MISS YOU
DISCLAIMER : NARUTO, HINATA, DAN CHARA
YANG LAINNYA ADALAH MILIK MASASHI KISHIMOTO
HAN, YAZI, HIRUKA, YURI, DAN MIZUTO ADALAH
MILIK AUTHOR :d
GENRE : ROMANCE
RETED : T+
WARNING: TYPO Everywhere, GEJE, BANYAK
PERCAKAPAN, TANDA BACA SALAH, NO EYD, ALUR TIDAK JELAS, DLL
HAPPY READING d:
.
" Dimana dia! seharusnya dia disekitar sini!" gumam Mizuto menerobos lebatnya
hutan, berbekal sinar bulan purnama , ia terus berusaha mencari Hinata didalam
hutan, namun tiba-tiba sepasang alat pendengarannya menangkap jeritan seorang
gadis tak jauh dari lokasinya 'aaaaaa!' , Mizuto pun mulai panik
setelah mendengar jeritan yang ia percayai adalah suara Hinata.
"itu nona Hinata!" pekiknya langsung berlari menerobos semak-semak, kearah
lokasi teriakan tadi, Mizuto terus menerus berlari… namun langkahnya terhambat
oleh sebuah sungai yang mengalir sangat deras
"chakra nona Hinata berakhir sampai disini" gumam Mizuto mendeteksi sisa
cakra Hinata, namun pandangan matanya langsung tertuju kearah batu dengan lumut
yang terlihat baru saja dipijak oleh seseorang
"jangan-jangan!" pekik Mizuto lalu berlari sekencang mungkin menelusuri
aliran sungai itu.
Matanya pun langsung terbelalak saat melihat tubuh Hinata tersangkut di dahan
yang melintang ditengah sungai, terlihat Hinata sudah tak sadarkan diri, Mizuto
pun langsung bergegas berlari dan berusaha mengapai tubuh Hinata, dan akhirnya
berhasil, di bopongnya tubuh lemas dan basah Hinata, lalu dibaringkannya diatas
rerumputan dipinggir sungai.
Bercahayakan rembulan, Mizuto terus berusaha menyadarkan Hinata yang masih
pingsan, dan usahanya pun sukses lantaran tiba-tiba Hinata tersadar dan langsung
menyemburkan air dari dalam mulutnya "uhuk…uhuk..uhuk…" batuk Hinata, Mizuto
yang melihat Hinata sudah siuman pun langsung merasa bersyukur.
" yokatta"
" hah..hah.." nafas Hinata memburu, ia bersyukur masih diberikan kesempatan
untuk tetap hidup.
" nona Hinata..apa kepalamu pusing?" tanya Mizuto melihat lebam di dahi
Hinata.
"s-siapa kau?" tanya Hinata terkejut.
"aku adalah ANBU yang dulu ditugaskan oleh Hokage-sama..kau
ingat?...dan sekarang tugasku untuk membawamu kembali" ucap Mizuto menjelaskan
kepada Hinata , Hinata langsung bersyukur, ia aman untuk sementara.
"..." hinata hanya bisa terdiam, didalam hatinya ia sangat bersyukur
kami-sama...terimakasih
"nona Hinata kau bisa berjalan?" tanya Mizuto kepada Hinata yang masih
terduduk.
"umm..kurasa masih bisa" ucap Hinata lalu berusaha berdiri, namun sepertinya
pergelangan kaki kirinya sedikit terlkilir karena terpeleset dan terbentur oleh
batu tadi.
Ia hampir saja terjatuh jika saja tak ada sepasang lengan kekar yang menahan
pungungnya " mari..kubantu berjalan.." ucap Mizuto menuntun Hinata.
"a-arigatou…" gumam Hinata.
Namun belum selangkah mereka berjalan, tiba-tiba terdengar suara teriakan
dari arah belakang mereka "HEI! SIAPA KAU ! MAU KAU BAWA KEMANA HINATA!"
teriaknya.
Mizuto pun tak bodoh untuk sekedar mengenali siapa gerangan yang berteriak,
Dilain pihak, Hinata sudah ketakutan mendengar suara itu, tubuhnya bergetar,
namun lagi-lagi Mizuto tahu kondisi Hinata , "nona Hinata jangan takut..kami
disini untuk melindungmu" ucap Mizuto lalu melepaskan tubuh Hinata dan
berbalik.
"Yurino! Sudah lama tak bertemu eh?" ucap Mizuto kepada Yuri.
Yuri POV
Yuri sedang terduduk di suatu ruangan remang-remang, ditangannya terdapat
selembar kertas bertuliskan mantra-mantra. Ya ia sedang membuat sebuah kertas
peledak untuk berburu, karena merasa sudah berkutat terlalu lama, Yuri pun
berniat untuk keluar untuk mencari udara segar, ia terus berjalan sampai ia
sampai diruang tamu, ia terbelalak saat melihat pintu kamar Hinata dan juga
puntu depan rumahnya terbuka lebar.
Yuri pun langsung berlari menuju kedalam kamar Hinata, namun betapa kagetnya
saat ia tak menemukan penghuni kamar itu didalamnya.
"cih!..sial..sepertinya aku harus lebih sering menyuntikkan obat itu
padanya!" ucap Yuri lalu menyambar kunai dan berlari keluar rumah menelusuri
jejak Hinata.
Dengan bermodalkan kemampuan sensornya, Yuri pun berusaha mencari jejak cakra
Hinata walaupun tipis, ia terus berjalan ditengah gelapnya hutan.
Sampai langkahnya terhenti di dekat sungai dan melihat hinatanya tengah
bersama seseorang berpakaian ala ANBU, Yuri pun memberanikan diri untuk
berteriak "HEI! SIAPA KAU ! MAU KAU BAWA KEMANA HINATA!" teriaknya, namun
sedetik kemudian, ia sudah tak bisa berkata-kata lagi saat mengetahui siapa
gerangan sang ANBU tererbut.
"Mizuto?" gumam Yuri mengetahui sang ANBU adalah mantan ketua tim ANBU
nya.
Yuri POV END
"hei Yuri! Sudah lama tak bertemu eh" ucap Mizuto mengeluarkan sebuah kunai
dari kantung ninjanya.
"b-bagaimana kau tahu tempat ini?" tanya Yuri tergagap sekaligus takut, ia
tahu tak akan mungkin mengalahkan pria didepannya itu, namun jika memang ia
harus menyerang sang mantan kapten untuk mendapatkan kembali miliknya, maka kit
akan ia lakukan.
"kau meragukanku eh….satu tahun hanya kuhabiskan untuk mencarimu…kau fikir
kau akan aman selamanya untuk bersembunyi" ucap Mizuto sambil memainkan kunai
dijarinya dan sesekali melirik Yuri yang terlihat frustasi.
"aku sungguh tak menyangka, Yuri! Kau bisa-bisanya melakukan perbuatan
seperti ini" ucap Mizuto melirik kearah Hinata yang terduduk diam ketakutan
dibelakangnya.
"kau! diamlah!" umpat Yuri, Yuri tak ambil pusing apakah dia akan menang atau
tidak, yang ada dipikirannya kini, ia hanya menginginkan Hinatanya kembali, Yuri
tak berfikir dua kali dan langsung berlari menyongsong Mizuto berniat untuk
mengalahkannya, namun rencananya pun gagal lantaran tiba-tiba perutnya dihantam
oleh tendangan seseorang BUAGH!.
BUAGH! "argg" rintih Yuri saat punggungnya menghantam batu kali besar
dipingir sungai, tubuhnya seketika langsung lemas dan tak bisa berdiri.
"kau sudah bangun Han?" tanya Mizuto kepada Han yang baru saja tiba dan
langsung menghajar Yuri dengan tendangan telaknya.
"mheh…seharusnya kau membangunkan ku dulu..bukannya meninggalkanku seperti
itu!" ucap Han membelakangi Mizuto, ia sedikit kecea karena terlambat.
"keselamatan nona Hinata adalah prioritas" ucap Mizuto lalu memasukkan
kembali kunai miliknya ke tas ninja miliknya lalu berbalik dan berjalan kearah
Hinata yang masih duduk terdiam.
Han yang melihat Yuri terkapar tak berdaya, langsung mendekatinya dan berdiri
disamping tubuh lemas Yuri "untuk percaya dengan apa yang kau lakukan selama
ini..yuri…semua ini sangatlah sulit bagiku" ucap Han kepada mantan sahabatnya "
kau kukira adalah orang yang bertindak menggunakan otak, tapi sepertinya aku
salah besar!" lanjut Han mengutarakan kekecewaan hatinya ,selama menjadi
sahabatnya, Han memang tak terlalu mengetahui sifat asli Yuri, karena memang
kebiasaan Yuri yang selalu tertutup, namun setelah kejadian ini, Han langsung
mengetahui bagaimana sifat Yuri sebenarnya, Yuri yang sudah tak bisa apa-apa pun
hanya meringis sedih merutuki perbuatannya yang sudah sangat terlambat untuk
menyesalinya.
"Han! Ikat dia, kita akan membawanya kembali untuk diberikan hukuman" teriak
Mizuto yang tengah berjongkok disamping Hinata.
"baiklah" ucap Han, mengeluarkan segulung tali dari dalam kantung ninjanya "
kau jangan melawan, Yuri!" ucap Han berusaha mengikat tangan Han, setelah
selesai dengan kedua tangan itu, dilanjutkan mengikat kedua kaki Yuri menjadi
satu.
" nona Hinata…kakimu sedang cidera" Mizuto melihat lebam dipergelangan kaki
kiri Hinata "kita akan menginap sebentar di penginapan, lalu ke-esokan harinya
kita akan langsung berangkat" ucap Mizuto menjelaskan rencanannya kepada Hinata
yang sedang mengelus pergelangan kakinya
"t-tidak!..kakiku sudah agak baikan..aku sudah kuat berlari…" ucap Hinata
menolak usulan Mizuto untuk menginap , ia sungguh berharap dapat bertemu dengan
Naruto-kun nya sekarang, ia sangat merasa bersalah karena telah
meninggalkan Naruto, Hinata bahkan ragu apakah nanti Naruto akan bisa
menerimanya kembali atau tidak, atau bahkan Naruto sudah menemukan
penggantinnya, namun walaupun begitu, Hinata tetap ingin segera bertemu dengan
Naruto, walaupun hanya sekedar melihat kondisinya.
"tapi..kita butuh 2 hari untuk sampai dikonoha.." ucap Mizuto kepada Hinata,
mustahil jika dua hari tanpa henti mereka melakukan perjalanan ke Konoha,
secepat-cepatnya mereka tiba, akan membutuhkan waktu setidaknya satu setengah
hari, itupun berlari secepat mungkin tanpa henti, melihat kondisi Hinata
didepannya, dirasanya sangat tidak mungkin.
" tidak apa-apa ..a-aku sangat ingin bertemu Naruto-kun…hiks…"
tangis Hinata pun pecah seketika, membayangkan hal yang sangat tidak ia
inginkan.
Mizuto yang sangat tidak berpengalaman dalam menghadapi seorang wanita pun
hanya mendengus pasrah, sedikit ia berfikir untuk memaksa Hinata untuk menginap
sebentar, namun setelah ia fikir lagi, dirasanya dengan melakukan hal seperti
itu hanya akan memperkeruh suasana dan menambah buruk kondisi Hinata, ia tak
tahu darimana, tapi firasatnya mengatakan kalau gadis didepannya bukanlah
seorang yang mudah dibujuk, apalagi dikerasi.
" ya baiklah" ucap Mizuto yang akhirnya mengiyakan permintaan Hinata, sekali
lagi melihat kondisi Hinata yang lumayan parah, ia kembali meragukan kalau
Hinata akan kuat terus berlari, namun sepertinya Mizuto punya ide lain untuk
membuat gadis didepannya mau beristirahat sejenak " tapi…jika nona Hinata merasa
lelah..langsung bilang kepada saya ya?" dan sepertinya ide Mizuto pun berhasil,
Hinata mengangguk, walaupun sangat pelan.
(~O_O)~ FLASHBACK OFF
(~O_O)~
Naruto terperangah seakan tak percaya mendengar cerita yang keluar dari mulut
ANBU elit yang dulu ia tugaskan untuk menjaga Hinata, tak dipungkirinya hatinya
merasa ada sedikit kekecewaan, penyesalan, dan rasa bersalah, ia seperti sudah
menjadi seorang laki-laki yang sangat…sangat tidak berguna.
Ia merasa menjadi pria paling mengecewakan didunia, ia merasa semua keburukan
sekarang menjadi satu didalam tubuhnya dan sedikit demi sedikit menciptakan rasa
sakit disekitar dadanya.
"s-setelah mendengar ceritamu…sungguh aku seperti merasa menjadi seorang
lelaki yang sangat tidak berguna" Naruto menunduk kecewa, perasaan kecewa itu
terus saja muncul seakan tak bisa ia cegah, perasaan itu terus keluar dan
menciptakan rasa sakit dan perih didalam hatinya, sungguh sekarang Naruto kecewa
dengan dirinya sendiri yang tak mampu melindungi orang yang paling dicintainya,
setelah dulu ero-sannin….dan sekarang Hinata yang harus menanggung ketidak
pecusannya menjadi seorang pelindung.
" sudahlah Hokage-sama… anda tidaklah salah" ucap Mizuto mencoba
meredakan kekecewaan hati Naruto yang semakin lama semakin besar.
" tidak…. Seharusnya aku sudah tahu semua ini!" sambil menjabaki rambut
pirangnya, berusaha menghilangkan sedikit saja rasa amarah didalam dadanya
"Hinata pernah berkata kalau dia akan kembali!" gumamnya sekarang dengan tangan
kirinya mencengkram dadanya "seharusnya sejak awal aku sudah tahu kalau hinata
sedang disuatu tempat!." ucap Naruto merutuki dirinya sendiri, tak terasa cairan
bening itu pun keluar kembali "d-dan dia sedang tersiksa!"
Suasana kembali mencekam, hening.. tak ada suara apapun, hanya terdengar deru
nafas Naruto yang menandakan ia sedang menahan kesedihan yang siap ia keluarkan
kapan saja, siap berteriak sekencang mungin untuk meredakan amarahnya pada
dirinya sendiri, Mizuto yang mengetahui akan hal itu pun hanya menghela nafas
dan berusaha menenangkan sang pemimpin desa.
" Hokage-sama… tidak ada alasan untuk anda menyesal… kalau memang
anda tidak tahu menahu bahwa nona Hinata ternyata diculik… itu adalah Hal yang
wajar" ucap Mizuto mencoba lagi menenangkan sang Hokage, Dilain pihak ia merasa
kasihan dengan sang Hokage, namun Dilain pihak ia sedikit membenarkan perasaan
sang Hokage yang terus saja menyalahkan dirinya sendiri.
" kau fikir aku begitu?" tanya Naruto sedikit mendongkakkan wajahnya berusaha
menatap Mizuto dengan tatapan tak bisa diartikan, tak terduga, air mata itu
ternyata sudah keluar entah sejak kapan.
" ya..tentu saja…. Anda sudah berusaha sebaik mungkin" ucap Mizuto berusaha
menemukan sedikit alasan agar sang Hokage sedikit mengampuni dirinya
sendiri.
Dan kalimat terakhir Mizuto pun berhasil mengembalikan kepercayaan diri sang
Hokage.
" Aku sangatlah bersyukur karena kau sudah menyelamatkan Hinata… aku tak tahu
apa yang harus kulakukan untuk bisa membalaskan budimu ini" ucap Naruto mengusap
air matanya dengan punggung tangannya, ia sangat merasa berterimakasih atas
usaha dan kerja keras kedua ANBU didepannya.
Tak ada perintah tak ada bayaran, mereka rela menghabiskan waktu mereka untuk
mencari kebenaran tentang Hinata, disaat yang lainnya bahkan dirinya sendiri
sebagai kekasihnya percaya bahwa Hinata telah benar-benar pergi, namun kedua
orang didepannya itu berbeda, mereka tak percaya dan melakukan penyelidikan,
Naruto tak tahu lagi bagaimana keselamatan Hinata jika tak ada orang seperti
Mizuto dan Han.
" sebenarnya saya melakukan ini karena saya masih merasa bersalah saat saya
gagal melindungi nona Hinata waktu itu…dan saya tidak mengharapkan apapun dari
anda, Hokage-sama" ucap Mizuto merendahkan diri, ia sungguh tak
mengharapkan apapun, didalam hati kecilnya, ia hanya merasa ia lah yang harus
bertanggung jawab terhadap insiden waktu itu.
" sudahlah… buat saja apa yang akan kuberikan adalah hadiah dariku peribadi"
ucap Naruto tersenyum kearah Mizuto, walaupun senyuan itu sedikit menyiratkan
kepedihan " nah sekarang apa yang kau inginkan?"
" kalau begitu….. berikan saja saya dan juga teman saya disamping saya ini
liburan selama 1 bulan penuh" ucap Mizuto tersenyum, ia membicarakan Han
disampingnya, tapi ia tak mengetahui sebenarnya Han sudah sejak tadi tertidur
gara-gara mendengar dongeng Mizuto tadi.
" baiklah…. Akan ku bicarakan dengan sasuke…" ucap Naruto mengangguk
mengiyakan permintaan ANBU didepannya yang tergolong mudah " ngomong-ngomong..
temanmu itu tidurnya pulas sekali?" tanya Naruto melirik kearah Han yang
tertidur sambil duduk.
"A-APA!?" Mizuto tak tahu menahu kalau Han ternyata tertidur, betapa
terkejutnya saat ia menolehkan kepalanya mendapati Han sedang tertidur pulas
dengan kepala terdongak keatas "eeehh! HAN!" bentak Mizuto kesal menepuk paha
sahabatnya itu , ia merasa malu dengan sang Hokage, mereka adalah ANBU elit,
seharusnya hal seperti ini tidak boleh terjadi.
"apa…e-ehh..ada apa?" Han terkejut tiba-tiba dibentak oleh Mizuto, namun saat
pandangan mata Han melihat kearah Mizuto, ia langsung menciut lantaran mendapati
Mizuto men-deathglare-nya.
" kau!" geram Mizuto kecewa terhadap sahabatnya itu seharusnya itu tidak
boleh terjadi!.
" sudahlah…tidak apa" ucap Naruto melerai kedua ANBU didepannya yang sedang
bertengar " kalian tak mau membangunkan Hinata bukan?"
" m-maafkan kami Hokage-sama" ucap Mizuto dan Han secara bersamaan,
mereka merasa bersalah karena melakukan tindakan yang tidak pantas didepan sang
Hokage.
" satu lagi yang ingin kutanyakan" ucap Naruto berubah menjadi serius, Mizuto
dan Han yang merasa ditatap Naruto dengan tatapan penuh arti pun langsung
terdiam dan berusaha berkonsentrasi dengan apa yang akan ditanyakan oleh Hokage
mereka.
" dimana sibrengsek itu?" tanya Naruto dengan nada penuh kemarahan.
" soal itu! Kita langsung menyerahkannya kepada divisi interogasi" ucap
Mizuto menjawab pertanyaan Naruto, seakan lupa dengan permasalahannya dengan
Han, han un langsung bernafas lega.
"begitu ya!" Naruto merasa lega karena orang yang telah menculik miliknya
telah ditempatkan ditempat yang tepat. "baiklah sekarang kalian boleh pergi"
ucap Naruto menyilangkan lengannya dan memperbolehkan kedua ANBU yang ia tahan
sejak pagi buta tadi untuk pergi.
" baiklah Hokage-sama" ucap Mizuto " tapi sebelumnya….saya ingin
memberitahu kondisi kesehatan nona Hinata"
" maksutmu?" tanya Naruto heran.
" begini… sepanjang perjalanan kulihat nona Hinata terus menerus memegangi
kepalanya… kami sudah berusaha membujuknya untuk mengatakan apa yang terjadi…
tapi dia selalu mengelak dan berkata kalau dia baik-baik saja" ucap Han
melanjutkan kalimat Mizuto.
" begitu!" ucap Naruto sedikit menghela nafas hah.. sepertinya sifat
keras kepalany tidak pernah berubah "kalau begitu, setelah dia terbangun
aku akan langsung menanyakannya tentang hal itu.." ucap Naruto sedikit melirik
kearah Hinata yang sedang tertidur sangat pulas diranjangnya.
" baiklah kalau begitu..Hokage-sama, kami pergi dulu" ucap kedua
ANBU tersebut lalu menghilang ditengah kepulan asap putih.
Hening kembali menyeruak setelah kepergian kedua ANBU penyelamat kekasihnya
itu, hanya suara keramaian kegiatan pasar di luar sana, sedikit menghela nafas
pelan sambil mendongakkan kepalanya berharap sesuatu bisa merelekskan kepalanya
untuk sesaat, bukannya ia tidak senang saat mendapati kenyataan bahwa kekasihnya
yang sejak sat tahun yang lalu meninggalkannya dan sempat tadi malam ia sangat
merindukannya, sekarang tengah terbaring pulas diranjangnya, tapi hanya
saja...perasaan merasa bersalah itu terus saja muncul.
Karena Naruto harus menjalankan tugas seorang hokage, Naruto pun langsung
bergegas mandi dan berganti pakaian dengan pakaian ninjanya yang bersih, serta
mengenakan jubah kebangaannya.
Jam menunjukkan pukul 8 pagi, mau tidak mau Naruto harus pergi meninggalkan
apartemennya, sedikit perasaan tak terima pun kembali muncul, ia ingin menemani
Hinata seharian, memandangi wajah manisnya yang telah 1 tahun tak dilihatnya,
menemaninya selagi ia tertidur, namun naas, pekerjaan menjadi seorang Hokage
tidaklah bisa dianggap remeh, sekali saja ia membolos, mungkin akan berakibat
lebih buruk padanya, mungkin kepalanya akan pecah lantaran terkena SHANAROO
Sakura, tidak! Gumamnya dalam hati membantah rencana menbolosnya.
Namun dengan berat hati, ia harus meninggalkan Hinata aku tak bisa
meninggalkan Hinata sendirian disini gumam Naruto memandangi wajah polos
Hinata yang tengah tertidur, sampai akhirnya ide itu muncul ahh kenapa aku
tak menggunakan bunshinku saja! Gumamnya lalu menerpalkan segel tangan lalu
POFF.
Munculan satu bunshin disamping Naruto, Naruto langsung mengutarakan
maksutnya kepada bunshin dirinya untuk menjaga Hinata selama ia pergi, ia
mewanti-wanti agar jangan sampai menyentuh Hinata, karena Hinata adalah
miliknya, huh…aku kan juga kau! Berarti dia juga milikku batin sang
bunshin yang merasa bosan diceramahi dan diwanti-wanti oleh dirinya yang asli
"KAU MENGERTI!" bentak Naruto yang asli karena mendapati sang bunshin menguap
bosan, "iya-iya!" ucap bunsin Naruto sambil memutarkan matanya tanda ia sangat
bosan
Setelah semua yang ia persiapkan untuk Hinata, dari makanan, sampai bunshin
untuk menjaga Hinata, hatinya tetap saja tidak rela meninggalkannya, namun
lagi-lagi dengan membayangkan si rambut pink itu saja langsung membuatnya
bergidik ngeri, terpasa ia harus tetap menjalankan tugasnya menjadi Hokage yang
sudah ia cita-citakan sejak kacil "kau! Jaga Hinata baik-baik..aku akan pulang 5
jam lagi!" Naruto mewanti-wanti bunshinnya lagi sebelum meninggalkan
apartemennya dan menutup pintunya BLAM!
O0O
Di ruang interogasi.
" dimana dia?"
" dia masih didalam ruang Interogasi bersama Ibiki, Hokage-sama"
jawab seorang berambut indigo dikucir menyerupai buah nanas, ya ia adalah
Mitarashi Anko, didepannya berdiri sang Hokage yang menanyakan tentang seorang
yang dibawa oleh dua orang ANBU kesini, "anda harus secepatnya memberitahu
kebenaran ini Hokage-sama" ucap Anko kepada Naruto yang tengah berjalan
melewati dirinya, ia sudah tahu tentang kebenaran Hinata karena ia juga ikut
menginterogasi Yuri.
" tidak! Aku akan memberitahu semuannya besok saja…dia masih lelah" ucap
Naruto lalu
CKLEK! , membuka pintu ruang interogasi
Yuri nampak kaget mendapati sesosok tinggi besar dengan jubah merah khasnya
telah memasuki ruang yang selama 4 jam ini telah digunakan untuk
mengintrogasinya, matanya tak berani menatap sang Hokage yang kapanpun siap
untuk menghajarnya.
" Hokage-sama" ucap Ibiki lalu berdiri dari duduknya dan langsung
membungkukkan badannya didepan sang Hokage, sementara Naruto hanya berjalan
melewati Ibiki yang masih menunduk, menatap tajam sosok didepannya yang tengah
duduk terborgol.
" apa yang kau dapat?" tanya Naruto kepada Ibiki dengan nada tegas sekaligus
berwibawa, lalu Naruto pun melangkah-kan kakinya menuju kursi kosong didepan
Yuri dan mendudukinya , Ibiki yang mendengarnya pun langsung menegakkan badannya
dan langsung menjawab pertanyaan sang Hokage.
" tidak banyak Hokage-sama…sepertinya ia tak membahayakan desa…"
ucap Ibiki menjelaskan sambil menatap kearah Yuri yang masih menunduk
" baiklah!…tinggalkan kami berdua" ucap Naruto menyuruh Ibiki keluar dari
ruang interogasi, ia ingin menanyakan beberapa hal kepada Yuri, sungguh ia masih
penasaran kenapa ia bisa bertindak nekat seperti itu, memang hinatanya cantik
dan manis, tapi apakan sampai gila seperti itu
" baiklah Hokage-sama" ucap Ibiki lalu melangkah-kan kakinya keluar
dari ruangan tersebut CKLEK suara pintu tertutup
Suasana begitu hening, tidak! Bahkan lebih hening, sunyi, menyeramkan, bahkan
bisa dibilang setelah pintu ruang interogasi tersebut ditutup oleh Ibiki,
ruangan itu langsung terpenuhi dengan aura membunuh yang kuat, hanya detikan jam
yang sepertinya mengeluarkan suara lebih keras dari biasanya, ditatapnya
tajam-tajam orang didepannya itu, jadi dia orangnya batin sang Hokage,
Naruto pun mulai beranjak dari duduknya dan berjalan mengitari Yuri, Yuri pun
hanya memejamkan matanya berharap rasa sakit dari rasengan yang akan dihadiahkan
untuknya akan sedikit berkurang.
TBC...
huh... mungkin chapter ini akan mengecewakan kalian semuannya...cuma
biss berharap tak terlalu buruk (T-T)
Sumber : https://www.fanfiction.net/s/9472296/8/Miss-You
keren kok min
BalasHapus