MISS YOU
DISCLAIMER : NARUTO, HINATA, DAN CHARA
YANG LAINNYA ADALAH MILIK MASASHI KISHIMOTO
HAN, YAZI, HIRUKA, YURI, DAN MIZUTO ADALAH
MILIK AUTHOR :d
GENRE : ROMANCE
RETED : T+
WARNING: TYPO, GEJE, BANYAK PERCAKAPAN,
TANDA BACA SALAH, NO EYD, ALUR TIDAK JELAS, DLL
HAPPY READING d:
.
.
" sebenarnya apa motifmu menculik kekasihku?" tanya Naruto to the point, ia
sungguh sangat penasaran dengan orang didepan-nya ini , apa Hinata-nya sebegitu
cantik dan manisnya sampai orang didepan-nya ini bisa kehilangan akal, namun
Naruto sendiri juga mengakui sih, kalau Hinata memang sangat cantik dan manis
"hei! pandang aku saat aku berbicara denganmu!" bentak Naruto berusaha sesabar
mungkin.
Berusaha mengumpulkan keberanian didalam dirinya, Yuri berusaha mendongak-kan
kepalanya dan mencoba menatap sang Hokage, ia bahkan sudah membayangkan wajah
marah Hokage-nya, namun pemikirannya salah besar, ia terkaget-kaget lantaran
mendapati sang Hokage sedang tersenyum tipis kearah-nya, tak ada kebencian
disana ada apa dengannya! Batin Yuri, ia bingung dengan Hokage-nya,
seharusnya ia sudah dihajar-nya dari awal bertemu.
" kau bahkan sampai tega membunuh orang dan memalsukan kematian kekasihku…..
apa Hinata sebegitu cantiknya kah sampai kau langsung menjadi orang gila seperti
itu?" tanya sang Hokage memangku kaki kirinya sambil masih menatap kearah Yuri "
jelaskan padaku"
Yuri hanya diam saja dan tanpa menjawab pertanyaan Naruto, wajahnya datar, ia
berusaha sekuat mungkin menahan semua ketakutan didalam dirinya.
" seharusnya kalau kau memang jatuh hati dengan kekasihku…..paling tidak kita
kan bisa bersaing secara sehat….. tidak dengan menyiksanya dengan terus-terusan
menyuntikkan obat itu!" ucap Naruto sekarang dengan nada tegas " sudah berapa
kali kau menyuntikkan obat itu?" tanya Naruto lalu berdiri dan berjalan kearah
belakang Yuri lagi.
"12 kali" ucap Yuri akhirnya membuka mulutnya "tenang saja…obat itu tak
mempunyai efek samping" jelas Yuri sambil menundukkan kepalanya.
Sementara itu Naruto yang mendengar kekasihnya sudah diperlakukan seperti itu
pun berusaha menahan amarahnya, mati-matian dia berusaha tak menggerakkan
tangannya hanya untuk membuat rasengan untuk digunakannya menghantam kepala Yuri
"sebanyak itukah?...emmm..12 kali!" , dan sekarang suara sang Hokage berubah
parau.
" Yuri! Kau menculik Hinata dariku, menyembunyikannya selama '1 tahun'
dirumahmu sendiri, dan menyuntikkan obat sialan itu pada kekasihku!" gumam sang
Hokage lalu melangkah lagi menuju tempat duduknya lalu dudu lagi " berat rasanya
membuat diriku sendiri tak menghajarmu sampai mati!"
Yuri tetap diam seribu bahasa, dia hanya menunduk memandangi kakinya sendiri,
raut mukanya datar, tanpa menunjukkan ekspresi apa-apa.
" apa kau menikmatinya?"
Dan sukses pertanyaan dari sang Hokage membuat Yuri mendongakkan kepalanya,
ia menatap sang Hokage heran.
"hei..kenapa kau menatapku seperti itu?" Ucap Naruto "aku Cuma bertanya
seperti itu…..kau sudah menyembunyikannya dariku…kau pasti pernah menidurinya
bukan?" tanya Naruto sambil menatap kearah jam dinging .
" apa maksut anda?" tanya Yuri dengan tegas nan penuh amarah " saya tidak
membawa Hinata hanya untuk masalah seperti itu! Dan saya juga bukanlah orang
yang…" , " sudahlah! Dia menganggapmu sebagai suaminya… mudah bagimu melakukan
itu dengan Hinata bukan?" kalimat Yuri pun tiba-tiba dipotong oleh Naruto, dan
sekarang terlihat Naruto menatapnya dengan aura kebencian yang sangat kuat.
" anda salah Hokage-sama" ucap Yuri berusaha sekuat mungkin menatap
mata sang Hokage "walaupun Hinata menggangap saya sebagai suaminya! Namun entah
kenapa dia selalu menolakku setiap kita akan melakukan hal seperti itu….dan saya
pun juga tak lantas memakasanya seperti seorang maniak!"
" heh…..benarkah itu?" tanya Naruto meremehkan " aku meragukan itu…. Selama
satu tahun dan kau hanya diam saja…?"
" terserah anda percaya dengan saya atau tidak Hokage-sama!" ucap
Yuri masih dengan tatapan seriusnya " saya tertarik dengan Hinata, bukanlah dari
tubuhnya atau kecantikannya, namun karena kebaikan-nya!" ucap Yuri lalu
menundukkan kepalanya lagi.
" dia memang seorang wanita yang kuat" gumam Naruto " seorang wanita secantik
Hinata ditambah dengan kebaikan hatinya, mungkin hanya dialah yang sifat seperti
itu"
Yuri yang tiba-tiba mendengar gumaman Naruto pun kembali mendongakkan
kepalanya apa maksutnya? Batin Yuri menatap sosok Naruto terlihat
mendongakkan kepalanya keatas
" kuharap kau berkata jujur" gumam Naruto lalu menatap Yuri dengan tersenyum
.
" kau datang kesini hanya untuk menanyakan hal itu?" tanya Yuri heran dengan
sang Hokage.
" kuharap kau sudah menyesali perbuatanmu dan tak mengulanginya lagi" ucap
Naruto beranjak dari duduknya lalu berbalik.
CKLEK suara pintu dibuka oleh sang Hokage
" bagaimana Hokage-sama?" tanya Ibiki ssesaat setelah Naruto menutup
pintu raung interogasi.
" Selanjutnya kuserahkan padamu" ucap sang Hokage lalu melangkahkan kakinya
menuju salah satu kursi diruangan tersebut unduk duduk.
" Baiklah Hokage-sama!" Naruto lalu beranjak dari duduknya " aku pulang
dulu"
O0O
Lima jam telah berlalu seharusnya dia sudah pulang sekarang batin
sang bunshin yang tengah tiduran disofa.
CKLEK.. pintu terbuka
"kau ternyata" ucap sang bunshin yang menyadari dirinya yang aslilah yan
membuka pintu itu "bagaimana kondisinya? Apa dia sudah bangun?" tanya Naruto
bertubi-tubi sesaat setelah menutup pintu, pandangannya langsung tertuju kearah
Hinata yang masih tertidur pulas Hinata sudah seperti putri tidur saja
gumamnya sambil berjalan mendekat kearah Hinata.
" belum…. Dia masih tertidur" ucap sang bunshin sambil tetap tiduran lalu
POFF, si bunshin menghilang ditengah kepulan asap putih.
"hime…. Bangun…." Naruto yang kini tengah terduduk disamping
ranjang,ia merasa sekarang saatnya lah kekasihnya harus bangun, dia harus makan
bukan, dielusnya pipi pualam gadisnya yang masih tertidur pulas dengan jari
jemarinya, lembut gumamnya merasakan betapa lembutnya pipi itu
"hime…bangunlah..kau sudah tidur selama 7 jam" ucap Naruto sambil
menyibakkan poni rata Hinata, lalu mencium kening itu dengan penuh kasih sayang,
dan saat itulah Hinata mulai terbangun dari alam bawah sadarnya.
"ennghh" lenguh Hinata, tangannya pun mulai terangkat berusaha menggapai
matanya yang terasa lengket, "Naruto-kun?" gumam Hinata sambil
mengosok-gosok kedua matanya dengan pungung telapak tangannya.
CUP
didaratkannya lagi ciuman penuh kasih itu didahi sang gadis yang masih
terbaring " bangunlah…kau sudah tidur selama 7 jam…kau tak lapar?" tanya Naruto
mengelus surai indigo Hinata yang sekarang semakin panjang.
" a-aku tidak lapar" gumam Hinata berusaha bangkit dari tidurnya .
" sudahlah…walaupun kau tidak lapar..tapi kau harus makan" ucap Naruto sambil
memijit kaki sang gadis " tapi kau harus mandi dulu..ini pakaian gantimu" uca
Naruto memberikan sebuah kimono berwarna lavender kepada Hinata.
" e-ehh...i-ini?" tanya Hinata sedikit heran saat melihat kimono yang
sepertinya baru saja dibelikan oleh Naruto .
" apa kau suka? Semoga warna kesukaanmu tetap lavender" ucap Naruto sedikit
tersenyum simpul.
" u-umm…a-aku suka" ucap Hinata memperhatikan kimono lavender yang sekarang
telah berpindah tangan kepadanya "a-arigatou Naruto-kun" gumam Hinata
menunduk berusaha menyembunyikan rona merahnya .
" apa kepalamu masih sakit?" tanya Naruto kepada Hinata " tadi ANBU yang
mengantarkanmu memberitahuku kalau kau selalu memegangi kepalamu"
" k-kurasa tidak…. H-hanya sedikit terasa kaku di tenguk" ucap Hinata
memegangi lehernya " N-naruto-kun tidak pergi ke kantor Hokage?"
" aku sudah pulang hime… kau tidur terlalu lama…. Coba kau lihat jam
berapa sekarang" ucap Naruto dengan lembut sambil menunjuk kearah jam dinding
berwarna lavender hadiah dari Hinata 1 tahun yang lalu, disana terlihat waktu
sudah menunjukkan pukul 12 siang.
" g-gomenne Naruto-kun..a-aku tidur terlalu lama" ucap Hinata merasa
bersalah.
" harus ku akui… kau memang seperti putri tidur hihi" ucap Naruto cengingiran
" yasudah..sekarang mandi lalu kita akan makan bersama…oke"
" umm" Hinata mengangguk.
Lama Naruto menunggu Hinata yang tengah mandi, dipandanginya semangkuk bubur
yang tadi ia beli saat perjalanan pulang, terlihat kepulan asap itu, tanda bubur
itu masih hangat, sesekali ia tersenyum-senyum sendiri saat mendengar gemericik
air dari arah kamar mandi, sempat ia berfikir untuk bergabung dengan gadisnya,
namun, pemikiran menum itu cepat-cepat ia tendang jauh-jauh dari alam pikirannya
, Hinata baru saja kembali, ia harus menunggu saat-saat yang tepat.
Tak lama kemudian CKLEK pintu kamar mandi itu pun terbuka
dan menampakkan sesosok gadis berambut indigo sepantat ternyata rambut
Hinata sudah sepanjang itu gumamnya terpesona dengan kecantikan gadisnya
yang sepertinya tak pudar sedikit pun, dipandanginya gadis itu lekat-lekat,cara
dia melangkah…cara dia mengeringkan rambut itu…dan cara dia tersenyum, tak
disadari Naruto, Hinata merasa risih diperhatikan seperti itu.
"Naruto-kun? Kenapa kau melamun?" tanya Hinata yang kini tengah
berjalan kearah meja makan untuk menghampiri Naruto, Hinata telah mengenakan
kimono lavender pembelian Naruto, sungguh, pakaian itu sangat cocok dan Hinata
menjadi sangat anggun.
Naruto langsung tersentak saat Hinata memergoki perbuatannya "hime…"
gumam Naruto dengan pandangan yang seakan tak bisa lepas dari wajah manis
gadisnya.
" Naruto-kun kenapa?" tanya Hinata yang sekarang sudah terduduk
disamping Naruto, aroma lavender itu pun langsung menyeruak kedalam indra
penciuman Naruto, sungguh seperti aroma relaksasi, dipejamkannya mata beririskan
spahire itu mencoba menangkap setiap ketenangan yang terpancar dari aroma tubuh
sang kekasih.
Hinata sungguh heran dengan perilaku Naruto Naruto-kun kenapa sih?
batin Hinata pada dirinya sendiri, dilihatnya Naruto sedang memejamkan
matanya sambil sesekali mengambil nafas panjang, semakin penasaran dengan apa
yang telah dilakukan Naruto, Hinata pun mencoba bertanya kembali
"Naruto-kun kau sedang apa?" tanya Hinata sambil memiringkan kepalanya
tanda penasaran.
Dan seketika itu pula sang sapphire lalu menunjukkan keindahannya
"huhh…aromamu sungguh menenangkan hime.." gumam Naruto menatap sang
gadis dengan tatapan seolah siap memakannya kapan saja .
"e-eh!" pekik Hinata dengan wajah yang sangat memerah saat mendengar gumaman
Naruto. Ya walaupun gumaman Naruto terdengar cukup pelan, namun masih terdengar
jelas ditelinga Hinata.
" ahh iya hampir lupa" ucap Naruto lalu meraih sendok disamping mangkuk
bubur, lalu diambilnya sesendok bubur, ia berniat untuk menyuapi gadisnya
"hime…buka mulutmu..aaa" gumam Naruto seolah mengabaikan wajah hinata
yang semerah tomat.
" N-naruto-kun…aku bisa makan sendiri!" pekik Hinata menutup
mulutnya dengan kedua telapak tangannya, sungguh ia sangat malu sekarang .
" ssstt…kalau kau tidak mau makan….aku yang akan memakanmu…" ucap Naruto
dengan senyuman penuh kemesuman, dan BLUSH! Seketika itu pula
wajah Hinata bertambah memerah "ayo buka mulutmu…aak".
" b-baiklah" ucap Hinata lalu mengizinkan sesendok penuh bubur itu masuk
melewati bibir tipisnya "nahh…enak kan?" tanya Naruto mengambil sesendok lagi
bubur dari dalam mangkuk, sementara Hinata berusaha menahan dirinya agar tidak
pingsan.
5 menit kemudian, Hinata telah menghabiskan bubur yang disuapkan oleh Naruto,
tangan mungil itu berniat mengusap sisa bubur yang menempel di sudut bibirnya,
namun sepertinya ia harus menelan ludahnya sendiri lantaran tangan Naruto
tiba-tiba menahan tangannya "hime… itu bagianku" ucap Naruto tersenyum
penuh arti sambil tetap menahan tangan Hinata.
" b-bagian Naruto-kun?" tanya Hinata gelagapan.
" ya… aku ingin mencicipinya" Naruto mendekatkan wajahnya didepan wajah
Hinata yang kembali memerah GLUP! Hinata sudah tak mampu
berbuat apa-apa " hime…." gumam Naruto, dan sedetik kemudian, terdengar
desahan Hinata menahan nikmat saat bibir Naruto menyapu bibirnya dan sesekali
mengulumnya "umm..gurih" gumam Naruto melepaskan kulumannya.
"Naruto-kun~" ucap Hinata menunduk sangat malu, dan tingkah laku
Hinata pun langsung disambut gelak tawa Naruto "hahaha….kau ini.." ucap Naruto
mengusap puncak kepala Hinata, lalu berdiri dan membawa mangkuk yang kini telah
kosong untuk dicucinya.
" Naruto-kun mau dibawa kemana mangkuk itu?" tanya Hinata
menghentikan langkah Naruto "biar aku saja yang mencucinya".
Naruto hanya menjawabnya dengan senyuman lalu melanjutkan langkahnya, Hinata
yang melihatnya pun hanya menatap heran kekasihnya itu, dihati kecilnya ia
merasa senang yokatta..naruto-kun sepertinya masih mencintaiku gumam
Hinata, dan seulas senyumpun terpatri di wajah polosnya.
O0O
Setelah sekian jam bertahtah di puncak kejayaannya, sang mentari pun akhirnya
harus rela menyerahkan tugasnya menyinari sang bumi kepada sang rembulan,
perlahan sang mentari beringsut meninggalkan singgasananya, burung-burung pun
beterbangan menghiasi langit orange itu, berniat kembali ke rumah mereka
masing-masing setelah berkelana seharian, suasana sore yang nyaman dan
tenang.
Waktu menunjukkan jam 4 sore didesa Konoha, para warga desa pun mulai
berangsur-angsur kembali ke kediamannya setelah melakukan kegiatannya
masing-masing.
Menikmati indahnya sore di balkon apartemennya , terlihat seorang pemuda
pirang tengah berdiri memeluk seorang gadis berambut indigo panjang yang
terlihat mengenakan kimono sewarna sepasang alat pandangnya, ya lavender.
Sang gadis menutup matanya mencoba menikmati setiap sapuan snag pria di
tengkuknya, memberikan rasa geli sekaligus nikmat menjalar diseluruh tubuhnya
"hime…" gumam sang pria dengan wajah yang ia benamkan dirambut
kekasihnya " aku sangat merindukanm...u"
" Naruto-kun" gumam sang gadis sambil memejamkan matanya, "aku juga
merindukan Naruto-kun" dan seketika itu pula pelukan Naruto terasa
lebih kencang, memaksa kelopak mata yang tengah menyembunyikan manik lavender
itu terbuka .
" kenapa kau begitu jahat padaku?" gumam Naruto menghirup aroma shampoo di
surai indigo Hinata " apa alasanmu meninggalkanku?"
" gomenne Naruto-kun~" gumam Hinata lirih, tapi Naruto masih bisa
mendengarnya " aku tak mau merepotkan Naruto-kun"
" ahh kau ini… kau membuatku menjadi seperti seorang pria yang paling tidak
berguna" gumam Naruto " apa artinya menyandang gelar kage jika melindungi
kekasihnya saja tidak bisa"
Dan sedetik kemudian, hembusan angin pun menerpa Naruto dan Hinata yang masih
saling berpelukan, surai indigo itu melambai-lambai mengikuti arah angin sore
yang menerpannya, mencoba mencari ketenangan disana, dipejamkan kembali mata
lavender itu, menerima terpaan angin yang mengenai wajah putih nan polos "hah"
gumam sang gadis .
" maaf telah mengecewakan Naruto-kun…." Gumam Hinata " aku telah
melakukan kesalahan besar"
Naruto meresapi setiap aroma yang keluar dari tubuh kekasihnya, menenangkan,
semua nya begitu membuatnya tenang, walaupun tak dipungirinya didalam hatinya
ada sesuatu yang masih mengganjal, namun sepertinya semua itu sedikit terlupakan
karena seorang gadis didalam pelukannya "huhh…kau memang gadis keras kepala"
"hime…" gumam Naruto meletakkan dagunya dibahu sang gadis " karena
aku tak mau kehilanganmu lagi…minggu depan…aku akan menjadikanmu seorang
Uzumaki" gumam Naruto lalu mengecup leher Hinata
" bukankah terlalu terburu-buru Naruto-kun?" tanya Hinata membelai
surai kuning Naruto, tak diketahui naruto, wajah hinata sudah sangat
memerah.
" tidak ada yang terburu-buru hime… " gumam Naruto " aku tak mau
kehilangan milikku yang paling berharga untuk kedua kalinya lagi" Naruto
mengeratkan pelukannya.
BLUSH! Wajah Hinata pun langsung merona sangat merah
mendengar Naruto berkata seperti itu .
Tak terasa, kemesaraan mereka berdua pun harus berakhir karena sang mentari
ternyata telah sepenuhnya menghilangkan cahaya terangnya, dan digantikan oleh
rembulan yang sudah bertahta diatas sana, desiran angin pun semakin bertambah
dingin, membuat tubuh Hinata kedinginan, karena kulit seputih saljunya terkena
terpaan angin malam "Naruto-kun! Dingin..Brr!" gumam Hinata, Naruto
yang masih tetap setia memeluk gadisnya pun mengerti dengan keadaan sekitar yang
berubah menjadi sangat dingin.
Tak meminta izin sang gadis, tiba-tiba Naruto langsung menyusupkan lengannya
dilipatan lutut sang gadis dan membopong sang gadis dengan gaya bridal style
"aaaa!" pekik Hinata saat tiba-tiba tubuhnya terangkat.
" dingin hemm?" tanya Naruto memandangi wajah polos Hinata " mau kuhangatkan
hime?"
" Naruto-kun~" gumam sang gadis merona merah, dihangatkan
Naruto-kun? Batin Hinata.
" kurasa tubuhmu sudah pulih sepenuhnya…" ucap Naruto sambil melangkah menuju
kedalam apartemennya dan BLAM pintu itu tertutup dengan sedikit keras "jadi….aku
ingin mengetesmu..hehe…apa kau masih sekuat dulu" ucap Naruto membaringkan tubuh
Hinata diatas ranjangnya , Hinata hanya menatap naruto seakan mengiyakan apa
yang akan dilakukan sang kekasih "hime… wajahmu memerah lagi"
TBC….
jika kecewa dengan chapter ini... tolong berikan kritik dan masukan
untuk ku lewat review ya ):
Sumber : https://www.fanfiction.net/s/9472296/9/Miss-You
Tidak ada komentar:
Posting Komentar