MISS YOU
DISCLAIMER : NARUTO, HINATA, DAN CHARA
YANG LAINNYA ADALAH MILIK MASASHI KISHIMOTO
HAN, YAZI, HIRUKA, YURI,
DAN MIZUTO ADALAH MILIK AUTHOR :d
GENRE : ROMANCE/HURT/COMFORT
RETED : T+
WARNING: TYPO, GEJE, BANYAK PERCAKAPAN,
TANDA BACA SALAH, NO EYD, ALUR TIDAK JELAS, DLL
HAPPY READING d:
KRING..KRING…KRING… suara bel toko bunga yamanaka, terlihat seroang berambut
kuning cerah mengenakan jubah hokage berwarna merah masuk kedalam toko
yamanaka.
"ino!" teriak kecil naruto yang sesaat setelah dia masuk tak tak menemukan
seorang pun yang tengah duduk di kursi meja kasir "ino!" ulangnya lagi berterak
lebih kencang, tapi sepertinya teriakan kedua telah berhasil membuat sang
pemilik toko berhasil keluar dan langsung menyapa Naruto setelah muncul dari
baluk pintu..
"wahh..naruto…maaf tadi aku membantu tou-san dulu dibelakang…bunga lili
lagi?" tanya ino yang sepertinya sudah tahu apa yang diinginkan Naruto di toko
miliknya.
"ahh, iya…sama seperti biasanya ya..tapi..bisakah kau menambahkan beberapa
tangai bunga lavender" pinta Naruto lalu duduk di salah satu meja tunggu sambil
memandangi bunga yang terpajang rapi di tengah-tengah ruangan.
"baiklah…tunggu 2 menit" ucap ino lalu berjalan meninggalkan Naruto yang
tengah terduduk di kursi tunggu untuk kedalam rumah kaca tempat keluarga
yamanaka menyimpan persediaan bunga, untuk mengambil beberapa tangkai bunga lili
untuk dirangkainnya seperti pesanan Naruto yang biasanya.
"hum..tak biasanya dia meminta bunga lavender" gumam ino disela-sela
merangkai bunga miliknya, lalu ia tiba-tiba teringat sesuatu "ahh iya!..ini kan
hari ulang tahunnya" ucap ino menepuk jidatnya.
Setelah selesai dengan rangakaian bungannya, dan dirasanya pas, tak ada
kesalahan, ino pun keluar dari rumah kaca lalu berjalan mendekati Naruto yang
tengah melamun.
"ini" ucap ino membuyarkan lamunan Naruto.
"ahh..ino..iya"ucap Naruto lalu berdiri dan mengambil rangkaian bunga dari
tangan ino.
"ini gratis kok" ucap ino menolak saat Naruto tiba-tiba mengeluarkan
dompetnya.
"benarkah?" tanya Naruto sedikit senang.
"yaa..hari ini hari ulang tahunnya bukan? Jadi ini kuberikan untukmu" ucap
ino kepada Naruto , Naruto yang mendengarnya pun langsung menatap rangkaian
bunga yang berada ditangannya.
"hahh..iya..semoga saja Hinata akan suka" ujar Naruto dengan nada rendah.
"dia tentu saja suka Naruto…." Ucap ino sambil tersenyum kearah naruto.
Ino terus memandang Naruto yang tengah terdiam memperhatikan bunga
ditangannya, ino menatap Naruto heran bercampur rasa kasihan "Naruto!" , "
ahh…iya ..ada apa?" tanya Naruto gelagapan kaget dibentak oleh ino.
"kulihat semakin hari keadaanmu semakin memburuk saja Naruto" ucap ino kepada
Naruto.
"benarkah?" tanya Naruto dengan wajah inocentnya.
"ya..kau tahu sesekali belajarlah untuk melupakannya" ucap ino memandang
wajah tak bersemangat Naruto.
"Apa!?" tanya Naruto dengan wajah yang tiba-tiba berubah serius"kenapa sih
semua orang menyuruhku untuk melupakan Hinata…tadi Sakura-chan sekarang kau!"
ucap Naruto lalu berbalik dan pergi meninggalkan ino yang masih mematung diam
didalam tokonya.
"Naruto.."gumam ino merasa kasihan dengan naruto.
Naruto telah sampai dipemakaman, dipandanginnya batu nisan kekasihnya itu
yang telah meninggalkannya dari satu tahun yang lalu.
"hime…." Gumam Naruto lalu menjatuhkan lutunya di samping makam ,
dipandanginya nisan itu, tampak sebaris huruf yang terukir diatas nisan
tersebut, diusapnya nisan itu dengan penuh sayang.
"hime…selamat ulang tahun…hehe " ucap Naruto tertawa hambar, lalu
diletakkannya rangkaian bunga ditangannya itu disamping batu nisan milik
kekasihnya itu, tanpa disadarinya air mata yang sejak tadi menggenang di pelupuk
matanya pun meluap dan mengalir membasahi kedua pipinnya.
"hime….maaf hanya bisa memberimu bunga ini..…..s-selamat ulang tahun yaa…."
ucap Naruto lalu mengusap air matanya yang semakin deras keluar dengan lengan
jaket miliknya.
"dulu..kau membuatku berjanji untuk terus menunggumu.." ucap Naruto sambil
tersenyum tipis.
"dan sampai sekarang pun aku masih setia memegang janjiku itu…t-tapi sampai
kapan kau akan membuatku terus menunggu..hiks.." pelupuk mata Naruto pun kembali
meluapkan air mata, semakin banyak sampai menetes dan mengenai batu nisan milik
Hinata.
"a-aku ingin bertemu denganmu..aku ingin memelukmu…hiks…a-aku..hime…aku
merindukanmu…hiks…." Dan air mata itu pun terus mengaliri kedua pipi tan
miliknya tanpa hambatan, sungguh sejak satu tahun yang lalu Naruto tetap terus
menunggu walau pun kerinduan terus menerus menggerogoti hatinya, tapi Naruto
tetap sabar, ia yakin suatu saat nanti….hinatanya akan kembali kedalam
pelukannya.
Tak berapa lama, tiba-tiba sebuah tangan mungil pun menepuk bahu sisi
kirinya, lalu disusul dengan suara lembut nan lirih dari seorang gadis kecil
dibelakangnya.
"Naruto Nii" gumam sang gadis berusaha menyita perhatian Naruto yang tengah
terisak, Naruto yang menyadari kedatangan sang gadis kecil itu pun langsung
dengan cepat-cepat menghapus air matanya dengan kedua lengan jaket orange
miliknya, lalu menengok kearah suara tadi.
"ahh kau Hanabi…" ucap Naruto dengan nada suara yang masih bergetar, tanda
Naruto baru saja menangis.
"k-kau juga ingin merayakan ulang tahun kakakmu ya" lanjut Naruto tersenyum
miris kearah Hanabi yang terlihat sedang menatap Naruto sendu.
"umm..aku ingin mengucapkan selamat ulang tahun pada neechan" ucap
Hanabi lalu berjalan melewati Naruto untuk mendekat kearah nisan Hinata lalu
duduk menekuk lutut di samping nya.
"neechan…" ucap Hanabi mengelus batu nisan milik Hinata, dibersihkannya
sedikit debu yang menempel di atas nisan itu dengan jari jemari lentiknya.
"maaf neechan, ayah tidak bisa datang….tadi ada rapat klan..jadi
mungkin nanti ayah akan menyusul" lanjut Hanabi lalu meletakkan rangkaian bunga
yang dibawanya disamping bunga milik Naruto.
"selamat ulang tahun…..neechan..aku yakin neechan juga sedang merayakan ulang
tahun bersama ibu bukan…hiks…" ucap Hanabi tak kuasa menahan air matanya untuk
keluar, mengalir melewati kedua pipi putihnya, ia rindu dengan sosok kakaknya
yang selalu sayang dengannya, lembut dan juga sabar menghadapi sifatnya yang
selalu tak sabaran.
"n-neechan…titip salam untuk ibu disana yaa…hiks..hiks…."," s-sudahlah
Hanabi..." ucap Naruto tiba-tiba memgang kedua bahu mungil tersebut, berusaha
menenangkan Hanabi yang terlihat semakin sedih.
"Hanabi…hari sudah hampir malam…kita pulang saja bagaimana?" tanya Naruto
kepada Hanabi yang masih terisak.
"t-tapi…neechan..bagaimana..hiks…" ucap Hanabi sesenggukan, bahunya terus
bergetar memandangi nisan milik kakaknya itu.
"aku yakin Hinata sedang berbahagia disana…dia tak akan senang jika melihat
adik tersayangnya menangis seperti ini" ucap Naruto yang sepertinya berhasil
meyakinkan Hanabi untuk tetap tegar, walaupun suasana hatinya juga sama rindunya
dengan Hinata.
"sudah yaa..ayo ku antar pulang" ucap Naruto mengajak Hanabi pulang "u-umm"
Hanabi mengangguk.
Bermenit-menit Naruto berjalan dengan mengandeng tangan Hanabi, mereka
berjalan menelusuri jalanan desa Konoha dalam diam, hari sudah mulai gelap,
suara-suara binatang malam pun mulai terdengar saat mereka berdua melewati taman
Konoha, sampai tiba-tiba Hanabi membuka mulutnya untuk memecah keheningan
malam.
"niichan" ucap Hanabi yang langsung menyita perhatian Naruto untuk menatapnya
" ada apa Hanabi?" tanya Naruto dengan lembut.
"umm..apa Naruto nii juga merindukan neechan?" tanya Hanabi kepada Naruto,
Naruto yang mendapat pertanyaan seperti itu pun wajahnya langsung berubah
sendu.
"kau tahu Hanabi..kakakmu adalah orang yang sangat dan paling ku cintai
didunia ini.." ucap Naruto tersenyum kearah Hanabi,lalu dialihkan pandangannya
kearah depan menatap jalanan yang tiba-tiba terasa semakin jauh " setiap
malam..setiap jam..bahkan setiap detik…aku selalu merindukannya…..kehilangannya
terasa lebih berat daripada saat aku kehilangan ero-sannin dulu" uca Naruto lalu
menunduk memandangi kakinya yang sedang melangkah.
"tapi….aku yakin neechan-mu akan kembali..dan sampai saat itu tiba, maka
niichan akan langsung melamarnya..hehe" ucap Naruto lalu menolehkan wajahnya
sedikit kearah Hanabi untuk menunjukkan senyumannya.
"Naruto nii..t-tapi kan.." , " kau ingin ku beritahu suatu rahasia?" tanya
Naruto memotong ucapan Hanabi.
"rahasia?" tanya Hanabi terheran-heran 'rahasia apa?' batin Hanabi.
"ya..rahasia..dan tentu saja ini tentang neechanmu" ucap Naruto yang terus
memandang kedepan.
"t-tentang neechan?" ucap Hanabi yang semakin bingung.
"ya..ayo kita duduk disana" ucap Naruto menunjuk kearah bangku kosong
ditengah taman.
"apa nanti ada yang mencarimu?" tanya Naruto kepada Hanabi.
"s-seluruh anggota klan sedang rapat..kurasa tidak" ucap Hanabi, dan sedetik
kemudian terasa lengannya ditarik oleh Naruto menuju kearah meja yang dmaksut
Naruto.
Dan mereka sekarang tengah terduduk di bangku taman, terlihat Hanabi terduduk
disamping Naruto yang tengah melamun, sampai akhirnya Naruto pun menghentikan
lamunannya dan menatap kearah Hanabi yang sudah sejak tadi lebih dahulu
memperhatikan dirinya.
"setelah kuceritakan tentang ini…kau jangan memberitahu siapa pun
yaa…termasuk konohamaru" ucap Naruto lalu menegakkan punggungnya.
"umm..baiklah" jawab Hanabi mengangguk " sebenarnya karena inilah mengapa aku
sangat yakin kalau Hinata akan kembali….entah kapan dan bagaimana
carannya..t-tapi saat itu" ucap Naruto mengantungkan kalimatnya, dihirupnya
udara dingin malam itu bermaksud mengurangi debar jantungnya yang semakin lama
kian memanas.
" saat itu….kira-kira setahun yang lalu..tepatnya sesaat setelah aku menerima
kabar bahwa neechanmu meninggal, aku langsung pingsan…kau tahu..saat aku
pingsan, neechanmu mendatangiku dan berkata..dia akan kembali…entah kapan…dan
dia juga menjuruhku berjanji untuk tak akan meninggalkannya" ucap Naruto lalu
menengok kearah Hanabi, dan didapatinnya wajah Hanabi yang terlihat melongo.
" neechanmu berkata kalau dia ingin menyelesaikan masalahnya dulu…entahlah
masalah apa itu…tapi yang pasti aku sangat yakin kalau itu bukanlah mimpi" ucap
Naruto menunduk memperhatikan kedua lututnya.
"kau boleh percaya boleh tidak hanabi..tapi itulah alasanku untuk tetap tak
akan pernah melupakan Hinata" dan sedetik kemudian terdengar isakan kecil
Hanabi.
" n-niichan..a-apa yang kau katakan itu benar?" tanya Hanabi sesenggukan.
"ya..aku sangatlah sungguh-sungguh" ucap Naruto lalu mengusap air mata yang
telah membasahi pipi Hanabi.
"jika kau percaya…kita bisa menunggunya bersama….kau percaya kan?" tanya
Naruto kepada Hanabi "umm..a-aku percaya….k-karena neechan tak akan pernah
mengingkari perkataannya sendiri" ucap Hanabi yang langsung terlihat
bersemangat.
" kalau saat itu datang…apa yang akan kau lakukan pertama kali dengan
neechanmu?" tanya Naruto mengusap puncak kepala Hanabi.
" a-aku akan…ummm" terlihat Hanabi sedang berfikir " aku akan langsung
memeluknya erat seharian" ucap Hanabi semangat.
"haha…ternyata pemikiran kita sama ya..hahaha" tawa Naruto mengetahui pa hal
pertama kali yang Hanabi lakukan saat bertemu dengan Hinata "aku tak akan
membiarkan niichan melakukan itu!" ucap Hanabi smemanyunkan bibirnya.
"e-ehh..kenapa?" tanya Naruto sedikit menggoda.
" tentu saja pasti Naruto nii akan berbuat mesum dengan neechan bukan!" ucap
Hanabi menggoda Naruto.
"hee..kau adik kecil tidak boleh berfikiran seperti itu hihihi" ucap Naruto
menoyor jidat Hanabi.
" huhh..wajahmu saja sudah terlihat ingin melakukan itu" ucap Hanabi
ketus.
"hee..memangnya kau tak pernah melakukannya dengan konohamaru apa?" tanya
Naruto menyelidik, wajah Hanabi pun langsung merona sangat merah
"e-eh..b-bagaimana Naruto nii tahu?" tanya Hanabi gelagapan.
"tentu saja tahu…konohamaru kan sering bercerita padaku kalau kau..mmfftt….."
kalimat Naruto pun terputus saat sepasang telapak tangan membekap mulutnya.
"cukup! Naruto nii jangan berkata apa-apa lagi!" ujar Hanabi kesal.
"hehehe…berarti benar kan?" tanya Naruto menggoda.
" e-ehh itu.." pekik Hanabi dengan wajah yang semerah tomat, Naruto yang
melihat rona merah Hanabi pun langsung teringat kembali bagaimana usahanya
medapatkan rona merah itu pada hinatanya.
"hehh..kau benar-benar mirip dengan neechanmu…" ucap Naruto lalu berdiri.
" Naruto nii mau kemana?" tanya Hanabi heran melihat Naruto yang tiba-tiba
berdiri.
"tentu saja mengantarmu pulang…ini sudah semakin larut" ucap Naruto berbalik
dan memadang kearah Hanabi.
"ayo" lanjut Naruto mengulurkan tangannya.
"aku mau digendong" ucap Hanabi menyilangkan lengannya.
"hee…kenapa kau berubah menjadi manja begitu sih?" tanya Naruto heran.
" kalau tidak mau…aku tak akan mengizinkan niichan memeluk neechan nanti!"
ucap Hanabi ketus.
"hah..baiklah-baiklah" ucap Naruto lalu mendengus kesal.
Penjaga gerbang kompleks klan Hyuuga pun terkejut saat melihat hokage mereka
tiba-tiba muncul didepannya sambil mengendong anak ketua klan mereka yang sedang
tertidur "hokage-sama!" ucap penjaga klan tersebut sambil membungkukan tubuhnya
90%.
" dimana kamar Hanabi?" tanya Naruto kepada si penjaga gerbang, si penjaga
gerbang pun langsung menegakkan badannya kembali lalu menunjuk kearah salah satu
pintu si manshion tersebut.
"itu..disana hokage-sama" ujar si penjaga gerbang kepada Naruto
"ahh..baiklah" ucap Naruto lalu melangkahkan kakinya.
Namun belum 2 langkah kakinya melangkah, telinganya pun langsung menangkap
suara berat yang tengah memanggilnya dari arah samping "otousan" ucap Naruto
memandang siapa gerangan yang memanggilnya.
"kau apakan putriku!" tanya Hiashi menyelidik.
"hehe..maaf tadi kami berdua baru saja merayakan ulang tahun Hinata…tapi dia
malah tertidur disaat perjalanan pulang" ujar Naruto sambil menggaruk-garuk
rambut bagian belakang kepalanya.
"ohh begitu ya.." ucap Hiashi melembut.
" kalau begitu sini..biar aku saja yang membawanya kedalam kamar" ucap Hiashi
bermaksud mengambil Hanabi dari gendingan Naruto, Naruto pun dengan pelan-pelan
memberikan Hanabi yang tengah tertidur dipungungnya kepada Hiashi.
" baiklah..kau boleh pergi sekarang" ujar Hiashi sambil membopong Hanabi,
anaknya menuju ruangannya.
" baiklah otousan aku pulang dulu" ujar Naruto lalu berbalik.
" mheh..dasar" gumam Hiashi merasa aneh dipanggil otousan, tapi dia juga tak
bisa melarang Naruto untuk tak memangglnya seperti itu.
SKIP TIME
Sekarang Naruto tengah berbaring di ranjangnya menatap langit-langit
kamarnya"hah…hime…" gumam Naruto lalu memiringkan tubuhnya untuk mengambil
sebuah pigura foto di meja kecil disamping tempat tidurnya, dipandanginnya foto
itu, terlihat disana dia sedang mendekap sesosok gadis berambut indigo panjang
ditepi danau, merah itu….sungguh rasa rindu Naruto langsung bertambah saat
melihat rona merah di wajah Hinata di dalam foto itu.
"aku merindukanmu.." gumam Naruto lalu mengecup foto tersebut diarea wajah
Hinata.
"kenapa kau meninggalkanku seperti ini..….k-kita kan bisa menyelesaikan
masalahmu bersama-sama" ujar Naruto dengan berlinangkan air mata.
"kau fikir kau kuat..heh….bagaimana jika kau tak bisa menepati janjimu!"
lanjut gumam Naruto.
"aku rindu hime…aku sangat rindu padamu…hiks…..aku tak tahu lagi harus
bersikap bagaimana didepan orang-orang..hime..hiks….kembalilah..".
Satu tahun telah berlalu sejak kejadian itu, dan satu tahun itu pula hidup
Naruto hanya diselimuti dengan kekosongan, ia tak tahu harus bersikap apa, ia
salah jika harus terus-terusan bersikap sedih, tapi ia tak bisa membohongi
dirinya sendiri kalau sampai sekarang pun hatinya masih tak sanggup untuk
menerima kenyataan, tapi jika ia bersikap biasa saja dan berusaha menjadi
dirinya yang dulu, yang periang dan selalu bersemangat, jujur Naruto tak bisa,
hatinya sudah mati sejak ditinggal oleh Hinata, ia masih belum sanggup menutup
sebuah lubang besar yang menganga didalam hatinya, bohong jika ia bilang ia tak
merasa kesepian.
Sulit memang, tapi itulah kehidupan yang harus dilewati Naruto,
ketidakjelasan, disisi lain ia hampir putus asa saat mendengarkan
nasehat-nasehat teman-temannya untuk melupakan Hinata, karena mereka pikir
Hinata telah mati, tapi disisi lain ia harus tetap menjaga janjinya kepada
Hinata yang dulu ia buat di alam mimpi, walaupun sedikit terbesit rasa keraguan,
tapi dengan secepat kilat Naruto akan langsung menepis persepsinya itu dan
meyakinkan diri bahwa suatu saat Hinata, kekasihnya akan kembali kedalam
pelukan-nya.
Tanpa terasa , kantuk pun menyerang Naruto ditengah-tengah isakannya, kelopak
matannya tiba-tiba terasa berat, sampai akhirnya ia benar benar tertidur dengan
jejak air mata yang masih basah.
O0O
Pagi itu seperti pagi biasa di desa Konoha, tak ada yg spesial, bahkan bisa
dibilang pagi yang buruk untuk Naruto, bagaimana tidak, waktu belum menunjukkan
pukul 5, tapi sudah ada saja orang yang menggangu tidur terbatasnya, padahal
Naruto baru saja memulai tidurnya jam 3 pagi tadi….
TOK..TOK…TOK..
Suara ketukan pintu itu terdengar begitu nyaring, Naruto tak mau tahu….ia
lelah…lelah dengan pikirannya, ia bahkan tak mau hanya sekedar menoleh untuk
melihat kearah pintu.
TOK..TOK…TOK…
Suara itu kembali lagi, sudah cukup kesabaran Naruto saat itu, yaa sebagai
hokage memang butuh kesabaran ekstra, tapi ini sungguh keterlaluan, dipagi buta
sudah menggangu tidur orang lain, apa lagi hokage mereka, seorang yang mengetuk
pintu tersebut haruslah diberi pelajaran.
"sial! Cari mati apa orang itu" gerutunya , selimut yang tadinya menutupi
tubuhnya pun dilemparkannya entah kemana.
"IYA SEBENTAR!" teriaknya kepada sang pengetuk pintu, Naruto pun bangkit dan
sejenak memahami keadaan dengan duduk di tepi tempat tidur, kepalanya masih
pusing sejak tadi malam.
Setelah selesai dengan Persiapannya, Naruto pun bangkit dan berjalan gontai
menembus sampah-sampah dan pakaian kotor diatas lantainya yang entah sejak kapan
membusuk disana, sungguh jika dibandingkan dengan tempat sampah, maka kamar
Naruto jauh lebih buruk untuk ditinggali, Naruto hampir terpeleset saat kakinya
menginjak tomat busuk yang entah sejak kapan disana "sial!" gerutunya.
untung saja ada lemari sebagai pegangan nya , jika tidak, maka sudah tak tahu
lagi nasip kepalanya, mungkin akan gagar otak karena terbentur, tapi kalau pun
itu terjadi, Naruto tak perduli, toh ia akan segera menyusul kekasihnya di alam
sana.
" tak sekalian saja" umpat nya sambil tersenyum tipis " hampir saja aku
melepas rinduku denganmu hime" gumamnya lalu melanjutkan langkah kakinya menuju
pintu, sesampainya di depan pintu, sepertinya Naruto tak langsung membukanya, ia
tempelkan dahinya di daun pintu apartemennya tersebut.
meredakan emosinya yang tengah meledak-ledak didalam hati, bisa fatal
akibatnya jika ia langsung membuka pintunya, bisa-bisa orang dibalik pintu itu
akan langsung menerima Rasengan-nya dan berakhir dirumah sakit, seperti nasip
lee yang dulu kelewatan semangat membangunkan Naruto, alhasil 1 minggu ia
dirawat dirumah sakit karena terkena rasengan Naruto, dan akibatnya untuk
Naruto, dia harus menerima hukuman dari para tetua untuk mempertanggung jawabkan
perbuatannya.
"siapa kau?" tanya Naruto heran melihat sosok didepannya yang belum pernah ia
temui.
"selamat pagi hokage-sama ….saya benar-benar minta maaf atas kelancangan saya
menggangu istirahat anda dipagi ini…" ucap Mizuto sambil tetap tersenyum.
" ya..kau sangat mengganguku…siapa kau sebenarnya!" tanya Naruto lagi.
" sebelumnya perkenalkan aku adalah ketua ANBU yang anda tugasi satu tahun
yang lalu untuk menjaga nona Hinata" mata Naruto pun langsung melebar lantaran
mengetahui siapa gerangan sosok di depan nya, rasa kecewa dan marah itu pun
kembali muncul lantaran melihat ketidak pecusan orang didepannya itu.
" mau apa kau kesini?" tanya Naruto dingin.
" tenang dulu hokage-sama, saya cuma ingin memperlihatkan sesuatu kepada
anda" ucap Mizuto lalu menoleh karah samping kanannya.
" Han! Bawa dia kesini" teriak Mizuto kepada teman nya yang tengah menunggu
dibalik tembok,.. Naruto yang masih setengah sadar pun hanya menatap heran
sekaligus kesal, namun tiba-tiba matanya terbuka sepenuhnya dan pupil nya
membulat lantaran melihat sosok yang tengah berjalan disamping seorang ANBU...
'a-apa aku sedang bermimpi?'…
TBC..
mohon maaf jika chapter ini mengecewakan
para readers (T-T)
Sumber : https://www.fanfiction.net/s/9472296/6/Miss-You
keren banget min ^_^
BalasHapus