Ehem... Akhirnya,setelah update chapter 1 dan 2 kemarin review yang masuk
banyak yang nggak ngflame. Fiuuuuuuh, leganya... Hahay!!Chapter 3 sudah
update!!
Disclaimer:Om Kishi!!!!!Pinjem Narutonya ya!! Sama Hinata nya juga!!! *narik-narik Naruto dan Hinata*
Oh ya, satu lagi yang lupa aku sampaikan..Di chapter 2 kemarin, aku menyebutkan nama Miru sebagai sahabat Hinata. Maka dari itu, aku ingin sampaikan agar para readers tidak heran dengan munculnya nama Miru (banyak omong nih...) kalau Miru di sini saya jadikan OOC yang berperan sebagai sahabat Hinata.
Dan satu lagi, seorang teman me-review kalau bisa fanfic aku pakai align left.. Jadi, chapter 3 dan seterusnya aku pakai align left.. Jangan heran ya! *teriak pake toa* -digetok payung-
Okey,Enjoy it!
Chapter 3
Error!!Sumpah error!! Lagi ga ada ide... T_T Kacau!! Duh, duh, duh maaf ya readers kalau chapter 3 kacau. Lagi ga ada ide nih.. Sumpah deh!!Soalnya, bentar lagi Blue ada Try out dan UAS.. Juga, tugas-tugas yang menumpuk.. Ini aja updatenya ngebut banget.. Ga pengen bikin para readers nunggu.. Hahay!! Review please...
Disclaimer:Om Kishi!!!!!Pinjem Narutonya ya!! Sama Hinata nya juga!!! *narik-narik Naruto dan Hinata*
Oh ya, satu lagi yang lupa aku sampaikan..Di chapter 2 kemarin, aku menyebutkan nama Miru sebagai sahabat Hinata. Maka dari itu, aku ingin sampaikan agar para readers tidak heran dengan munculnya nama Miru (banyak omong nih...) kalau Miru di sini saya jadikan OOC yang berperan sebagai sahabat Hinata.
Dan satu lagi, seorang teman me-review kalau bisa fanfic aku pakai align left.. Jadi, chapter 3 dan seterusnya aku pakai align left.. Jangan heran ya! *teriak pake toa* -digetok payung-
Okey,Enjoy it!
Chapter 3
Rainbow Butterfly
Hinata tengah membaca sebuah novel di Taman Konoha. Biasanya, ketika ada
waktu senggang Hinata selalu pergi ke Taman Konoha untuk membaca. Karena hobinya
inilah, yang membuatnya selalu mendapat nilai bagus di bidang pelajaran
Bahasa.
"Hinata-chan! Aduh, kamu sombong sekali sih?Pergi ke taman tidak
ngajak-ngajak aku! "seorang gadis berambut biru langit dan bermata orange ruby
menepuk pelan bahu Hinata membuat Hinata sedikit terkejut.
"Miru-chan?Kamu sudah sembuh?Aku kira, kamu belum sembuh."kata Hinata
menggeser tempat duduknya membiarkan Miru duduk di sampingnya.
"Sudah dong. Aku malas sakit lama-lama. Kau tahu sendiri kan, aku paling
malas kalau di rumah. Huuh, kalau di rumah aku selalu saja disuruh mengerjakan
pekerjaan rumah. Malas sekali!"celoteh Miru. Hinata tertawa kecil melihat
tingkah laku sahabatnya itu.
Hatako Miru. Gadis berambut biru langit yang memiliki mata orange ruby ini
adalah sahabat masa kecil Hinata hingga sekarang. Hinata sudah menganggapnya
sebagai kakak kandungnya sendiri. Hinata sayang sekali pada Miru. Miru adalah
satu-satunya orang yang mengetahui perasaannya pada Naruto. Miru memang sangat
peka terhadap perasaan Hinata bila Hinata sedang menyukai seseorang. Miru juga
selalu membantu Hinata ketika dirinya sedang sedih atau kesusahan.
"Dasar Miru-chan.. Kamu ini tidak pernah berubah ya?Masih tetap Miru-chan
yang dulu.."kata Hinata tersenyum. Miru mendengus sebal.
"Memang aku mau berubah jadi apa, Hinata-chan?Putri salju?Aneh-aneh saja kau
ini.." ujar Miru melengos.
"Jangan ngambek dong, Miru-chan..Lebih baik kita beli es krim yuk?"ajak
Hinata menggandeng tangan Miru mengajaknya ke tukang es krim.
Saat sedang asyik menikmati es krim, seorang lelaki menghampiri mereka. Itu
membuat Hinata yang sedang asyik menikmati es krim blueberry nya, blushing. Es
krimnya di biarkan menetes ke tangannya. Miru yang sedang menjilati es krim
vanilla itu menyenggol lengan Hinata.
"Hinata-chan, ada apa?Kok ngelamun?"
"Hay Hinata-chan!!"Miru mendongak ke arah suara yang memanggil Hinata. Itu
kan..Naruto??
"H..hay Naruto-kun.."
"Wah, sedang makan es krim ya?Oh, ada Miru."kata Naruto menyengir. Hinata
tertunduk malu. Miru tersenyum jahil.
"Iya, kita sedang makan es krim. Tapi, gara-gara kamu datang kayaknya es
krimnya di biarin menetes sampai tangannya basah begitu.." sindir Miru membuat
wajah Hinata bertambah merah. Naruto melihat tangan Hinata yang penuh dengan
cairan es krim.
"Wah, Hinata-chan es krimnya meleleh tuh! Kan sayang kalau meleleh
begitu."ucap Naruto mengelap tangan Hinata dengan jaketnya.
Dan, entah karena kekurangan oksigen atau karena kekurangan darah, dalam
kehitungan Hinata merasa kepalanya pusing sekali. Keringat dingin keluar dari
dahinya. Dan bisa dihitung, 1..2..3..
GUBRAK!!!
"Loh?Loh?Hinata-chan, kenapa kamu pingsan?!Hinata-chan!"Naruto
mengguncang-guncang tubuh Hinata yang pingsan dalam pelukannya. Miru hanya
geleng-geleng kepala mengetahui sifat buruk sahabatnya itu.
***
BRAK!!!!4 buah lapis kayu patah hanya dengan sekali tendangan dari Sasuke.
Sasuke menyilangkan tangannya lalu mengatur nafasnya yang tersengal-sengal.
"Hari ini cukup, Sasuke. Kau sudah bisa menguasai semua tehnik karate ini.
Dan, aku berharap pada pertandingan bulan depan nanti kau bisa tampil dengan
baik."kata seorang lelaki paruh baya yang berada di belakang Sasuke. Sasuke
membungkuk sopan.
"Osh, Orochimaru-sensei."Sasuke bergegas mengambil tasnya dan membersihkan
dirinya dari keringat yang melengket di tubuh kekar Sasuke.
20 menit kemudian, Sasuke sudah keluar meninggalkan tempat kursus karatenya.
Baru saja 2 langkah, sebuah suara cempreng melengking memanggil namanya.
"Sasuke-kun!!!!"
"Sial...Kenapa dia ada di sini?Haaah..."gumam Sasuke kesal.
"Kau sudah selesai dengan latihan karatemu?Aku menunggumu lama sekali..Karena
kamu baru saja selesai latihan, pasti kamu belum makan. Bagaimana kalau kita
makan bersama?"
"Tidak.. Terima kasih,Sakura.. Tapi, aku lelah sekali."tolak Sasuke cuek.
Sakura merengut.
"Ayolah, Sasuke-kun..Aku ingin sekali makan malam denganmu.."bujuk Sakura
bergelayut di lengan Sasuke. Ingin rasanya Sasuke menepis keras-keras tangan
Sakura hingga membuatnya terjatuh.
Tapi, dia tidak bisa melakukan hal itu. Sakura adalah wanita.
Sebenci-bencinya Sasuke pada seorang wanita, dia tidak bisa menyakiti secara
fisik pada wanita itu. Karena, dia tidak mau menyakiti kaum wanita yang termasuk
juga ibunya yang telah lama meninggal.
Kehadiran Sakura membuat kegiatan Sasuke sangat terganggu,menurut pria emo
ini. Dimanapun dia berada, perempuan ini selalu saja ada di dekatnya. Sasuke
risih dengan tingkah laku Sakura yang sangat proktetif padanya. Padahal, Sakura
bukan siapa-siapa.
"Baiklah.. Kali ini saja, lain waktu aku tidak bisa.."Sakura melotot senang.
Ini pertama kalinya Sasuke menerima ajakannya!
Tanpa banyak basa-basi, ia segera menarik Sasuke ke restoran terdekat.
Sakura mengajak Sasuke makan di restoran yang tak jauh dari tempat kursus
karate Sasuke. Dan, Sakura memilih tempat duduk yang dekat dengan kolam ikan
yang dihiasi bebatuan cantik.
"Aku pesan makanan dulu ya, Sasuke-kun.." kata Sakura beranjak mencari
pelayan restoran. Sasuke hanya melengos. Melihat-lihat sekelilingnya dan..
Hey..Apa itu?Sasuke melototkan matanya ketika menangkap sesosok gadis
berambut Indigo sedang berjalan dengan seorang pria berambut kuning jabrik di
pinggir jalan yang tak jauh dari restoran tempat Sasuke makan.
Mereka tampak ceria dan senang. Gadis itu tertawa renyah ketika pria itu
mungkin mengatakan sesuatu yang lucu membuat gadis itu tertawa renyah. Sasuke
lagi-lagi mengepalkan tangannya. Mengapa dia selalu dikalahkan oleh
sahabatnya?
Padahal, sahabatnya tidak terlalu hebat dibanding dirinya yang punya
segalanya. Sasuke sadar. Mungkin di bidang pendidikan dan materi Sasuke patut
menang. Tapi, urusan cinta.. Dia tak akan pernah tahu siapa yang akan
memenangkan hati gadis itu.. Hinata adalah satu-satunya gadis di Konoha High
School yang tidak tertarik padanya. Dan itu, membuat Sasuke bertambah kagum pada
Hinata karena Hinata memandang seseorang bukan dari fisik ataupun materi.
"Haah, pelayan restoran ini payah. Masa, pelanggannya yang harus mencari-cari
pelayannya?Lain kali akan kubilang pada atasannya!"Sakura datang sambil
mengomel-omel. Mata Sasuke langsung tertuju pada Sakura yang sudah duduk di
hadapannya.
"Hn. Biarkan saja."sahut Sasuke.
"Itu sangat menyebalkan. Menyusahkan pelanggan saja!" kata Sakura lagi.
Sasuke hanya diam tak menjawab. Sesekali matanya mengarah pada pinggir jalan
dimana ia menemukan gadis yang dicintainya bersama sahabatnya sedang asyik jalan
berdua.
Mereka sudah tidak ada. Sasuke menggeram lagi. Mereka sudah pergi.
"Sasuke-kun, kamu tahu Karin tidak? Itu loh anak kelas 11-2. Dia itu
menyebalkan sekali! Masa, dia ngaku-ngaku kau dan dia punya hubungan khusus?
Pakai ngomong kalau hubungan kamu dengan dia sudah direstui orang tua kamu.
Padahal, tidak kan Sasuke-kun?Dia itu memang cewek genit..Dia juga...bla..bla.."
Sasuke tak mencerna lagi kata-kata Sakura.
Di pikirannya saat ini adalah Naruto dan Hinata. Sakura yang sedang asyik
berbicara tiada henti membuat kuping sakit, tak digubris oleh Sasuke. Sasuke
memejamkan matanya dan berpangku tangan. Akankah ia kalah dengan sahabatnya
hanya karena soal... cinta?
***
"Dan, karena aku terburu-buru, jadinya aku tidak melihat bahwa didepan ku ada
tiang listrik. Jadilah aku menabrak tiang listrik itu hingga aku mental beberapa
meter. Uh, sakit sekali..."cerita Naruto menceritakan kejadian saat dirinya
menabrak tiang listrik karena terburu-buru berangkat ke sekolah. Hinata tertawa
kecil.
"Kamu ada-ada saja, Naruto-kun.. Hihi.."tawa Hinata. Naruto merengut.
"Aaaaah, Hinata-chan.. Orang jatuh kok di tertawakan?Huuu.."Naruto
cemberut.
"Ha-habis..Kamu lucu sekali..Hihihi.."Naruto memperhatikan Hinata yang sedang
tertawa.
Gadis yang manis.. Entah mengapa, rasanya bila dekat dengan Hinata hati
Naruto terasa nyaman dan tenang. Tawanya yang lembut terdengar indah di telinga
Naruto. Parasnya mengingatkan Naruto pada ibunya yang telah lama meninggal.
Manis dan anggun. Sifat Hinata juga sama dengan ibunya Naruto. Lembut dan baik
hati. Tak terasa, mata Naruto terasa memanas.
"Naruto-kun.. Kenapa kamu menangis?Ada apa?"tanya Hinata terkejut melihat air
mata Naruto keluar dari mata Naruto. Buru-buru diusapnya air matanya yang keluar
itu.
"Tidak.. Aku hanya.. rindu pada ibuku.. Ibuku.. Sudah meninggal.."jawab
Naruto lirih. Hinata sedikit terkejut.
"Ibuku meninggal karena mempunyai penyakit jantung. Setelah itu, ayah
menyusul ibu. Ayah meninggal karena kecelakaan. Sekarang, aku tinggal di rumah
kakekku. Ibuku sangat baik padaku. Beliau sangat mengerti aku.. Beliau sangat
sayang padaku.. Ibuku juga manis.. Entah mengapa, kalau melihat dirimu aku jadi
teringat ibu.." kata Naruto menatap langit malam bertabur bintang-bintang indah.
Hinata blushing.
"Karena, kau sangat mirip dengan Ibu ku, Hinata-chan.. Kau baik.. Lembut..
Manis.."puji Naruto. Hinata menunduk, menatap rumput-rumput yang
bergoyang-goyang tertiup angin.
"Na..Naruto-kun.. Aku.. aku tidak seperti itu kok.."kata Hinata merendah
diri. Naruto menatap wajah Hinata. Memegang kedua pipi Hinata agar wajah Hinata
berhadapan langsung dengan wajahnya. Tentu wajah Hinata sudah semerah
cherry.
"Ya.. Kau seperti itu, Hinata-chan.."Naruto menatap dalam-dalam mata gadis
itu. Perlahan,wajahnya didekatkan ke arah wajah Hinata. Semakin mendekat, Hinata
bisa merasakan nafas yang menderu dari pria itu. Ia memejamkan matanya. Naruto
semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Hinata hingga...
"Eh?Kupu-kupu?"gumam Hinata melihat seekor kupu-kupu melintas di depan wajah
Hinata dan Naruto. Spontan, Naruto dan Hinata langsung menjaga jarak kembali.
Wajah mereka berdua terlihat sangat merah.
"Ehm... Hinata-chan... Aku..."
"Naruto-kun, lihat itu.."Hinata menunjuk 2 ekor kupu-kupu yang tampak sedang
berkejar-kejaran. Dan, warna sayap mereka... pelangi?
"Kupu-kupu pelangi?"gumam Naruto dan Hinata. Mereka berpandangan dan akhirnya
tertawa bersama-sama.
Naruto merebahkan dirinya di padang rumput yang luas itu. Angin malam bertiup
pelan, menggoyangkan rumput-rumput hijau itu. Menggelitik rambut dan tubuh
Naruto. Hinata menatap langit kelam yang ditaburi intan yang
berkerlap-kerlip.
Naruto P.O.V
Hyuuga Hinata... Hmm, gadis yang sempurna.. Apa aku bisa memiliki dirinya?Aku
rasa..dia terlalu sempurna untukku.. Tapi, aku rasa..Aku mencintainya..
End Naruto P.O.V
Hinata memejamkan matanya. Merasakan angin yang menerpa rambut indigonya,
membuat rambutnya berlambai-lambai dengan aroma rumput yang menyerebak.
Hinata P.O.V
Uzumaki Naruto.. Apakah Tuhan mendengar doa ku?Atau ini hanya sekedar mimpi?
Kalau ya, tolong biarkan aku selalu tertidur.. Aku tak mau kehilangan dirinya..
Karena aku mencintainya..
End Hinata P.O.V
2 manusia ini tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Tak ada yang tahu apa
yang mereka pikirkan. Tetapi, mereka juga tak tahu bahwa mereka memikirkan hal
yang sama. Hanya kupu-kupu pelangi yang mengetahui apa yang menyebabkan malam
ini terasa indah bagi Naruto dan Hinata..
TBC...
Error!!Sumpah error!! Lagi ga ada ide... T_T Kacau!! Duh, duh, duh maaf ya readers kalau chapter 3 kacau. Lagi ga ada ide nih.. Sumpah deh!!Soalnya, bentar lagi Blue ada Try out dan UAS.. Juga, tugas-tugas yang menumpuk.. Ini aja updatenya ngebut banget.. Ga pengen bikin para readers nunggu.. Hahay!! Review please...
Sumber : https://www.fanfiction.net/s/5556135/3/Rainbow-Butterfly
Tidak ada komentar:
Posting Komentar