gembira bisa
memegang Naruto. Hinata buru-buru melepaskan pegangannya.
"A-ano.. Gomenasai Naruto-kun.. A-aku tidak tahu sudah sampai.."kata Hinata
menunduk. Naruto tersenyum.
"Lihat itu."Naruto menunjuk ke sebuah arah. Saat berangkat tadi, Naruto tak
memberitahu kemana ia akan mengajak Hinata pergi. Dan, di sinilah mereka
akhirnya.
Di sebuah padang bunga yang luas. Terdapat macam-macam bunga di situ. Ada
mawar, dandelion, lavender, matahari dan masih banyak lagi. Hinata terpukau
melihatnya. Apalagi banyak kupu-kupu berterbangan di sana. Segera saja Hinata
berlari kecil bermain-main dengan kupu seperti anak kecil hendak menangkap
kupu-kupu. Naruto tersenyum. Kedua tangannya di masukkan ke dalam saku
celananya. Hinata memetik satu bunga mawar biru dan menciumnya.
"Hmm.. Naruto-kun, lihatlah. Cantik sekali ya mawar ini? Indah sekali."puji
Hinata mendekap mawar itu. Naruto baru menyadari bahwa gaya bicara Hinata tak
lagi gagap.
"Kamu tahu? Bunga ini, akan lebih cantik apabila disematkan di rambut
indigomu."Naruto mengambil mawar itu dari tangan Hinata dan menyematkan di
antara pita yang dipakai Hinata. Hinata tercengang. Wajahnya memerah
kembali.
"A-arigatou, Naruto-kun.."Hinata tersenyum manis. Membuat Naruto
tercekat.
Tanpa sadar, seekor kupu-kupu hinggap di bunga mawar yang sedang berada di
rambut Hinata. Naruto mengerutkan dahinya heran.
"Hinata-chan, ada kupu-kupu di kepalamu."
"Eh? Benarkah? Hihihi, lucu sekali."belum sempat Naruto mengambilnya,
kupu-kupu itu terbang. Seekor kupu-kupu lagi datang menghampiri kupu-kupu itu.
Dan, 2 kupu-kupu itu tampak menari-nari di depan wajah Naruto dan Hinata.
"Eh, kupu-kupu pelangi?"seru Naruto dan Hinata berbarengan. Mereka saling
pandang dan akhirnya tertawa bersama. 2 kupu-kupu itu terbang menjauhi Naruto
dan Hinata.
Mungkin karena tidak hati-hati, Naruto tersandung sebuah batu kecil dan jatuh
menimpa tubuh Hinata. Hinata terkesiap. Di padang bunga ini hanya ada dirinya
dan Naruto. Wajah Naruto dan Hinata sangatlah dekat. Hanya berjarak sekitar 1
cm. Nafas Naruto terdengar menderu.
"Na.. Naruto-kun?"gumam Hinata. Matanya menatap dalam-dalam mata biru langit
itu.
"Hinata-chan.."
Hinata memejamkan matanya. Jantungnya terasa berdegup kencang seakan mau
keluar dari tubuhnya. Naruto yang tanpa diberi perintah atau isyarat, mengerti
apa yang diinginkan Hinata. Perlahan, ia mendekatkan wajahnya ke wajah Hinata. 2
detik kemudian, bibir Naruto dan bibir Hinata sudah saling menyatu. 2 kupu-kupu
tadi menyaksikan di atas bunga lavender dan bunga matahari.
"Ehm... Hmm.."
"Hemm.. Uhmm.." Mereka saling bergumam. Melumat satu sama lain. Beradu lidah
di dalam bibir mereka masing-masing. Saat matahari sudah terbenam pun mereka
belum juga menghentikan apa yang mereka lakukan.
Di menit ke 3, baru mereka sadar apa yang telah mereka perbuat. Naruto dan
Hinata saling memandang dengan tatapan kaget dan tak percaya. Mereka bangun lalu
saling membelakangi. Mereka ingin sekali membenamkan wajah mereka ke dalam
lumpur.
"Hi.. Hinata-chan.. Gomenasai.. Tadi, aku sedang tidak sadar. Maafkan aku ya?
Apa kamu marah sama aku?"tanya Naruto sedikit gugup. Lidahnya terasa kelu dan
kaku setelah kejadian tadi.
"Ti-tidak kok, Naruto-kun.. A-aku malah senang.. Sebab, k-kamu adalah first
kiss aku..."jawab Hinata dengan wajah yang sudah semerah paprika. Naruto
menyengir kuda. Membalikkan badannya dan menarik badan Hinata agar berhadapan
dengannya.
"Arigatou, aku senang sekali! Bagaimana kalau sekarang kita makan? Hari sudah
gelap. Dan, aku lapar sekali! Hehehehehe."celoteh Naruto riang. Hinata tertawa
kecil melihat sikap Naruto seperti anak kecil.
"Kamu mau pesan apa?"tanya Naruto pada Hinata yang sedang membaca menu itu.
Seorang pelayan berambut biru agak ungu diikat ke atas bermata hitam dengan
lisptik merah, ada sebuah tag name di dada sebelah kirinya bertuliskan
'Guren' sedang menunggu pesanan Naruto dan Hinata.
"Ehm.. Aku pesan chicken teriyaki saja..."kata Hinata sambil menutup buku
menu itu lalu menyodorkan buku menu itu ke Naruto.
"Dan minumnya, aku pesan Blue Coral Tea saja.."
"Kalau begitu, aku pesan... sashimi saja.. Minumnya Sweet Ice Moccacino."kata
Naruto menyodorkan buku menu itu ke pelayan yang berada di sampingnya itu.
"Baiklah, saya ulangi lagi pesanan anda. 1 chicken teriyaki, 1 sashimi, 1
Blue Coral Tea, 1 Sweet Ice Moccacino. Makanan bisa ditunggu selama 15 menit,
terima kasih."kata pelayan itu seraya tersenyum lalu pergi meninggalkan Naruto
dan Hinata.
"Hinata-chan, hari ini aku senang sekali. Kau mau menemaniku jalan-jalan.
Menyenangkan sekali jalan-jalan denganmu."ucap Naruto memain-mainkan sumpit yang
ada didepannya.
"A-aku juga senang Naruto-kun.. Sebab, a-aku.."belum sempat menyelesaikan
kata-katanya, tangan Hinata tak sengaja menyenggol kecap yang ada di depannya.
Spontan saja, kecap itu akan jatuh.
"Eit!"Naruto menangkap kecap itu yang hendak jatuh ke gaun Hinata. Dan,
lagi-lagi wajah mereka sangat dekat. Ralat, terlalu dekat. Seseorang yang jauh
dari mereka melirik mereka dengan tatapan benci lalu segera pergi dari restoran
itu.
"Ma-maaf Hinata-chan.. Hehehehehe.."kata Naruto salah tingkah. Hinata hanya
tersipu malu. Makanan datang, mereka pun menikmati berdua.
"Naruto-niichan!! Sedang apa kau di sini?"seorang anak kecil berambut hitam
menepuk punggung Naruto dengan keras. Naruto tersentak kaget.
"Inari?? Sedang apa kau di sini?!"tanya Naruto kaget. Inari hanya menyengir
kuda.
"Aku sedang jalan-jalan dengan temanku. Eh, aku sengaja lihat niichan dengan
neechan ini. Siapa neechan ini, niichan? Pacarnya ya? Cantiknya.."cerocos Inari
membuat wajah Naruto dan Hinata memerah seperti udang rebus.
"Neechan namanya siapa? Pacarnya Naruto-niichan ya?"
"Hey, ini bukan urusan anak kecil! Hush! Hush! Sana pergi!"usir Naruto
mendorong-dorong Inari. Inari hanya merengut kesal. Lalu, ia mendekatkan
mulutnya ke telinga Naruto.
"Niichan, neechan ini sungguh manis. Sepertinya dia juga baik. Cocok sekali
dengan niichan. Lebih cantik dari Sakura-neechan. Hihihi.. Aku tunggu di rumah
ya!! Ja matte!"bisik Inari lalu pergi membuat Naruto mematung sejenak.
"Ke-kenapa Naruto-kun?
"Eh, tidak kok. Tidak apa-apa!! Hehehehehehe!!"kata Naruto salah tingkah.
"Itu adikmu ya?"
"Ya, dia adikku. Adikku yang kedua. Aku punya 2 adik. Karena aku adalah anak
pertama."
***
GUBRAK!!! Sasuke membanting pintu keras sekali. Ia melempar jaket kulit
hitamnya dengan kasar ke atas sofa. Menjatuhkan dirinya di samping Itachi yang
sedang nonton tv. Wajahnya ditekuk, bibirnya maju ke depan.
"Ada apa kau datang-datang wajah kau ditekuk seperti itu? Tidak enak tahu di
pandangnya."seru Itachi tanpa melihat ke arah Sasuke sedang asyik
mengganti-ganti chanel.
"Aku lihat mereka lagi."jawab Sasuke singkat.
"Siapa? Naruto dan Hinata?"Sasuke mengangguk.
"Aku lihat mereka berdua di restoran Delicious. Mereka sedang makan malam
berdua. Dan, itu membuatku muak!!" BUAK!! Sasuke melempar asbak di depannya ke
arah pintu kamar mandi. Itachi hanya diam. Dia memaklumi sifat Sasuke yang
arogan itu.
"Sudah malam. Tidur sana."perintah Itachi. Sasuke merengut lalu naik ke
kamarnya. Itachi hanya menghela nafas begitu melihat asbak kesayangannya sudah
hancur.
***
"Selamat malam Hinata-chan.. Cepat tidur ya. Jangan kemana-mana lagi."kata
Naruto setelah sampai di depan rumah Hinata. Hinata mengangguk sambil
tersenyum.
"Selamat malam Naruto-kun.. Ja ne.."Hinata melambaikan tangan ke Naruto.
Naruto membalasnya kemudian mengayuh sepedanya sampai bayangan dirinya
menghilang.
Hinata masuk ke dalam kamarnya. Mengganti pakaian dengan piyama coklat dan
naik atas kasurnya. Mengambil sebuah foto Naruto dan memandanginya lama.
Hal itu juga dilakukan oleh Sasuke. Sasuke memandang langit-langit kamarnya.
Mengambil sebuah foto dimana terdapat seorang gadis Hyuuga bermata lavender
sedang tersenyum manis pada seorang temannya. Sasuke mengambil gambar Hinata
ketika ia melihat Hinata dan Miru sedang berada di Cafe Apanzzi. Kebetulan
Sasuke melihat Hinata dan memfotonya.
Memandang lekat-lekat foto itu membayangkan gadis itu menjadi miliknya. Tapi
itu tentu mustahil. 1 penghalang baginya hanya seorang sahabatnya itu. Dia mau
bersaing dengan siapa saja. Dia sanggup meruntuhkan semua penghalangnya. Tapi,
tidak untuk sahabatnya. Sahabatnya yang jadi penghalang itu Sasuke tak mampu
meruntuhkannya. Sampai kapan dia harus berharap dan berkhayal di alam mimpinya?
Sasuke juga bukan orang sekuat yang orang-orang pikirkan.
Naruto melempar kemejanya. Menggantinya dengan sebuah kaos oblong putih dan
celana pendek biru. Tangannya mencari-cari sesuatu di bawah bantal. Sebuah foto.
Hyuuga Hinata. Sudah seminggu ini gadis itu membuat Naruto insomnia. Entah apa
yang dimiliki gadis itu sehingga membuat Naruto terbuai di alam mimpinya. Di
foto itu, Hinata sedang tersenyum lembut ketika sedang membaca buku di Taman
Konoha.
3 orang, dalam waktu sama menatap foto orang yang mereka sayangi. Mereka
merebahkan diri mereka di bantal yang empuk. Menerawang ke langit-langit kamar.
Menutup mata mereka. Membuka mata mereka dan mengucapkan satu kalimat dalam
waktu yang sama.
"Kami-sama, kapan aku bisa memilikinya?"
***
Jam 6.45. Miru datang ke sekolah pagi-pagi. Hanya beberapa anak yang sudah
berada di kelas. Tentu saja, ini kan masih terlalu pagi untuk datang ke sekolah.
Dan lagi, anak-anak yang datang jam segitu rumahnya jauh. Yah, maklum saja
mereka datangnya pagi sekali. Miru sengaja datang pagi karena hari ini dia ada
jadwal piket. Kalau saja bukan karena Ibiki-sensei atau wali kelasnya itu, mana
mau Miru datang pagi-pagi hanya untuk piket. Daripada disuruh nimba air 2 ember
pake sendok, mending diturutin aja.
Ketika Miru sudah selesai piket, kelas mulai ramai. Beberapa anak telah
datang dan duduk di bangkunya masing-masing. Karena bel sekolah berbunyi 15
menit lagi, Miru menyempatkan diri untuk membaca buku.
Greek.. Pintu kelas terbuka. Seorang gadis lavender tengah berdiri di depan
pintu itu. Senyum yang juga tak hilang-hilang dari wajahnya. Tampak sangat
manis. Membuat semua cowok di kelas itu nosebleed dan membayangkan gadis itu di
imajinasi mereka masing-masing. Entah apa yang mereka pikirkan. Ada yang
membayangkan sedang jalan berdua, makan berdua, nonton berdua, malah ada yang
membayangkan (ehm..) mereka tidur berdua dan melakukan –sensor-
"Miru-chan!!!"Miru yang merasa ada yang memanggil namanya menengok ke
pemanggilnya. 2 detik kemudian, Hinata sudah memeluk erat Miru membuat buku Miru
jatuh.
"Agh!! Hinata-chan, kau mengagetkanku saja! Ada apa sih? Pagi-pagi udah
teriak-teriak seperti itu! Tidak seperti kau biasanya!"omel Miru melepaskan
rangkulan Hinata yang erat.
"Go-gomenasai Miru-chan, so-soalnya aku lagi senang sekali. A-aku ingin
cerita padamu."sahut Hinata memainkan kedua telunjuknya.
"Oh kau lagi senang. Kenapa?"tanya Miru mengambil bukunya. Hinata
tersenyum-senyum malu dan wajah sedikit memerah. Miru mengangkat 1 alisnya
pertanda dia heran dengan tingkah laku sahabatnya itu.
"Ehm.. A-aku berhasil mendapatkan first kiss Naruto-kun.."
"HUAAAAPPPPPPAAAAAAHHH???!!!"teriak Miru histeris. Hinata buru-buru membekap
mulut Miru yang mengundang perhatian sekelas.
"Ssst.. Miru-chan, jangan keras-keras!"
"Gomen.. Gomen.. Tapi, apakah itu benar? Serius? Kau tidak bohong?"kata Miru
dengan nada tidak percaya. Hinata mengangguk.
"Aahhhh!!! Hinata-chan, kau hebat sekali! Sekarang aku yakin kalau Naruto
benar-benar menyukai dirimu! Wah, Hinata-chan kau masih ada harapan!"ujar Miru
memberi semangat.
"A-arigatou Miru-chan.." Saat bersamaan, bel sekolah berbunyi. Dan seorang
guru cantik bernama Kurenai masuk ke kelas dengan membawa map tebal.
KRIIINGG!! Istirahat tiba. Seperti biasa, Hinata dan Miru berjalan ke arah
kantin. Sambil tertawa-tawa riang, mereka melihat Sakura dan Fuuka dengan gaya
mereka yang sedikit centil dan genit membagi-bagikan sebuah kartu undangan
berwarna merah muda.
"Jangan lupa ya datang ke pesta ulang tahunku jam 5 sore nanti! Ow, ada
Hinata. Hay Hinata!!"Sakura melihat Hinata dan menyapanya ramah. Lebih tepatnya,
pura-pura ramah. Ini membuat alis Miru naik.
"H-hay Sakura-san.."
"Oh ya, nanti jam 5 sore akan ada pesta ulang tahunku yang ke 16 di rumah.
Kau datang ya! Aku sangat mengharapkan kedatanganmu loh, Hinata. Aku tunggu
ya!!"kata Sakura memberi undangan kepada Hinata lalu pergi bersama Fuuka. Hinata
hanya melongo keheranan.
"Hinata-chan, aku sungguh tidak percaya ini. Sakura mengundangmu ke pesta
ulang tahunnya? Pasti dia merencanakan sesuatu yang buruk."ketus Miru tak
percaya. Hinata menepuk bahu Miru.
"Miru-chan, kau tidak boleh berprasangka buruk seperti itu. A-aku akan tetap
datang ka-karena Sakura-san sudah mengundangku. Le-lebih baik kita sekarang
segera ke kantin sebelum kehabisan takoyaki."Hinata menarik Miru ke arah kantin.
Mereka tidak menyadari 4 pasang mata melirik mereka sinis.
"Benar-benar bodoh. Mau saja dia kuundang ke pesta ulang tahunku. Padahal dia
tidak tahu aku mengundangnya karena ingin membuatnya malu di depan
orang-orang."kata Sakura melipat tangannya angkuh.
"Kau memang pintar, Sakura. Idemu benar-benar cerdik. Aku sudah membayangkan
wajahnya yang akan memerah itu. Pasti aku tertawa terus-menerus membayangkan
wajahnya itu. Hahahahaha!"sahut Fuuka.
"Tentu saja aku pintar. Jangan panggil aku nona Haruno kalau aku tidak
secerdik rubah.."
***
Hinata duduk di depan pos satpam. Menunggu Miru yang sedang menghampiri Kiba
di lapangan sepak bola. Dari wajahnya ia terlihat sangat bosan. Sudah hampir 20
menit Miru belum juga kembali. Sedang apa mereka? Pacaran? Jangan sekarang,
nanti saja kalau hari sudah gelap kalian bisa berduaan sepuasnya tidak membuat
orang menunggu.
"Hoy, Hinata-chan!"Hinata tersentak kaget ketika seseorang menepuk bahunya
pelan yang padahal menurut dia itu cukup keras untuk mengagetkannya.
"Na.. Naruto-kun?"
"Kau belum pulang? Sedang apa di sini?"
"Hmm.. A-aku sedang menunggu Miru-chan.. Ta-tadi dia bilang ingin menghampiri
Kiba-kun di lapangan sepak bola. Tapi, sudah 20 menit Miru-chan belum juga
kembali.."keluh Hinata melihat jam tangan coklat yang melingkar di pergelangan
tangan kirinya.
"Oh.. Ehm, Hinata-chan.. Aku ingin ngomong sesuatu nih."ucap Naruto sedikit
gugup. Hinata sedikit heran dengan gaya bicara Naruto yang sedikit gugup itu.
Apa Naruto mau meniru gaya bicaranya?
"Ngomong apa?"
"Hmm.. Ehmm.. K-kamu mau ga.. Nanti sore.."
"Hinata-chan!!!!!"suara melengking dari kejauhan 20 meter menyedot perhatian
Naruto dan Hinata yang sedang duduk berdua. Naruto langsung mengumpat-ngumpat
Miru di dalam hati.
SHIT!! SHIT!! Kenapa nih bocah datang di saat ga di butuhkan?! Giliran
gue ga mau ngomong penting ma Hinata-chan, dia ga muncul! Dasar sial!!
"Aduh, gomenasai!! Kiba-kun tadi lagi diceramahi sama Gai-sensei. Kau tahu
sendiri kan kalau Gai-sensei ceramah??"kata Miru dengan nafas yang
tersengal-sengal.
"Ti-tidak apa-apa kok, Miru-chan.. Oh ya, Naruto-kun tadi mau ngomong
apa?"tanya Hinata beralih ke Naruto.
"Eh.. ehm.. i-itu.."
"Hinata-chan, pulang yuk! Aku sudah ditunggu okasaan nih. Soalnya, aku janji
pulang cepat mau bantu beres-beres rumah karena sebentar lagi kakek dan nenekku
datang."pinta Miru setengah memaksa Hinata dan menarik Hinata menjauhi Naruto.
Hinata tak bisa melawan karena begitu keras cengkraman Miru. Hinata hanya bisa
menampakkan wajah seperti berkata gomenasai-nanti-dilanjutkan kepada Naruto.
"Ah, Miru menganggu saja!! Dasar! Padahal aku ingin mengajak Hinata-chan
untuk pergi bersama ke pesta ulang tahun Sakura. Huh, pergi sendiri deh
jadinya."keluh Naruto berjalan pulang dengan lunglai.
"Aduh, Miru-chan.. Pelan-pelan.. Tanganku sakit.. Kenapa kau begitu
terburu-buru?"tanya Hinata merintih pelan ketika pergelangan tangannya ditekan
Miru dengan keras.
"Hehehehe, gomen Hinata-chan. Aku buru-buru banget. Kau tahu sendiri kalau
okasaanku sudah marah, bisa kayak raja iblis keluar dari kuali."ucap Miru
membuat Hinata tertawa kecil.
"Pa-padahal tadi Naruto-kun se-sedang ingin mengatakan sesuatu.. Ta-tapi,
kamu keburu narik aku.."sahut Hinata memainkan kedua jarinya. Miru menggaruk
kepalanya yang tidak gatal dan tersenyum dengan wajah tidak bersalah.
"Hehehehe, maaf banget ya Hinata-chan. Jadi menganggu waktu berduamu dengan
Naruto."
"Ti-tidak apa-apa kok, Miru-chan.."
"Eh, Hinata-chan. Kau yakin mau datang ke pesta ulang tahun Sakura? Aku jadi
sedikit khawatir denganmu. Nanti, Sakura melakukan sesuatu yang buruk
padamu."kata Miru. Hinata menghela nafas.
"Tidak baik berprasangka buruk dengan orang lain, Miru-chan. Sakura-san sudah
mau mengundangku berarti dia sudah mau menganggapku sebagai temannya."seru
Hinata dengan dewasanya. Miru melengos.
Inilah susahnya mempunyai sahabat yang baik atau bisa dibilang terlalu baik
pada orang lain. Hinata memang tidak pernah berburuk sangka pada orang yang
mempunyai niat untuk mencelakainya sepertinya halnya Sakura. Hinata menganggap
bahwa Sakura mengundangnya berarti Sakura sudah mau menganggapnya sebagai
teman.
"Ya sudahlah, kau memang terlalu baik pada orang lain sekalipun orang itu
adalah musuhmu. Aku juga tidak memaksamu. Tapi, jangan lupa. Kalau ada apa-apa
segera hubungi aku. Karena aku tidak mau Sakura membuatmu malu."ujar Miru
sedikit mengepalkan tangannya.
"Ke-kenapa kau tidak ikut saja ke pesta ulang tahun Sakura-san denganku,
Miru-chan?"
"HEEH?? Ah, aku tidak mau!"pekik Miru.
"Ke-kenapa?"
"Kau lihat kan tadi? Dia saja tidak mengundangku. Walaupun dia mengundangku,
aku tidak akan datang! Kau tahu sendiri aku tidak suka pada si setan jidat lebar
itu!"ketus Miru melipat tangannya.
"Y-ya sudah kalau kau tidak mau. A-aku tidak memaksa. Hmm.. A-aku pulang
dulu, Miru-chan. Ja ne!"Hinata melambaikan tangannya ke Miru yang bersiap masuk
ke rumahnya itu.
Hinata meletakkan tasnya ke atas kasur. Ia duduk termenung. Menatap kertas
mungil berwarna merah muda yang dipinggirannya ada gambar kelinci dan balon.
Hinata menghela nafas. Sebenarnya, dia juga agak takut untuk menghadiri pesta
ulang tahun Sakura. Ia takut apa yang dikatakan Miru benar. Bukankah Sakura
membencinya? Hanya karena Sasuke saat itu mengantarnya ke sekolah. Lagipula,
bukan keinginan Hinata juga kalau saat itu dia bareng berangkat sekolah dengan
Sasuke.
"Ehm.. Apa aku tidak ikut saja? Tidak, tidak. Aku harus menghadiri undangan
ini. Masa sudah diundang tidak datang?"gumam Hinata. Ia melirik jam tweety yang
tertempel di dinding kamarnya.
"Hah? Sudah jam setengah 4?! Pesta dimulai 3 setengah jam lagi. Aku harus
siap-siap."kata Hinata beranjak dari tempat tidurnya dan membuka lemarinya.
Hinata mengambil sebuah gaun yang dia kira sangat cocok untuk ke pesta ulang
tahun.
***
Naruto membenarkan letak dasi hitamnya yang sedikit miring itu. Penampilannya
benar-benar membuat orang berdecak kagum. Blazer coklat dengan kemeja putih
dipadukan dengan celana hitam dan sepatu milik ayahnya (yang author ga tahu
sepatu apa namanya yang biasanya ayah author pakai buat ke kondangan). Rambutnya
di biarkan acak-acakkan. Sungguh keren. Tetapi, pakaian itu sepertinya hanya
cocok untuk ke undangan formal, bukan ke acara ulang tahun. Kalau bukan karena
dress code yang Sakura minta di undangan itu menyuruh semua undangan
memakai dress code (cowok memakai blazer,dasi dan sepatu hitam, cewek
memakai sex drees, bando dan high heels) mana mau Naruto memakai ini.
Menurutnya, lebih enak pakai celana dan kaus santai.
"Hihihi, Naruto-niichan pasti mau kencan sama neechan yang aku temui di
restoran kemarin."gumam seorang anak kecil dari balik pintu kamar Naruto. Naruto
menngerutkan dahinya.
"Darimana kau tahu, Inari? Seperti apa neechan itu?"tanya seorang anak kecil
lagi yang lebih tinggi dari Inari dan ada sebuah giginya yang tanggal.
"Konohamaru-niichan, dia cantik sekali. Matanya indah, warna ungu gitu.
Terus, senyumnya cantiiiiikkk banget. Aku suka sama neechan itu. Kelihatannya
baik daripada Sakura-neechan yang seperti monster itu. Bweek.."kata Inari.
"Hah? Mata warna ungu? Seperti Hanabi bukan neechan itu?"tanya Konohamaru
seakan menodong Inari.
"Iya! Iya! Kayak Hanabi-neechan! Tapi, agak beda. Neechan yang bersama
Naruto-niichan itu rambutnya biru. Kalau Hanabi-neechan kan coklat."
"APA?!! ITU KAN KAKAKNYA HANABI?!! BERARTI, AKU DAN NARUTO-NIICHAN NANTI JADI
IPAR DONG??"teriak Konohamaru kaget membuat kuping tuli.
"Hey, kalian berdua ini berisik sekali sih! Sedang apa di sini, hah? Kalau
mau bisik-bisik yang pelan dong! Bodoh sekali kalian berdua!"omel Naruto yang
sudah di depan mereka.
Huh.. Dasar Konohamaru bodoh. Biar aku dan kau memacari kakak dan adik,
kau tetap adik kandungku! Sejak kapan saudara kandung bisa jadi ipar?
Idiot..
"Ehehehehe.. Naruto-niichan.. Mau kemana kak? Mau kencan sama Hinata-neechan
ya?"tanya Konohamaru memamerkan cengiran kudanya yang menurut Naruto bukan
tambah lucu malah bikin eneg.
"Sok tahu kalian! Sudah, ini bukan urusan kalian. Niichan pergi dulu. Kalau
ojii-san cari niichan, bilang saja niichan pergi ke ulang tahun teman. Sudah
ya!"Naruto buru-buru keluar rumah karena dia hampir saja terlambat.
Sasuke turun dari mobil BMW hitamnya. Kedatangannya langsung disambut oleh
jeritan dan teriakan dari para gadis disitu yang langsung mendadak pingsan
melihat Sasuke begitu tampannya. Blazer hitam dengan kemeja biru dan dasi hitam,
rambutnya yang disisir rapi, sepatu formal hitam yang mengkilat tak heran
menyedot semua perhatian gadis di situ terutama Sakura.
"Sasuke-kun!!!"teriak Sakura memeluk erat Sasuke bergelayut di tangan Sasuke.
Sasuke risih dan ingin melepaskan cengkraman Sakura.
"Sakura, lepaskan aku."pinta Sasuke. Bukan dilepaskan, Sakura malah memperat
cengkramannya membuat Sasuke ingin berteriak, 'Woy sakit!!! Arrgg!! Lenganku!!
Lenganku!!'
"Aku sungguh merasa senang sekali kau mau hadir dalam pesta ulang tahunku.
Masuk yuk! Semua sudah menunggu loh."Sakura menarik Sasuke masuk ke dalam
rumahnya yang besar itu. Sasuke menghela nafas.
Kalau seandainya saja, Sasuke saat itu tak melihat Sakura mengundang Hinata
dan tak mengetahui bahwa Hinata diundang Sakura, mana mau dia datang ke pesta
gadis yang tergila-gila pada dirinya? Membuat dirinya tersiksa saja. Karena ada
Hinata, biar pun ada Sakura, Sasuke pasti datang. Yah, cinta memang rela
melakukan apa saja walau mereka sebenarnya tak mau melakukannya.
Naruto menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu. Rasa gugup datang kembali
menyerang dirinya. Ia merasa minder karena semua yang diundang Sakura adalah
orang kaya. Apa Sakura mengundangnya ingin membuatnya tidak PD karena hanya dia
yang statusnya sederhana? Naruto menggeleng membuang jauh-jauh pikiran buruk
itu. Dengan langkah tegap, ia masuk ke rumah Haruno itu.
Tak disangka, beberapa gadis yang melihat Naruto sedikit terpukau dan
terpesona dengan dandanan Naruto. Naruto malam itu benar-benar terlihat keren.
Beda sekali dengan Naruto yang biasanya ada di sekolah yang selalu memegang bola
basket.
"Itu Naruto?"
"Wah, keren ya! Aku tak percaya Naruto bisa sekeren itu."
"Iya, iya. Tampan sekali. Wangi lagi."
"Naruto jadi tidak kalah kerennya dengan Sasuke."Bisikkan-bisikkan itu
terdengar di telinga Naruto. Naruto hanya tersipu malu.
Pesta hampir dimulai. Tetapi, yang ditunggu Sasuke belum juga datang. Apa dia
tidak datang? Sasuke gelisah. Sakura menghampiri Sasuke yang terlihat gelisah
itu.
"Sasuke-kun? Sedang apa di sini? Pesta sudah mau dimulai."kata Sakura
menggaet lengan Sasuke.
"Aku menunggu seseorang."
"Mungkin dia tidak datang. Ayo, pesta sudah mau dimulai."kata Sakura menarik
Sasuke ke dalam. Sasuke pasrah.
Sakura sudah berdiri di depan kue ulang tahunnya yang kira-kira setinggi 45
cm. Dipinggirnya, dihiasi cherry dan coklat putih beberapa buah. Di kue itu
tertulis, 'HAPPY BIRTHDAY CHERRY BLOSSOM'. Saat Ino yang menjadi MC di ulang
tahun Sakura itu akan berbicara, tiba-tiba seorang anak berteriak.
"Hey, siapa itu? Cantik sekali."Perhatian semua orang tersedot ke luar
rumah.
Mereka melihat sesosok gadis Indigo yang sedang keluar dari limosin. Tubuh
mungilnya dibalut dengan sex dress putih dari dada sampai lutut,
wajahnya yang tak pernah dipoles make-up malam ini tampak cantik dengan lipstik
ungu muda dan blush on peach. Kaki mungilnya dibalut high heels hitam.
Rambutnya dihiasi dengan bando pita hitam. Naruto dan Sasuke langsung menganga
tak menyadari bahwa 2 nyamuk sudah masuk ke mulut mereka karena terpana melihat
Hinata yang begitu cantik malam ini.
"Go-gomenasai, Sakura-san. A-aku terlambat. Silahkan lanjutkan."kata Hinata
setengah membungkuk. Para cowok di situ langsung nosebleed melihat kecantikan
Hinata.
Sakura mendengus sebal. Gara-gara Hinata, semua perhatian undangannya tertuju
pada Hinata. Tapi, dia berusaha menahan amarahnya. Dia tidak mau rencananya
berantakan hanya karena moodnya jadi down.
"Ow.. Ow.. Hinata, kau tampak cantik sekali malam ini! Aku sampai terkejut
dan terpana. Sampai-sampai aku hampir tidak mengenalmu."sapa Sasame yang muncul
dari belakang Hinata. Hinata tersipu malu.
"Baiklah, karena semua undangan sudah hadir kita bisa lanjutkan pestanya.
Sekarang, kita persilahkan Sakura untuk meniup lilinnya!"ujar Ino dengan
semangatnya. Sakura menebar pesona dan dengan perlahan meniup lilin angka 16
itu.
"Horeeeee!!!"seru para undangan menepuk tangan mereka. Sakura tersenyum
manis.
"Oh ya, karena Sakura ingin memberikan potongan kue pertama pada seseorang
yang spesial pada tengah malam nanti, kalian dipersilahkan terlebih dahulu
menikmati hidangan yang ada."kata Ino lalu meletakkan mic-nya kembali.
Naruto ingin menghampiri Hinata. Tapi, sepertinya sulit karena Hinata
dikerubuti oleh teman-teman cowoknya. Bisa-bisa dia habis babak belur oleh
teman-teman Hinata karena ingin mengajak Hinata berdansa. Naruto menghela nafas
dan menuju ke tempat hidangan.
"Hinata, kau manis sekali sih. Aku jadi tambah suka padamu."kata Pain,
seorang senior kelas 12-3.
"Te-terima kasih, senpai. A-aku mau mengambil makanan dulu."kata Hinata
buru-buru ke tempat hidangan yang juga bermaksud melarikan diri dari gerombolan
Pain. Hinata kan masih trauma terhadap laki-laki gombal dan genit.
"Fuuka, target menuju ke tempat hidangan. Jalankan rencana A."bisik Sakura
yang disambut anggukan Fuuka. Fuuka mengambil sebotol minyak dari bawah meja.
Celingak-celinguk, dan menumpahkan minyak itu ke lantai. Lalu, buru-buru dia
pergi dari situ.
Fuuka dan Sakura ingin menyaksikan Hinata yang akan terpleset oleh minyak
yang ditumpahkan Fuuka. Rencana mereka, ketika Hinata ingin mengambil makanan
disaat itu Fuuka menumpahkan minyak dan membuat Hinata terpeleset.
Tapi, yang mereka harapkan tidak terjadi. Saat kaki Hinata menginjak minyak
itu..
"Kyaaaaaaa!!!"
"Hupp.."Tiba-tiba Naruto yang sedang mengambil sandwich itu, refleks
menangkap tubuh Hinata. Wajah Hinata memerah, begitu pula dengan Naruto. Ia bisa
melihat wajah indah Hinata dari dekat. Sungguh manis.
"A-arigatou Naruto-kun.."kata Hinata menunduk malu. Naruto memalingkan
wajahnya malu. Tentu saja kejadian itu juga disaksikan Sasuke yang tak jauh dari
tempat mereka.
"Argh! Sial!"Sasuke segera menjauh dari tempat Naruto dan Hinata berada.
"Tidak apa-apa kok. Lain kali hati-hati."kata Naruto menggaruk kepalanya yang
tidak gatal itu. Kikuk.
"Uhm... Go-gomenasai.."
"Hinata-chan, ma-maukah kau berdansa denganku?"pinta Naruto merentangkan
telapak tangannya ke Hinata. Hinata terkejut senang. Ia menyambut tangan Naruto
dan perlahan mulai berdansa dengan mesranya.
"Sakura, mission failed.."bisik Fuuka memanas-manasi Sakura. Sakura memukul
meja dengan kuatnya.
"Brengsek! Tapi, kita masih punya rencana yang kedua. Dan, pasti akan
berhasil!"
Jam berdentang pukul 12 malam. Tengah malam sudah datang dan saatnya untuk
memberikan potongan kue pertama dari Sakura untuk seseorang yang spesial. Semua
undangan bernyanyi bersama untuk Sakura yang sedang memotong kue.
"Potong kuenya.. Potong kuenya.. Potong kuenya sekarang juga.. Sekarang
juga.. Sekarang juga.."
"Oke, aku akan memberikan potongan kue pertama ini untuk seseorang yang
spesial."kata Sakura. Menatap Sasuke yang berada di belakang Hinata yang menurut
Sasuke seperti tatapan monster hendak menerkam seseorang.
Tidak sengaja atau tepatnya pura-pura tidak sengaja, Sakura melangkah ke arah
Sasuke yang berada di belakang Hinata. Dengan senyuman liciknya yang juga Fuuka
lakukan, Sakura menjatuhkan dirinya. Piring kecil berisi kue itu juga ikut
terjatuh atau tepatnya terlempar. Tepat ke wajah dan dada Hinata. Mengotori
wajah dan gaun Hinata. Tentu saja itu membuat semua orang tertawa. Kalian bisa
bayangkan wajah Hinata yang penuh dengan krim kue? Sungguh memalukan bukan?
"Hahahahahahahahahaha!!!"
"Hinata..."
"Hinata-chan.."
Hinata malu. Sangat malu. Benar kata Miru, Sakura hanya ingin
mempermalukannya saja di pesta ulang tahunnya. Sambil menahan air mata yang ada
di pelupuk matanya, Hinata berlari keluar dari rumah Sakura. Sakura tersenyum
kemenangan.
"Hinata-chan!!!"Naruto mengejar Hinata yang terisak-isak itu. Naruto
bersumpah, ini pertama dan terakhir kalinya dia tidak akan membiarkan Sakura
mempermalukan Hinata lagi.
"Hinata!"Sasuke hendak mengejar Hinata juga, tetapi tangannya keburu ditarik
Sakura dan dicegah Sakura.
"Sasuke-kun mau kemana? Di sini saja. Hinata sudah ada Naruto. Lebih baik kau
bersamaku di sini.."kata Sakura manja. Sasuke melengos. Ya.. Lebih baik Naruto.
Meski dia yang mengejarnya, toh Hinata juga tidak akan merespon.
"Hinata-chan, tunggu.."Naruto berhasil menarik Hinata. Melihat wajah Hinata
yang belepotan krim kue. Air matanya jatuh. Terisak-isak karena menahan malu.
Naruto mengeluarkan sapu tangannya dan pelan-pelan membersihkan krim di wajah
Hinata.
"Jangan menangis. Biar pun wajahmu belepotan seperti ini, kau akan tetapi
manis. Aku tidak bohong."kata Naruto menggoda Hinata. Hinata sedikit
tersenyum.
"A-arigatou, Naruto-kun.."
"Jangan menangis ya. Aku tidak bisa melihat wanita menangis. Apalagi wanita
seperti dirimu."kata Naruto memeluk hangat Hinata. Hinata membalas pelukan
Naruto dengan erat.
2 insan yang sedang berpelukan di bawah pohon maple merah. Sang bulan menjadi
saksi dimana mereka saling mencintai meski orang itu mempunyai kekurangan.
Naruto berjanji, sangat berjanji akan melindungi Hinata dari siapa pun. Dan, dia
mengumpat Sakura yang telah mempermalukan Hinata.
Sakura.. Betapa jahatnya dirimu..
.
..
.
TBC...
Akhirnya selesai juga! Gomenasai readers, gara-gara komputer Blue kena virus updatenya jadi lama. Gimana? Suka ga ceritanya? Bwahahahahaha!! Jadi flulffy gini ya NaruHina. Tapi, sweeeeeeeettt banget. Inari ngapain lagi nyelip-nyelip di Naruto ma Hinata? Ganggu aja deh.. –digeplak Inari-. Apapun yang kalian pikirkan, tolong reviewnya ya.. Don't flame! Ganbatte ne!!
Sumber : https://www.fanfiction.net/s/5556135/7/Rainbow-Butterfly
Tidak ada komentar:
Posting Komentar