MISS YOU
DISCLAIMER : NARUTO, HINATA, DAN CHARA
YANG LAINNYA ADALAH MILIK MASASHI KISHIMOTO
HAN, YAZI, HIRUKA, YURI, DAN MIZUTO ADALAH
MILIK AUTHOR :d
GENRE : ROMANCE/HURT/CONFORT
RETED : T+
WARNING: TYPO, GEJE, BANYAK PERCAKAPAN,
TANDA BACA SALAH, NO EYD, ALUR TIDAK JELAS, DLL
HAPPY READING d:
.
.
" Hinata! Hinata!" ucap Hiashi mengguncang-guncang tubuh Hinata yang terlihat
menerima luka bakar yang cukup parah, bahkan wajahnya sudah tak bisa dikenali
lagi " Hinata! Jawab ayah! Hinata!" teriak Hiashi, lalu mengangkat dan memeluk
tubuh tak bernyawa Hinata " hiks..maafkan ayah Hinata..hiks jika saja ayah..
hiks…" tangis Hiashi pun pecah ditengah-tengah hujan lebat dan guntur yang
saling saut menyaut, kilatan petir membuat siluet tubuh Hiashi yang sedang
memeluk tubuh tak bernyawa anaknya menambah suasana mencekam.
"SIAL! KITA TERLAMBAT!" umpat Mizuto yang telah tiba dan melihat Hiashi
sedang memeluk tubuh tak bernyawa Hinata.
" SIAL! Bagaimana bisa!" umpat Yazi meninju batang pohon besar
disampingnya.
"SIAPA KALIAN!" teriak Hiashi tak melepaskan pelukannya.
" kami ANBU utusan hokage-sama… m-maaf…. kami gagal melindungi nona
Hinata" ucap Mizuto dengan menunduk merutuki ketidak pecusannya , yang lainnya
pun melongo seakan tak percaya dengan apa yang terjadi, ini begitu cepat.
" ledakan tadi tak terlalu besar, hanya kilatan apinya yang sangat
menyilaukan" ucap Han lalu berjalan mendekati Hiashi yang masih memeluk tubuh
Hinata.
" apa maksutmu?" tanya Mizuto.
" lihatlah, diameter kawah bekas ledakannya bahkan tak lebih dari 5 meter,
jika memang nona Hinata terkena ledakan tersebut, mungkin ledakan itu hanya
menimbulkan luka bakar ringan, tak sampai kehilangan nyawa" ucap Han lalu
berhenti di belakang Hiashi.
" Hiashi-san" ucap Han menepuk pundak Hiashi.
" PERGILAH!" teriak Hiashi yang masih shock dan tak percaya putrinya
kehilangan nyawa tepat dihadapannya.
" Han..!" ucap Hiruka memandang kearah Hiashi dengan tatapan seakan berbicara
jangan menganggu nya dulu , Han yang mengerti pun langsung berbalik dan
berjalan menuju arah teman-temannya.
" bagaimana ini?, apa kita langsung saja mengirimkan pesan kepada
hokage-sama?" tanya Yazi kepada Mizuto yang seakan masih tak
percaya.
" t-tunggu..mungkin Han benar" gumam Mizuto " ledakan tadi tak terdengar
terlalu besar" ucap Mizuto " hanya pandangan kita yang dibutakan oleh kilatannya
yang menyilaukan" lanjut Mizuto " mungkin.." , " APA MAKSUTMU!" ucap Yazi
menarik kerah mizuto.
" kau lihat itu bukan! Dan kau masih berfikir nona Hinata masih belum mati!"
ucap Yazi dengan nada tinggi, Mizuto pun langsung menunduk, ia masih merutuki
ketidak waspadaanya.
O0O
Jam menunjukkan pukul 2 siang didesa Konoha, rapat dengan daimyo pun
sepertinya telah berakhir, menampakkan seorang berbalut jubah merah sedang
berjalan keluar dari ruang pertemuan diikuti Shikamaru sebagai sekretarisnya "
pandangan mata Naruto tiba-tiba tertuju kearah utara, mendung pekat dengan
kilatan-kilatan petir, hatinya langsung resah 'itu adalah jalur yang dilewati
Hinata' batin-nya alu berjalan " sepertinya disana terjadi badai hebat" ucap
Shikamaru yang ikut berhenti dan memandang kearah gumpalan awan hitam 'semoga
Hinata baik-baik saja' batin Naruto lalu meneruskan jalannya.
Naruto telah sampai diruangannya, saat ia sedang berjalan kearah mejanya,
tiba-tiba.
TRANG! Suara kaca jendela ruang hokage pecah tiba-tiba.
" kami-sama" ucap Naruto kaget, jantungnya langsung berdegup
kencang, resah, khawatir, gugup, saat mendapatkan "pertanda buruk!" gumamnya
'Hinata' gumamnya lalu berbalik dan berjalan sedikit berlari menuju Shikamaru
yang tengah terhenti didepan mesin kopi.
"Shikamaru!" teriak Naruto yang melihat Shikamaru dari kejauhan.
" ada apa teriak-teriak" ucap Shikamaru menyeruput kompinya.
" cepat panggilkan Kakashi-sensei, Yamato-Taichou, Sasuke , Sakura dan Kiba!
CEPAT!" ucap Naruto panik didepan Shikamaru.
BRUSST! Kopi yang sedang diminum nya pun langsung menyembur
keluar mendengar kepanikan Naruto, " hoei! memangnya ada apa, tiba-tiba
memanggil mereka" ucap Shikamaru.
" cepatlah!" ucap Naruto semakin panik.
" baiklah-baiklah" ucap Shikamaru lalu berlari meninggalkan Naruto yang masih
berdiri mematung, pikiran Naruto terus dipenuhi dengan Hinata.
"kami-sama lindungilah hinata" gumam Naruto.
5 menit kemudian, Shikamaru datang dengan diikuti Kakashi, Yamato, Sakura,
Sasuke, dan juga kiba serta Akamaru " mereka sudah datang" ucap Shikamaru.
" ada apa Naruto, tiba-tiba memanggil kami" tanya Kakashi yang masih
kebingungan karena tiba-tiba dipanggil saat sedang asik-asiknya membaca novel
icha-ichanya sambil tiduran.
" dobe, kelihatannya kau serius, ada masalah apa?" tanya Sasuke.
" Kakashi sensei, Yamato-Taichou, Sasuke, Sakura, dan kau kiba serta Akamaru,
ku perintahkan kalian untuk segera menyusul Hinata dan ayahnya" ucap Naruto
panik " aku baru saja mendapatkan pertanda buruk" lanjut Naruto.
" baiklah, tapi kemana mereka pergi?" tanya Yamato-Taichou.
" mereka pergi ke-suna, tapi aku tak tahu lokasi tepatnya" ucap Naruto
sedikit bingung.
" kalau soal itu, serahkan saja kepadaku dan akamaru" ucap kiba lalu disusul
gonggongan akamaru.
" hum.. itulah mengapa kau juga kupanggil" ucap Naruto.
" baiklah, sekarang kalian pergilah dan cepat temukan mereka" ucap Naruto
menyudahi pertemuannya.
" haik!" ucap mereka ber-5.
" hei Naruto, bukankah kau sudah menugaskan 1 team ANBU untuk menjaga
gadismu" tanya Shikamaru menyelidik.
" aku tahu Shikamaru, tapi dadaku terus saja khawatir" ucap Naruto memegangi
rambutnya, jika saja hokage boleh meninggalkan desa, maka detik itulah dia
langsung pergi untuk mencari Hinata sendiri.
O0O
" akhirnya aku bisa mendapatkanmu hime" ucap yuri mengelus pipi putih mulus
gadis bersurai indigo panjang didepannya yang sedang tertidur didepannya, tidak,
lebih tepatnya pingsan.
CUP.. dikecupnya dahi basah sang gadis, "Hinata" gumam yuri memandang lembut
kearah wajah sang gadis.
O0O
" Hinata! Hiks…jangan tinggalkan ayah" gumam Hiashi yang terlihat masih setia
memeluk tubuh 'palsu' Hinata, hiashi dan yang lainnya belum tahu jika yang
dipeluk Hiashi bukanlah tubuh Hinata, melainkan tubuh orang lain, namun dengan
tekhnik transformasi yang unik, yuri mengubah tubuh itu semirip mungkin dengan
tubuh Hinata, lalu membuat sebuah skenario yang membuat seakan-akan Hinata mati
terkena ledakan | * dari sini, author masih menyebutkan tubuh 'palsu' Hinata
dengan tubuh Hinata, karena semua orang masih menganggap Hinata sudah
mati|
Badai sudah mulai reda, sinar matahari yang awalnya terhalangi oleh awan
hitam pun mulai berangsur-angsur menerpa hutan tempat kejadian tragis itu
terjadi.
" Hiashi-sama, kita harus segera bergegas kembali dan mengabari
desa" ucap Mizuto kepada Hiashi, Hiashi sadar, ia tak boleh terus menerus
menyesali ketidak pecusannya menjaga Hinata, putrinya.
" baiklah" gumam Hiashi lirih, namun Mizuto masih bisa mendengarnya.
" Han, Yazi, Hiruka! Siapkan segala suatunya, kita harus bergegas membawa
mayat nona Hinata pulang untuk diotopsi" ucap Mizuto dengan nada penuh
kekecewaan.
" jangan!, aku ingin langsung memakamkan putriku" ucap Hiashi yang sudah
berdiri dan membopong mayat Hinata.
" t-tapi.. " , " kubilang tidak ya tidak" ucap Hiashi memotong perkataan
Mizuto.
" baiklah" ucap Mizuto.
Mizuto mau tak mau mengalah, percuma ia berdebat di saat-saat seperti
ini.
" Han!, segera kirimkan elang pengirim surat untuk segera memberitahu Konoha
apa yang terjadi" ucap Yazi kepada Han, dan Han pun langsung merepalkan segel
tangan lalu.
"KUCHIOSE NO JUTSU" ucapnya lalu muncul elang berwarna putih, yang berarti
berita buruk.
" baiklah, segera sampaikan kabar ini" ucap Han setelah selesai memasukkan
sebuah gulungan kedalam tas dipungung elang, lalu sang elang pun terbang.
" aku tak bisa membayangkan hukuman apa nanti yang kita terima dari
hokage-sama" gumam Hiruka menatap nanar Hiashi yang terlihat memasukkan
tubuh Hinata kedalam sebuah kantung mayat.
" mungkin saja kita akan dibunuhnya" timpal Han yang juga menatap Mizuto dan
Hiashi " apapun itu.. kita memang pantas untuk mendapatkannya" tambah Yazi.
O0O
"ennghh"..
"ahh..hime kau sudah bangun"
"d..dimana aku?" tanya Hinata mengerjab-ngerjabkan matanya " arghh..kepalaku"
ucap Hinata menahan sakit dikepalanya.
"kau dirumah sayang" ucap yuri membelai surai Hinata.
"d-dirumah? Kau siapa?" tanya Hinata heran, pikirannya kosong, seakan tak ada
ingatan yang berhasil ia temukan didalam otaknya.
"aku suamimu, kau tadi terjatuh dan kepalamu terbentur, kata dokter kau
terkena amnesia" ucap yuri, yang sebenarnya saat Hinata pingsan tadi telah
menyuntikkan sesuatu berupa cairan yang diketahui berupa obat penghilang
ingatan.
"suamiku?" gumam Hinata bingung sambil memegangi kepalannya.
"sudahlah, sayang kau tidur saja, kepalamu masih sakit bukan" ucap yuri
menidurkan Hinata , Hinata sebenarnya masih merasa aneh, tapi ia tak bisa
menolak perlakuan yuri kepadanya.
" aku tak ingat apa-apa" gumam Hinata.
" tentu saja, kau amnesia, mungkin dalam beberapa bulan kedepan kau akan
ingat" ucap yuri menenangkan Hinata.
" a-arigatou" ucap Hinata tersenyum, didalam hati, yuri sangat merasa senang
dan bangga, semua yang ia rencanakan telah berhasil.
Sekarang Hinata dan yuri tengah berada didalam rumah Yuri yang berlokasi di
desa terpencil yang sangat jauh dari Konoha, Yuri membawa Hinata dengan jikkukan
ninjutsu yang khusus ia pelajari untuk melancarkan rencanannya ini.
O0O
Syuut…syuut..syuut.. suara Kakashi dan yang lainnya berlari
melompati dahan demi dahan di pimpin oleh kiba dan akamaru didepan.
" Kakashi!, lihat itu" ucap Sasuke menunjuk kearah elang putih terbang
berlawanan arah dengan mereka" berita buruk!?" ucap Kakashi " kita harus
bergegas! Kiba!" teriak Kakashi yang mulai panik.
" baiklah Kakashi-sensei" ucap kiba" akamaru! Lebih cepat" lanjut kiba dan
disusul dengan " GUK!" gungungan akamaru.
" Kakashi-sensei! Aku menemukan mereka!" teriak kiba lalu berlari lebih
cepat, dan yang lainnya pun mengktinya " bau apa ini" gumam kiba saat jarak
mereka semakin dekat.
" SIAL! Apa ini benar-benar terjadi?" tanya Kakashi kepada dirinya sendiri
setelah melihat Hiashi dan seorang ANBU berdiri disamping kantung mayat.
Syuut…syuut..syuut.. mereka pun turun didepan Han, Hiruka
dan Yazi.
" mana Hinata?" tanya Sasuke kepada bawahannya itu.
"S-Sasuke-sama" ucap Yuri gelagapan.
" mana Hinata!" teriak Sasuke melihat kesekitar dan tak menemukan Hinata,
dengan sedikit gemetaran, Yazi pun mengangkat tangannya dan menunjuk kearah
sebuah kantung mayat yang berada tak jauh didepannya, disana terdapat Hiashi dan
juga Mizuto yang tengah berdiri menunduk.
" j-jangan katakan…" ucap Sakura yang tiba-tiba meneteskan air mata "
Hinata!" teriak Sakura berlari menghampiri tubuh Hinata.
" m-maafkan kami, kejadian itu berlalu begitu cepat" ucap Han menunduk.
" sial! Kalian ANBU elit, kenapa kalian tak pecus menjalankan misi seperti
ini" umpat Sasuke menarik kerah Yuri yang masih menunduk, tak diduga, Sasuke pun
meneteskan air matanya,ia tak bisa menebak apa reaksi sahabatnya nanti.
" Sasuke! Cukup, itu tak akan mengembalikan Hinata" ucap Yamato-taichou
menurunkan tangan Sasuke yang siap menghantam wajah Yazi.
" kusso! Arghh!" ucap Sasuke lalu menjatuhkan tubuh Yazi.
" Hinata….hiks…Hinata! bangunlah..kau itu kuat" tangis Sakura pecah melihat
tubuh terbakar Hinata yang berbalutkan kantung mayat " hiks…kau tak memikirkan
perasaan Naruto heh! Hiks..kau mau meninggalkannya?" tanya Sakura, Hiashi yang
mendengarnya pun tak sanggup menahan air matannya, tiba-tiba matanya
berkunang-kunang dan hampir ambruk jika saja Mizuto tak menahannya.
Sasuke yang melihat Sakura menangisi Hinata pun mulai berjalan menghampiri
Sakura dan mengelus pundaknya " Sakura" ucap Sasuke.
" Hiashi-sama, bagaimana ini bisa terjadi?" tanya Kakashi dengan
wajah serius.
" semuannya terjadi begitu cepat… i-ini semua kesalahanku" ucap Hiashi terus
menunduk.
" kita harus cepat membawanya kembali untuk diotopsi" ucap Kakashi lalu
dibantah Hiashi.
" jangan! Hari ini juga, putriku harus dimakamkan" ucap Hiashi lalu terduduk
didepan Hinata " putriku…m-maafkan ayah" ucap Hiashi membelai pipi Hinata yang
sudah tak berbentuk.
" Sakura..cukup… kita harus segera membawa nya pulang" ucap Sasuke menarik
lengan Sakura.
" s-Sasuke-kun..hiks…" ucap Sakura tak bisa menahan air matanya yang terus
keluar, Sakura masih teringat perkataan-perkataan Naruto yang meminta saran
padanya untuk melamar Hinata.
" Sakura-chan…aku akan melamar Hinata..tapi aku gugup..kau punya saran
untukku?" Tanya Naruto dengan wajah memelas meminta saran kepada
Sakura.
" ahh, kau ini, jadi pria jangan terlalu baka, tinggal bicara saja susah
amat" ucap Sakura sambil menyilangkan lengannya.
" ne..ne.. bisa tolong beritahu aku bagaimana Sasuke teme itu
melamarmu..hihih" ucap Naruto menyelidik.
"e-ehh.. tidak!. Aku tak akan menceritakannya padamu" ucap Sakura dengan
wajah merona merah.
" hahh..ayolah..ayolah~" ucap Naruto meminta.
semua itu langsung muncul begitu saja didalam otaknya, Sakura tak tahu reaksi
apa yang akan dikeluarkan sahabatnya itu jika mendapatkan berita ini.
" hiks…Hinata.. kau terlalu jahat pada Naruto!..kau…hiks" ucap Sakura
"SAKURA! Cukup, kita harus segera bergegas" ucap Sasuke menarik kasar lengan
Sakura.
O0O
Suasana masih terasa mencekam, Sasuke terlihat sedang sibuk menenangkan
Sakura yang sedang duduk merangkul lututnya sambil menangis, bukannya tak sedih
melihat kekasih sahabatnya tewas dengan cara yang terbilang mengenaskan, tapi
dia sebagai seorang laki-laki haruslah tetap tabah dan tak boleh menangis.
" hei! Mizuto, batalkan elang pembawa kabarmu, aku sendiri yang akan
menyampaikannya pada hokage-sama" ucap Sasuke yang masih terlihat
mengelus punggung Sakura berbicara kepada Mizuto yang tengah mempersiapkan
segala sesuatunya untuk membawa mayat Hinata.
" baiklah" ucap Mizuto " Han, batalkan elang pembawa kabarmu!" ucap Mizuto
kepada Han yang terlihat sedang terduduk.
" baiklah" ucap Han lalu merepalkan segel tangan, dikejauhan sana, elang
putih pembawa kabar itu pun langung menghilang ditengah kepulan asap sebelum
sampai di Konoha.
" aku sendiri yang akan memberitahunya" ulang Sasuke " Sakura, kau jangan
seperti itu, persiapkan dirimu untuk menghadapi Naruto" ucap Sasuke menenangkan
Sakura.
" umm" ucap Sakura mengangguk, Sasuke yang menyadari perasaan Sakura yang
sudah leboh baik pun langsung menghampiri Kakashi yang terlihat sedang
memperhatikan mayat Hinata.
" bagaimana menurutmu?" tanya Kakashi yang menyadari Sasuke mendekatinya.
" tenang saja, aku yang akan memberitahunya" ulang Sasuke lagi " baiklah,
kurasa akan lebih baik begitu"
" ayo kita segera bergegas berangkat" ucap Kakashi alu disusul teriakan
"haik" dari semua orang.
Dan mereka pun berangkat dengan dipimpin oleh Kakashi didepan.
TBC..
Yang penasaran kenapa Yuri bisa sampai sangat tertarik dengan Hinata,
penjelasannya ada di chapter depan D:Sorry for typo nya hehe
dari pada nunggu jumlah reviewers yg nga kuncung bertambah, mending langsung ane post aja nih chappie... jika suka mohon reviewnya yaa..biar author lebih semangat lagi bikin chap berikutnya..:D
Sumber : https://www.fanfiction.net/s/9472296/4/Miss-You
Tidak ada komentar:
Posting Komentar