Akhirnya, chapter 5 update juga.. Wah, ga kerasa udah sampai chapter 5 aja.
Belum ada rencana sampai chapter berapa. Yang pasti ada endingnya (iyalah!).
Maaf ya readers kalau menunggu lama. Blue lagi sakit dan juga UAS semakin
mendekat. Arrrrgggghhhh!!!! *pundung di sudut tembok*
Disclaimer: Masih punya Om Kishi.. Saya akuin deh om, Naruto punya om.. Tapi, ntar ending ceritanya beneran NaruHina ya??? Awas loh kalau kagak.. *ngancem sambil bawa golok*
Enjoy it!
Chapter 5
Readers!! Ah, akhirnya jadi juga chapter 5nya. Duh, maaf lama updatenya! Soalnya Blue mau ada U... *readers:UDAH TAHU!! Lo ada UAS kan? Balikkin mulu ngomongnya!! Ampe capek nih kuping!!*.
Ya udah sih sepele.. Hahahay!! Maaf kalau fict ini agak kacau. Lagi error nih otak. Kagak ada ide! Mau ga mau harus cepat-cepat update soalnya dah pada nungguin. Trus, tinggal klik kotak warna hijau ya!! Arigatou gozaimasu!!!
Disclaimer: Masih punya Om Kishi.. Saya akuin deh om, Naruto punya om.. Tapi, ntar ending ceritanya beneran NaruHina ya??? Awas loh kalau kagak.. *ngancem sambil bawa golok*
Enjoy it!
Chapter 5
Rainbow Butterfly
Setelah insiden 'Sasori –nyaris- memperkosa Hinata', membuat Hinata hari ini
tidak masuk. Dan, berita itu sudah tersebar dengan cepat seperti angin hingga ke
pelosok sekolah.
Entah darimana mereka mendapatkan kabar itu, tetapi yang pasti mereka juga
sudah mendengar bahwa Sasori dan 2 kawannya itu dikeluarkan dari Konoha High
School dan menetap di penjara Konohagakuen. Mereka semua, terutama wanita, tidak
menyangka Sasori yang juga merupakan lelaki idola di Konoha High School itu
melakukan hal nista seperti itu.
Dan, seorang gadis bermata orange ruby berlari di koridor sekolah dengan
wajah yang terlihat cemas dan kesal menuju ke kelas 11-3.
"Naruto!!!!!" Naruto mendongakan kepalanya ketika seseorang memanggil
dirinya. Belum sempat ia bertanya, orang yang memanggilnya itu keburu menarik
dirinya keluar kelas.
"Mi-Miru!! Ada apa sih?! Kayak orang kesetanan aja! Narik-narik nggak jelas!"
omel Naruto melepaskan cengkraman Miru dari kerah bajunya. Nafas Miru
tersengal-sengal.
"Ada yang ingin kubicarakan padamu! Tentang Hinata-chan dan si brengsek
Sasori itu!" kata Miru. Mendengar nama Sasori, Naruto langsung mengerutkan
dahinya. Ia tidak suka nama itu disebut-sebut.
"Ya, kau mau bicara apa?" Miru menghela nafas.
***
"APAAAAAA?!!!!" Miru membekap mulut Naruto membuat perhatian semua orang
tertuju pada dirinya dan Naruto yang sedang duduk di meja kantin itu.
"Bisa tidak kau pelankan suaramu?! Jangan kau kira suaramu itu pelan!" omel
Miru. Naruto mengangguk.
"Jadi, sebelumnya Sasori juga pernah hampir memperkosa Hinata-chan?"tanya
Naruto mengaduk-aduk jus alpukatnya.
"Ya. Sekitar setahun yang lalu. Tetapi, kejadiannya bukan di sekolah. Waktu
itu, aku dan Hinata-chan pergi ke Cafe Apanzzi. Setelah itu, kami berencana
untuk pergi ke Mall Konoha mencari hadiah untuk Kiba-kun yang saat itu berulang
tahun menggunakan kereta."
"Dan, ketika kami sudah sampai di stasiun yang tak jauh dari cafe itu, aku
melupakan sesuatu. Dompetku tertinggal di cafe itu. Aku bergegas kembali ke cafe
dan menyuruh Hinata-chan menunggu sebentar."
"Lalu?"
"Saat Hinata-chan menunggu, seseorang membekap mulutnya. Membawanya ke sebuah
gudang kosong yang tak jauh dari stasiun itu. Saat aku kembali ke stasiun itu,
Hinata-chan tidak ada. Aku mencari-carinya." Miru berhenti sejenak menyeruput
jus apelnya.
"Aku terus mencarinya. Hingga akhirnya aku menemukan Hinata-chan sedang
dibopong oleh seorang bapak paruh baya keluar dari gudang kosong itu. Hampir
saja aku menghajar bapak itu kalau saja Hinata-chan tidak mengatakan bahwa bapak
itulah yang menolongnya. Kalau tidak ada bapak itu, mungkin Hinata.." Miru tidak
melanjutkan kata-katanya. Naruto memejamkan matanya.
"Brengsek!! Kenapa tidak langsung kau laporkan saja ke polisi?!"tanya Naruto
marah. Miru menggeleng.
"Tak ada gunanya. Sasori itu pandai sekali bersembunyi. Dia sungguh licin
untuk ditangkap. Lagipula, saat itu Sasori langsung melarikan diri secepat
mungkin sehingga aku tidak sempat menangkapnya."Naruto melengos. Memukul meja
kantin hingga tangannya sedikit lebam. Miru menepuk bahu Naruto.
"Sudahlah.. Hinata-chan sekarang sudah selamat.. Berkat kau.. Sasori juga
sudah berhasil ditangkap.. Maka dari itu, aku sangat berterima kasih sekali
padamu, Naruto.." kata Miru memotong kata-kata Naruto.
"Yaa.. Aku juga agak menyesal tak bisa menjaganya dengan baik.. Padahal, dia
gadis yang baik.. Sasori memang brengsek!" umpat Naruto lagi. Miru menatap
Naruto dengan pandangan yang tajam. Seulas senyum muncul di wajahnya.
"Hey, apa kau menyukai Hinata-chan, Naruto?"tanya Miru dengan tatapan jahil.
Sontak, Naruto blushing.
"K-kau ini.. Maksudnya apa?? T-tidak kok.. Aku tidak suka sama Hinata-chan.."
jawab Naruto gagap sudah sama seperti Hinata.
"Kalau tidak, kenapa gaya bicaramu seperti Hinata-chan?"Naruto gelagapan.
Rasa gugupnya tak bisa juga hilang. Miru tertawa.
"Naruto, apa kau tahu? Menurut Hinata-chan, kau sangat berarti baginya.. Kau
lebih berharga daripada permata ataupun berlian sekalipun.." ucap Miru membuat
Naruto menaikkan alisnya.
"Maksud kau?"
"Suatu saat, pertanyaanmu akan terjawab. Sudah ya, Kiba-kun sudah menungguku
di kelas. Ja matte!!" Miru berlari meninggalkan Naruto yang hanya terbengong tak
mengerti dengan ucapan Miru.
***
Sakura dan Fuuka sedang asyik menaburkan bubuk bedak ke wajah mereka.
Memoleskan sedikit lips gloss baby pink ke bibir mungil mereka.
"Sakura, kau sudah dengar tentang Sasori dan Hinata?"tanya Fuuka.
Pandangannya tak lepas dari cermin. Sakura berhenti menggerakan tangannya yang
sedang memoleskan lips glossnya itu.
"Sasori dan Hinata? Dasar perempuan murahan! Kemarin Sasuke-kun, sekarang
Sasori?! Apa mau dari wanita itu sih???" sentak Sakura menghentakkan
kakinya.
"Entahlah. Yang kudengar sih, Hinata itu hampir saja di..."Fuuka
celingak-celinguk melihat sekitar. Tak ada siapa-siapa. Ia berbisik ke
Sakura.
"Perkosa oleh Sasori..."
"WHAT?!!!!! Apa-apaan itu?! Tidak mungkin! Sasori tak mungkin melakukan hal
itu! Itu pasti Hinata yang duluan menggoda Sasori! Errggggh... Dasar perempuan
licik! Dia suka sekali sih, mencari sensasi di sekolah?!"umpat Sakura. Fuuka
mengangkat bahu.
"Lalu, apa yang bisa kita perbuat? Bisa-bisa Sasuke jatuh ke tangan
Hinata..."kata Fuuka memanas-manasi Sakura. Spontan, Sakura membanting lips
glossnya.
"Tak ada yang boleh mendapatkan Sasuke-kun selain aku! Kau tahu sendiri kan,
Fuuka. Aku adalah cewek paling populer dan cantik di sekolah ini."kata Sakura
membanggakan dirinya sendiri.
"Terlalu PD kau. Sudah, aku lapar. Ke kantin yuk."
***
Sepulang sekolah, Naruto, Sasuke, Miru dan Kiba berencana menjenguk Hinata.
Dan, sekarang mereka sedang ada di toko buah untuk membelikan sekeranjang apel
dan blueberry kesukaan Hinata.
"Teme, kau tidak mau masuk?"tanya Naruto menepuk bahu sahabatnya itu. Sasuke
menggeleng. Tanpa banyak bicara, Naruto meninggalkan Sasuke di depan toko.
Sasuke duduk di sebuah kursi panjang yang tersedia di depan toko itu. Melihat
awan yang bergerak tertiup angin. Seketika, ia membayangkan wajah Hinata yang
ketakutan saat Sasori hampir merebut kesuciannya.
"Dasar brengsek!!" Sasuke mengumpat. Matanya mengarah pada sebuah toko di
depan toko buah ini. Itu kan toko...
Kricing....
"Selamat datang.. Mau beli bunga apa?"tanya Ino ramah ketika seseorang datang
ke tokonya. Kaget bukan main siapa yang datang ke tokonya itu.
"Sa-Sasuke?"
"Err.. Ino, aku butuh beberapa tangkai bunga."kata Sasuke agak canggung.
Karena, dia memang tak pernah membeli bunga. Setangkai saja tidak.
"Bunga apa? Banyak bunga di sini."
"Ehm.. Aku ingin menjenguk seseorang.. Seorang teman.. Bunga apa yang paling
bagus untuk menjenguk seorang teman? Atau yang mempunyai arti 'Aku di sini
bersamamu'. Ada?"Ino tampak berpikir.
Cewek blonde ini membalik badannya. Melangkah ke sebuah pot yang
terdapat bunga berwarna ungu muda kebiruan. Ia memetik satu dengan senyum puas.
Menunjukkannya ke wajah Sasuke.
"Bunga ini yang kau maksud kan? Kau ingin memberi sebuah bunga yang memberi
kepercayaan pada seseorang itu? Aku rasa, bunga Purple Grifilia ini cocok untuk
itu. Aku bungkuskan ya."Ino membungkuskan pesanan Sasuke. Sasuke memegang tangan
Ino yang hendak membungkus bunga pesanan Sasuke. Ino kaget. Wajahnya bersemu
merah.
"Euhm.. Kenapa?"
"Tolong tambahkan 1 bunga mawar putih di antara bunga ungu itu." Kata Sasuke
menunjuk ke pot bunga mawar. Ino mengangguk-angguk. Dia memang terlalu PD.
Ino memetiknya satu dan merangkainya bersama dengan bunga ungu kebiruan tadi.
Hanya 1 menit, bunga pesanan Sasuke sudah jadi dalam satu buket dengan pita
cantik. Ino mengerutkan dahinya ketika melihat 1 mawar putih di tengah-tengah.
Ia baru sadar Sasuke meminta bunga itu.
"Euhmm.. Sasuke, kalau aku boleh tahu kau mau menjenguk siapa? Sepertinya
spesial sekali.."tanya Ino menyerahkan buket bunga itu ke Sasuke. Yang ditanya
sedikit blushing.
"Itu.. Ah, hanya seorang teman.."jawab Sasuke gugup.
"Aku hanya heran saja.. Bukankah, mawar putih itu artinya 'Aku sayang
padamu'. Kau ingin menjenguk orang itu dengan tujuan memberinya semangat, tetapi
kau meminta 1 bunga mawar putih ditengahnya. Itu kan, berarti seseorang itu
sangat spesial untukmu bukan?"Sasuke menyesal. Kenapa dia tidak beli bunga di
toko lain saja? Tahu begini, dia tidak akan beli di toko Ino.
"Sasuke, kau di sini rupanya. Kucari kemana-mana."Naruto datang menghampiri
Sasuke yang terbengong itu. Sasuke baru sadar Naruto telah dibelakangnya bersama
Miru dan Kiba.
"Dobe, jangan mengagetkanku."ucap Sasuke sedikit kesal. Merogoh sakunya dan
memberi selembar uang ke Ino.
"Kau beli bunga ya?"
"Tentu saja aku beli bunga. Sudah jelas di toko bunga. Kalau aku mau beli
tomat, aku tidak ada di sini."sahut Sasuke ketus. Naruto memanyunkan
bibirnya.
"Aku kan hanya tanya!! Bunga itu.. apa untuk Hinata-chan?"tunjuk Naruto ke
bunga yang di genggaman Sasuke. Miru dan Ino langsung mengerutkan dahi.
2 gadis ini sama-sama penyuka bunga. Dan, mereka sudah pasti tahu semua
bahasa bunga menurut warnanya. Miru dan Ino menatap Sasuke dengan curiga ketika
1 mawar putih di tengah-tengah Purple Grifilia berada di genggamannya. Bunga
mawar putih tandanya 'Aku sayang kamu'. Mengapa Sasuke membeli setangkai mawar
putih untuk Hinata?
"Su-sudahlah! Kita berangkat! Terima kasih, Ino."Sasuke langsung melesat
keluar. Menyembunyikan bunganya di balik punggungnya. Naruto hanya menatap
curiga.
"Kenapa dia membeli bunga? Aku saja hanya membeli buah. Mungkinkah.. Sasuke
suka Hinata-chan? Ah, tidak mungkin."gumam Naruto lalu menyusul langkah Sasuke.
Miru masih menyimpan curiga..
***
Ting tong.. Miru menekan bel mansion Hyuuga. Seorang lelaki bermata lavender
yang sama dengan Hinata keluar menemui mereka.
"Ah, Neji-niisan. Apa Hinata-chan ada? Kami ingin menjenguknya."kata Miru
sopan. Neji mengangguk. Ia mempersilahkan mereka semua masuk ke mansion
Hyuuga.
Tanpa banyak bicara, Neji menyuruh mereka untuk mengikuti langkahnya menuju
kamar Hinata. Miru dan Kiba di depan, sedangkan Naruto dan Sasuke di belakang.
Naruto masih menatap curiga pada Sasuke. Matanya menatap Sasuke dan bunga yang
sedang dipegang Sasuke.
"Kenapa kau melihatku seperti itu, Dobe?" Sasuke yang merasa diperhatikan pun
menyahut tanpa melirik ke Naruto. Naruto buru-buru memalingkan wajahnya.
"Siapa yang melihatmu? PD sekali kau. Melihatmu itu hanya buang-buang waktu
saja."kata Naruto ketus. Mengenggam erat keranjang buah yang dipegangnya. Sasuke
tak menyahut.
"Hinata-sama, teman-teman anda datang untuk menjenguk anda." Neji mengetuk
pelan pintu kamar Hinata.
"Ma-masuk saja, Neji-niisan. P-pintunya tidak kukunci."terdengar sebuah suara
imut dari balik pintu itu. Dengan perlahan, Neji membuka pintu.
"Hinata-chan!! Aku rindu sekali padamu!!"Miru langsung menghambur masuk dan
memeluk erat Hinata. Yang dipeluk pun tersenyum manis.
"Miru-chan, aku juga rindu sekali padamu. Sehari tidak masuk sekolah saja,
rasanya kangen sekali."kata Hinata. Miru tersenyum.
"Aku tidak pernah kau peluk seperti itu, Miru-chan."sahut Kiba pura-pura
ngambek. Di belakangnya Naruto dan Sasuke mengikutinya.
"Ah, Kiba-kun. Kau datang juga. Sasuke-kun dan..."kalimat Hinata terhenti
begitu melihat pemuda berambut blonde jabrik sedang menyengir
kepadanya. Wajahnya memerah.
"Naruto-kun..."
"Hay Hinata-chan! Apa kau sudah sehat? Kau baik-baik saja kan? Aku rindu
sekali padamu!! Oh ya, aku membawakan buah kesukaanmu."Naruto langsung melangkah
ke tempat tidur Hinata yang sedikit mendorong Kiba.
"Aduh, baka!! Bisa tidak kau pelan-pelan?!! Sakit tahu!"omel Kiba mengelus
lengannya. Yang diomeli tak menyahut.
"Ini, buah untukmu. Sebelum ke sini, tadi aku beli buah dulu untukmu. Agar
kau semakin sehat dan membaik. Hehehe."tawa Naruto dengan cengiran khasnya.
Hinata tersenyum malu.
"A-arigatou, Naruto-kun.." Hinata menerima keranjang buah dari tangan Naruto
dengan wajah yang tersipu malu. Sasuke menggeram. Digenggam eratnya bunga yang
dia sembunyikan di balik punggungnya.
"Hehehehe, aku khusus belikan untukmu loh, Hinata-chan. Kau sangat suka sama
blueberry kan? Makanya kubelikan untukmu."celoteh Naruto riang. Hinata memakan 1
butir blueberry dan tersenyum manis pada Naruto.
"Eh, aduh Hinata-chan. Aku boleh pinjem kamar mandi bentar nggak? Kebelet
banget!!"kata Naruto menahan hasratnya. Hinata tertawa kecil.
"Kamu keluar dari kamar ini, langsung belok kanan. Ada pintu, itu dia kamar
mandi."ucap Hinata memberi petunjuk. Naruto langsung ngacir keluar karena sudah
tak tahan.
"Eh, ada telepon. Ya? Halo? Kachaan? Ada apa? Apa? Sebentar." Miru keluar
kamar sebentar karena ibunya menelpon. Kiba mengikutinya. Dan di situ, hanya ada
Sasuke dan Hinata. Sasuke merasa canggung dan gugup.
"Ke-kenapa Sasuke-kun? Se-sepertinya kau gugup.."tanya Hinata yang melihat
gelagat Sasuke. Sasuke memalingkan wajahnya yang sudah mengeluarkan semburat
merah di pipinya.
"I-ini... Aku mau memberikan ini untukmu.. Semoga kau suka.."kata Sasuke
menyerahkan sebuket bunga yang sejak tadi dia pegang hingga membuat bungkusan
buket itu sedikit kusut. Hinata terkejut. Ia menerima dengan rasa kaget.
"B-bunga?!"
"Ya."jawab Sasuke singkat. Hinata menatap Sasuke tak percaya. Kemarin, Sasuke
menawarinya berangkat bareng. Sekarang, ketika Sasuke menjenguknya ia membawakan
bunga untuk Hinata?
"A-arigatou Sasuke-kun.. Ini, cantik sekali."Hinata meletakkan bunga-bunga
itu di vas kaca bening yang berada di meja dekat tempat tidurnya.
"Euhm.. Ya, baguslah kalau kau suka."sahut Sasuke dingin. Hinata tersenyum.
Membuat Sasuke sedikit blushing lagi.
Nih cewek kalau senyum manis banget sih.. Mana tahan gue ngeliatnya?!!!
Arrgh, nih cewek bisa bikin gue gila kali ya.. Ingat Sasuke, lo itu UCHIHA!!
Jaga baik-baik nama itu.
"Ah, leganya.. Loh, Miru dan Kiba kemana? Kenapa hanya ada kalian
berdua?"Naruto sudah kembali dari kamar mandi. Ia heran ketika melihat di kamar
itu hanya ada Sasuke dan Hinata.
"Euhm.. Ta-tadi Miru-chan sedang menelpon di luar.. Dan, Kiba-kun
mengikutinya.. Jadilah, a-aku dan Sasuke-kun di sini.."jawab Hinata. Naruto
mengangguk. Ia duduk di samping kasur Hinata.
"Sa.. Sasuke-kun, terima kasih ya bunganya.. Cantik.. Aku suka.."puji Hinata
memegang setangkai bunga Purple Grifilia yang ada di vas bunga milik Hinata.
Semburat merah muncul di pipi Sasuke. Sasuke memalingkan wajahnya agar tidak
terlihat oleh Naruto dan Hinata. Naruto mengerutkan dahinya. Lalu, menghela
nafas.
"Hinata-chan, aku sudah tahu semua tentang Sasori dari Miru. Memang, kau dulu
dan Sasori punya hubungan khusus?"tanya Naruto memegang tangan Hinata yang
terasa dingin itu. Hinata tertunduk lesu.
"Y-ya.. Sa-Sasori-senpai dulu adalah.. Mantanku.."
"APA?!!!"teriak Naruto dan Sasuke berbarengan. Mereka saling berpandangan
karena teriak bersamaan. Hinata terkejut. Kenapa mereka bisa kompak begini?
"Mantan? Kelas berapa?"tanya Naruto.
"Kelas 1 dulu. Awalnya, dia yang menembakku duluan. Aku juga tak menyangka
dia akan menyatakan perasaannya padaku. Ta-tapi, setelah 2 bulan kami pacaran,
dia meminta sesuatu yang aneh-aneh padaku.."ucap Hinata mengenggam erat ujung
selimut. Gadis mungil ini tampak takut mengingat masa lalunya.
"Meminta apa?"tanya Sasuke yang terlihat cemas itu.
"Dia.. memintaku untuk melakukan 'itu'... Aku tidak mau.. Karena dia terus
memaksaku untuk melakukanya, akhirnya dia kuputuskan saja.. Tetapi, sejak dia
kuputuskan dia malah bertambah buruk.. Dia memaksa ku, menculikku dan
hampir.."Hinata tak melanjutkan kata-katanya. Dia masih takut mengingat itu.
"Sudahlah, Hinata-chan.. Kau tak perlu takut. Aku akan selalu menjagamu."kata
Naruto mengusap bahu Hinata. Hinata tersipu malu.
Hey Dobe, seharusnya aku yang berkata seperti itu!! Dasar kau tidak
pengertian!!!
"Ta-tapi, besok aku berangkat sekolah dengan siapa? Neji-niisan pasti bareng
dengan Tenten-chan.."kata Hinata memandang dalam-dalam mata Naruto.
"Aku saja!!!" ajak Naruto dan Sasuke bebarengan. Mereka saling pandang lagi.
Membuat Hinata semakin bingung. Sebenarnya, ini ada apa sih? Kenapa Sasuke jadi
ikut-ikutan peduli seperti Naruto?
"Denganku saja, Hinata-chan. Kalau memilih mereka berdua, aku yakin kau pasti
bingung."sahut Miru yang tiba-tiba sudah di belakang Sasuke.
"Ah, benar juga. A-aku bareng Miru-chan saja. Gomen Naruto-kun,
Sasuke-kun.."kata Hinata menunduk malu. Naruto dan Sasuke jadi salah
tingkah.
Sasuke bergegas keluar kamar. Sedangkan Miru dan Hinata masih asyik ngobrol
dan bercanda. Naruto yang penasaran dengan Sasuke, mengikuti Sasuke keluar
kamar.
"Hey, Teme. Ada yang ingin kutanyakan padamu."kata Naruto sebelum Sasuke
melangkah lebih jauh.
"Apa?"
"Ehm.. Apa kau, punya perasaan yang sama sepertiku terhadap
Hinata-chan?"Langkah Sasuke terhenti sejenak. Ada yang tercekat
dikerongkongan.
Sasuke P.O.V
Naruto.. Andai aku bisa menjawab 'ya', apa kau masih menerimaku sebagai
sahabatmu? Aku memang menyukainya, mencintainya.. Tapi aku tak sanggup bila
harus bersaing denganmu.. Kenyataannya dia lebih memilihmu daripada aku.. Tapi,
aku bukan lelaki lemah.. Maafkan aku jika aku membohongimu..
End Sasuke P.O.V
"Hey, kenapa kau malah melamun? Jawab pertanyaanku."tegur Naruto menepuk bahu
Sasuke. Sasuke sedikit tersentak kaget.
"Kenapa kau bertanya seperti itu?"tanya Sasuke balik tanpa menengok ke
Naruto. Naruto tertunduk lesu.
"Aku hanya bertanya. Aku hanya heran, kau yang biasanya cuek dengan wanita
kenapa jadi begitu perhatiannya pada Hinata-chan? Hanya Hinata-chan saja?"ucap
Naruto sedikit mencengkram bahu Sasuke. Sasuke memejamkan matanya.
"Kau tahu, Naruto? Lebih mudah bagi kita untuk berpura-pura daripada
bertingkah sesuai perasaannya. Itu akan menyakitkan untuk orang yang berada di
sekelilingnya."jawab Sasuke dingin lalu pergi.
Naruto hanya terbengong, tak mengerti. Kata-kata apa itu? Lebih mudah bagi
kita untuk berpura-pura daripada bertingkah sesuai perasaannya? Ada apa dengan
bocah Uchiha itu?
"Sasuke.. Kau tidak membohongiku kan?"
TBC...Readers!! Ah, akhirnya jadi juga chapter 5nya. Duh, maaf lama updatenya! Soalnya Blue mau ada U... *readers:UDAH TAHU!! Lo ada UAS kan? Balikkin mulu ngomongnya!! Ampe capek nih kuping!!*.
Ya udah sih sepele.. Hahahay!! Maaf kalau fict ini agak kacau. Lagi error nih otak. Kagak ada ide! Mau ga mau harus cepat-cepat update soalnya dah pada nungguin. Trus, tinggal klik kotak warna hijau ya!! Arigatou gozaimasu!!!
Sumber : https://www.fanfiction.net/s/5556135/5/Rainbow-Butterfly
Tidak ada komentar:
Posting Komentar